Mengapa AS Tak Akan Pernah Menang di Afghanistan?

Sabtu, 25/04/2009 10:54 WIB | Arsip | Cetak

Tahun 2009, Afghanistan sejenak bergeser dari "perang yang terlupakan", menjadi tanda-tanda awal perang kelalahan AS dan Nato. Direktur Intelijen Nasional, Dennis Blair memberikan gambaran besar tentang pencapaian AS dan Nato selama di Afghanistan. Dari laporan tersebut, didapatkan sebuah kesaksian yang dramatis.

Setengah tahun terakhir, Afghanistan telah berubah menjadi sebuah Negara yang benar-benar tak tertata karena kedatangan pasukan tentara asing. Kabul menjadi sangat agresif dan muram. Hanya ada sedikit kontrol dari pemerintahan, bahkan lembaga-lembaga swadaya masyarakat pun tak bisa berbuat banyak. Masyarakat Afghanistan telah patah arang kepada pemerintahan Karzai karena endemic korupsi yang luar biasa.

Keamanan pun menjadi harga yang sangat mahal, terutama jika berhubungan dengan tentara AS. Sejak kedatangan pasukan AS dan NATO untuk periode kedua kalinya pada 2007, lebih dari 3400 polisi Afghan tewas karena berbagai sebab. Namun, pasukan tentara AS dan NATO pun menghadapi Taliban yang liat luar biasa.

Menurut David Petreus, di National Review, Taliban adalah pasukan yang paling kompeten dan taktis yang pernah dihadapi oleh NATO. Dalam kondisi sekarang di mana rakyat Afghanistan berharap banyak pada Taliban, dimana Taliban mendapat dukungan besar dari rakyat Afghanistan, tak heran gerilya Taliban menjadi sesuatu yang semakin menakutkan.

Unit-unit kecil pasukan Taliban, seperti jebakan ranjau darat, pengintaian, dan pertahanan mereka sangat baik. Mereka jauh lebih terlatih dan berpengalaman daripada polisi Afghanistan sendiri.

Sepanjang rakyat Afghan terus bersandar pada Taliban, dan percaya pada kekuatan perjuangan Islam yang diusung, maka adalah sebuah keniscayaan jika pasukan AS tidak akan bisa berbuat banyak di bumi para Mullah itu. Pasukan AS boleh menghancurkan segala sesuatunya, tetapi mereka sama sekali tak akan pernah memenangkan perang di Afghanistan. David McKierna, komandan senior AS di Afghanistan mengatakan, "Dalam banyak hal, kami tak akan pernah menang perang." (sa/nr)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang