Mengapa Bush Melakukan Penyiksaan?

Senin, 15/06/2009 18:56 WIB | Arsip | Cetak

Apa tujuan utama dari penyiksaan? Semua orang tahu jawabannya: sadisme. Lazimnya, seseorang yang menikmati penderitaan orang lain akan menggunakan kekerasaan atau penyiksaan. Tapi ini sama sekali bukan alasan George W. Bush (dan Dick Cheney) yang memopulerkan penyiksaan ke abad 21.

Apologi yang didengung-dengungkan Bush sampai saat ini—dan juga menjadi justifikasi yang dipakai oleh suksesornya sekarang, Barack Obama—penyiksaan itu dilakukan untuk keselamatan Amerika.

Walaupun sejarah telah menunjukan bahwa penyiksaan sangat dikecam, dan perang adalah sebuah kejahatan, namun usaha Bush dalam meyakinkan rakyat AS bsia dibilang berhasil. Rakyat AS tadinya percaya apa yang dilakukan Bush sama halnya dengan prosedural kesehatan mereka belaka

Sekarang, rakyat AS mulai menyadari bahwa apologi Bush hanyalah sekadar apologi. Terungkapnya simpang-siur dan kisruh masalah penyiksaan yang dilakukan oleh AS sudah di luar batas kewajaran dan tidak manusiawi.

Rakyat AS mulai merasakan bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh AS—prosedur dan mekanismenya—lebih menyerupai obsesi gelap mata pada peristiwa WTC 9/11 dan perang yang penuh dengan kepura-puraan terhadap terror. Bush tampaknya kebingungan akan jawaban kepada rakyatnya perihal dalang 9/11—sesuatu yang tak pernah bisa diungkapkan oleh Bush bahkan sampai ia lengser delapan tahun kemudian setelah ia memberlakukan ‘perang terhadap terorisme’-nya.

Ada beberapa alasan mendasar yang dipakai oleh Bush. Pertama sekali, jelas yang paling utama adalah mencari pengakuan dari mereka yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap AS tersebut. Usaha ini juga termasuk meyakinkan semua anggota intelijen, seperti FBI, dan juga congress, dan publik, bahwa terorisme adalah sebuah ancaman resmi sehingga para pelaku penyiksaan tidak dihinggapi perasaan bersalah ketika melakukan perbuatannya.

Kenyataannya, setelah lima tahun berlalu sejak penyiksaan diberlakukan, apa yang didapatkan oleh AS? 9/11 tetap misteri dan tak terjawab. Semuanya yang berkaitan dengan 9/11 menjadi sumir dan penuh dengan kekhilafan, seperti halnya pemerintahan Bush. Dan rakyat AS mulai memahami itu. (sa/tnl)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang