Mana Janji Anda Tentang Guantanamo, Mr Obama?

Presiden AS Barack Obama tidak menepati janji kampanyenya. Beberapa hari setelah kemenangannya, ia mengumumkan bahwa pusat penahanan Guantanamo Bay akan ditutup selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun setelah dia menjabat. Dua belas bulan kemudian, 198 narapidana masih mendekam ada tidak pernah ada kejelasan kapan penjara itu akan segera ditutup.
Dalam euforia kemenangan Obama, terlalu banyak orang memilih untuk mengabaikan sejarah, bahwa ketika akhirnya realitas kekuasaan bebricara, komitmen sering kali menjadi tumpul.
Gitmo tetap merupakan episode memalukan bagi Amerika Serikat, sebuah warisan beracun untuk Obama dari jabatan yang tidak kompeten dari George W. Bush dan inti kekuasaan Neocons. Karena dimanipulasi di luar hukum internasional, hal ini membuktikan sangat sulit untuk diuraikan memang.
Namun bagaimanapun, proposisi dasarnya tetap belum berubah. Dari 775 tahanan yang dikirim ke Gitmo sejak tahun 2002 dan seterusnya, ada beberapa disebut-sebut sebagai sekutu atau bagian dari jaringan Al-Qaidah. Semuanya dikurung di Gitmo dan bisa dibilang terisolasi dari peradaban.
Di Gitmo, yang ada hanya keyakinan bahwa orang-orang ini harus disimpan terkunci untuk jangka waktu tak terbatas. Yurisdiksi ini berarti para tahanan tidak memiliki jalan lain selain hukum yang ditawarkan oleh sebuah skema yang tertunda sejak lama untuk membawa ke pengadilan militer, dalam suatu proses yang secara umum dianggap bias dan merugikan.
Jika Obama mempunyai tekad baik, tetap selalu akan ada jalan keluar dari lubang hukum bahwa pemerintahan Bush telah menggali kubur untuk dirinya sendiri atau melepaskan dari jerat Gitmo. Amerika Serikat bisa sepenuhnya bergabung dengan Pengadilan Hukum PBB, umumnya dikenal sebagai Pengadilan Dunia. Menyerahkan mereka ke PBB, daripada menjadi koboi sendirian jelas akan memperbaharui martabat Amerika di dunia.
Mungkin ada dua alasan mengapa hal ini tidak terjadi. Yang pertama adalah bahwa Gedung Putih di era Bush tahu kelemahan dan bukti-bukti terhadap beberapa tahanan dan lebih siap untuk berbagi sumber-sumber intelijen rahasia yang berkaitan dengan orang lain. Yang kedua adalah bahwa dengan yurisdiksi Pengadilan Dunia sepenuhnya, ada kemungkinan bahwa warga negara AS, tidak sedikit orang militer, akan diseret di masa depan.
Jadi Gitmo, alih-alih menjadi tempat untuk memberantas penjahat, hanya akan menjadi noda yang mendalam bagi reputasi internasional Amerika. Obama seharusnya serius mempertimbangkan opsi Pengadilan Dunia setahun yang lalu. Dan, sekarang pun, sesungguhnya masih belum terlambat, daripada tidak sama sekali. (sa/arabnews)
Lainnya (Arsip)
- Erdogan Raih Penghargaan Internasional Raja Faisal
Rabu, 13/01/2010 08:20 WIB - Ahmadinejad: Dunia Harus Akui Iran Adalah Kekuatan Besar
Rabu, 13/01/2010 08:20 WIB - Perang Memang Mahal Dan Menyengsarakan, Amerika!
Rabu, 13/01/2010 07:07 WIB - Ulama Saudi: Bergabung Dengan Al-Qaidah Haram Hukumnya
Rabu, 13/01/2010 05:09 WIB - Erdongan: Israel Selamanya Mengancam Perdamaian Dunia
Selasa, 12/01/2010 17:04 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




