Libya Hentikan Pemberian Visa Bagi Warga Eropa

Libya pada hari Ahad kemarin (14/2) memutuskan untuk menghentikan pemberian visa bagi warga negara Eropa dari semua negara, seperti dilaporkan oleh surat kabar "Uya" melalui situs webnya.
Surat kabar yang dekat dengan Syaiful Islam, putra pemimpin Libya Muammar Gaddafi, tersebut mengutip pernyataan Syaiful Islam bahwa Libya secara resmi menghentikan pemberikan visa bagi warga negara Eropa, dan ia mengatakan bahwa prosedur ini berlaku untuk semua negara yang berhubungan dengan apa yang dikenal sebagao visa "Schengen", yang mencakup mayoritas masyarakat internasional Eropa.
Surat kabar "Uya" mencatat bahwa prosedur ini tidak berlaku bagi warga negara yang berasal dari Inggris.
Sebelumnya Swiss juga telah mengeluarkan keputusan untuk mencegah 180 warga Libya memasuki wilayah mereka, termasuk pemimpin negara itu Muammar Gaddafi beserta keluarganya dan termasuk juga putranya yang di gadang-gadang akan menggantikan posisinya menjadi presiden Libya - Syaiful Islam Gaddafi.
Surat kabar "Uya" menyebutkan bahwa sebelumnya Swiss telah memutuskan untuk mencegah masuknya 180 pejabat Libya ke Swiss, termasuk presiden Libya beserta keluarganya, hal ini terkait krisis politik antara Tripoli dan Bern.
Pada laporannya, situs web surat kabar "Uya" menyatakan bahwa badan otoritas Swiss telah mengeluarkan dekrit yang melarang 180-an pejabat Libya masuk ke wilayah mereka.
Diantara pejabat yang dilarang memasuki Swiss selain presiden Libya Muammar Gaddafi beserta keluarganya, termasuk anggota sekjen kongres rakyat (parlemen) dan anggota komite rakyat umum (kabinet), serta beberapa pejabat Libya dan beberapa ekonom, pimpinan militer dan keamanan. Namun tidak disebutkan kapan mulai berlakunya keputusan Swiss tersebut.
Pejabat Libya menyatakan bahwa keputusan Swiss tersebut hanya akan merugikan mereka, karena dengan adanya keputusan itu, akan menyebabkan gagalnya kesepakatan yang ingin diharapkan, serta mencegah terjadinya hubungan timbal balik di antara kedua negara.
Krisis politik meletus antara Tripoli dan Bern menyusul terjadinya penangkapan terhadap Hanibbal Gaddafi beserta istrinya, putra dari Muammar Gaddafi pada bulan Juli 2008 di Jenewa. Dan hubungan mereka semakin menegang setelah Libya membalas perlakuan Swiss terhadap Hanibbal Gaddafi dengan mengambil tindakan menarik aset-aset Libya dari bank-bank yang ada di Swiss. Sementara itu, Swiss menarik sejumlah perusahaan dan pembatasan yang dikenakan terhadap visa "Schengen" bagi warga Libya.(fq/alqudsalarabi)
Lainnya (Arsip)
- Obama Tunjuk Seorang Hafiz Quran Sebagai Wakil AS di OKI
Senin, 15/02/2010 09:56 WIB - Pertempuran Hari Kedua: 12 Warga Afghan Tewas oleh Serangan NATO
Senin, 15/02/2010 08:19 WIB - Taliban Umumkan 6 Tentara NATO Tewas di Helmand
Minggu, 14/02/2010 05:43 WIB - Guide Israel: Yang Membangun Piramida Mesir adalah Orang Yahudi
Sabtu, 13/02/2010 12:50 WIB - Balas Dendam Anak Syah Iran Kepada Rezim Mullah-Ahmadinejad?
Sabtu, 13/02/2010 12:46 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




