Menteri Imigrasi Baru Inggris: Jilbab Dilarang di Sekolah

Hanya dua minggu di posisi barunya, menteri imigrasi baru Inggris, Phil Woolas, yakin bahwa hijab sebaiknya dilarang di sekolah-sekolah Inggris. Dan ini akan menjadi salah satu klausul yang akan masuk dalam undang-undang imigrasi baru Inggris.
"Penduduk yang mengenakan kerudung sebenarnya memiliki berbagai alasan. Ada yang karena kewajiban agama, ada juga yang karena terpaksa. Karena itu, soal kerudung harus dikembalikan kepada si pemakai," ucap sang menteri kemarin lusa.
"Tapi, di sekolah jangan dipakai. Karena ini bisa mempersulit proses belajar siswa."
Hijab sebenarnya merupakan bentuk ketaatan seorang wanita muslim kepada agamanya. Bukan simbol yang menunjukkan salah satu afiliasi agama Islam.
Di tahun 2004, bahkan Prancis melarang jilbab di tempat-tempat publik. Dan hal itu akhirnya diikuti oleh negara-negara Eropa lain.
Woolas yang setelah diumumkan namanya menjadi menteri sejak 3 Oktober dengan adanya reshufle kabinet, sebenarnya mendukung sekolah-sekolah muslim yang ada di negara-negara Eropa.
"Tapi, sekolah harus mengurangi adanya jurang perbedaan. Mereka harus belajar tentang seluruh keyakinan. Murid-murid dari berbagai agama pun harus diizinkan masuk. Dari situ, perilaku ekslusif akan berkurang," ucap sang menteri.
Woolas yakin bahwa muslimah di Inggris harus punya pijakan dalam bursa tenaga kerja, walaupun pekerjaan itu bertentangan dengan budaya mereka.
Saat ini, di Inggris berdomisili kurang lebih 2 juta warga muslim.
Aturan Ketat

Sang menteri mengatakan bahwa dia harus memperketat peraturan soal imigrasi. Hal ini untuk memperkecil jumlah imigran yang masuk ke Inggris.
"Mungkin mudah masuk Inggris di masa lalu. Tapi, akan sulit di masa akan datang," ucapnya meyakinkan.
Woolas mengatakan, krisis ekonomi global yang saat ini terjadi telah menjadikan imigrasi sebagai isu yang sangat serius.
"Sedemikian jelasnya bahwa penduduk menjadi pengangguran. Karena itu, aturan soal imigrasi menjadi persoalan yang bukan sederhana lagi."
Pengangguran di Inggris rata-rata melonjak dalam delapan tahun terakhir sebesar 5,7 persen.
"Harus ada keseimbangan antara warga pendatang dengan warga asli," tambah sang menteri. (mn/Io)
Lainnya (Arsip)
- Tahfiz Quran di TV Afghanistan
Senin, 20/10/2008 12:18 WIB - Lima Negara Terpilih Jadi Anggota Dewan Keamanan PBB
Sabtu, 18/10/2008 12:46 WIB - Amina Wadud Imami Salat Jumat, Muslimah Inggris Protes
Sabtu, 18/10/2008 12:18 WIB - IUMS Minta Iran Ikut Berperan Aktif Cegah Konflik Sektarian Sunni-Syiah
Jumat, 17/10/2008 16:19 WIB - Dilema Dokter di Irak, Bawa Senjata untuk Melindungi Diri
Jumat, 17/10/2008 15:12 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




