Mesir Menjadi Negara yang Paling Represif Terhadap Blogger

Sebuah laporan oleh Jaringan Informasi HAM Arab menyatakan bahwa pemerintah di negara-negara Arab lebih banyak membatasi pengguna internet, dan melakukan tindakan represif terhadap aktivis blogger, mulai dari penahanan hingga tindakan penyiksaan, dan tercatat bahwa Arab Saudi dan Tunisia di garis terdepan dalam persoalan sensor internet, sementara Mesir memimpin dalam soal penindasan terhadap blogger.

Jaringan informasi HAM Arab menggelar konferensi pers di Mesir pada Kamis lalu (24/12) bersama dengan sindikat Wartawan di Kairo, secara resmi mengumumkan laporan yang berjudul: "jaringan sosial dan satu pemberontak dengan sebuah misi," melaporkan sikap pemerintah di 20 negara Arab yang membatasi kebebasan untuk menggunakan internet, meningkat dua negara dari laporan yang pertama, yaitu, Somalia dan Mauritania, menurut Direktur Eksekutif Gamal Eid dari jaringan informasi HAM Arab.

Eid mengatakan bahwa laporan mereka berisi bab khusus pada alat yang biasa dikenal sebagai situs-situs berbasis "Web 2.0" seperti Facebook,Twitter dan YouTube serta blog, dan alat-alat interaktif lainnya di situs Web.

Amr Magdi, salah satu peneliti kunci yang menyusun laporan menekankan bahwa ada pertumbuhan yang sangat cepat terhadap jumlah pengguna internet di negara-negara Arab, disebabkan adanya peningkatan kesadaran anak-anak muda dalam menggunakan Internet, tidak lagi hanya sebagai sarana hiburan atau penelitian.

Pada bagian lain, peneliti Shahinaz Abdel-Salam mengatakan bahwa blogger Arab tumbuh dalam jumlah yang tinggi setiap hari, dan ia mencatat bahwa ada sekitar 600 ribu blogger warga Arab, sekitar 150 ribu yang aktif."

Dia menjelaskan bahwa beberapa blogger Arab telah mulai muncul dari bawah kodifikasi pribadi dan isu-isu sosial yang ditujukan untuk menangani isu-isu politik, seperti di Saudi Arabia, Maroko dan Tunisia.

Namun, ilmuwan Mesir mengatakan bahwa secara keseluruhan melakukan blogging di banyak negara-negara Arab sebagai akibat kegagalan politik, menunjukkan bahwa forum elektronik masih menarik sebagian besar perhatian dan partisipasi.

Laporan berjumlah 235 halaman tersebut mencakup semua negara-negara Arab kecuali Djibouti dan Komoro, dan laporan mencakup 24 bab yang meliputi realitas Internet di 20 negara-negara Arab.

Laporan menunjukkan bahwa Arab Saudi dan Tunisia di garis terdepan dalam hal sensor internet, sementara Mesir merupakan garda garis depan yang melakukan penekanan terhadap aktivis internet.

Laporan ini berfokus pada pengguna Internet di negara-negara Arab, khususnya kaum muda, yang telah biasa menggunakan situs dan blog, Facebook, Twitter dan YouTube, dalam perjuangan mereka untuk merebut hak untuk menyatakan pendapat dan mengungkapkan korupsi dan penindasan di dunia Arab.

Laporan ditujukan apa yang disebut sebagai kondisi pembatasan yang dikenakan oleh sebagian besar pemerintah Arab terhadap pengguna internet, maupun tindakan yang dilakukan terhadap mereka, yang berkisar dari penculikan, penyiksaan dan penahanan di bawah keadaan darurat seperti di Mesir dan Suriah, untuk maklumat keagamaan dengan menutup beberapa situs yang telah menyelinap melalui penyaringan di Arab Saudi, menurut laporan itu.

Laporan ini mengatakan bahwa pengguna Internet di Libanon, Aljazair dan Somalia memiliki relatif kebebasan.

Peningkatan jumlah pengguna Internet di dunia Arab, di mana angka tersebut dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, telah meningkatkan penindasan dan pelecehan terhadap para penggunanya.

Laporan menambahkan bahwa negara-negara seperti Saudi Arabia, Tunisia dan Suriah, termasuk negara-negara yang terlibat dalam "penyaringan ketat" terhadap situs Internet , sementara Mesir telah menghentikan kebijakan memblokir website lima tahun yang lalu, namun menjadi negara "yang paling represif terhadap aktivis internet dan blogger."(fq/iol)

Sabtu, 26/12/2009 12:31 WIB | email | print | share
 

Dunia Lainnya

 
 
Dunia
membuka hati dan pikiran kita
 
   
 
 
 

PELUANG

 
 
 

Agus Setiawan : Treasury Syariah Perlu Komitmen!
Masih kurangnya perhatian perbankan syariah mengenai masalah Treasury (asset and liability management) membuat Agus Setiawan selaku candidate CIBF (Certified Islamic Banking a...

Owner Manet: Bank Syariah Harus Bangun Relationship
Bank syariah rupanya masih dipandang belum sesempurna bank konvensional di kalangan pebisnis. Mereka sudah merasa aman dengan ‘hanya’ menitipkan dana pribadi ke ba...

iB Raih ?The New Wave Currency? Marketeers Award 2010 di IIMS
Perbankan Syariah Bank Indonesia memperoleh  penghargaan sebagai The New Wave Currency oleh MarkPlus, Inc bekerja sama dengan Marketeers pada pameran Indonesia International ...

Bank Muamalat Indonesia Selesai Right Issue, Saatnya Tingkatkan Asset
Right Issue Bank Muamalat Indonesia (BMI) telah selesai dilaksanakan dengan total capaian Rp673 milYar. Komposisi pemegang Saham yang berhasil dilakukan adalah IDB 32%, SETCO ...

 
 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Ibu Mertua (Nenek) Yang Mengatur Pengasuhan Bayi

Saya ingin mengasuh bayi saya sendiri tanpa harus ada campur tangan mertua, terlebih lagi mertua saya terlalu memanjakan bayi saya, keluar areal rumah ndak dikasi, bahkan hanya untuk berkunjung ke tetangga ndak boleh.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Kuliah Perdana UK

Apa itu UK ? United Kingdom ? Bukan ! Di ACT, UK jadi akronim dari Universitas Kerelawanan. UK adalah salah satu program ACT untuk membina dan mengorganisir masyarakat relawan di seluruh Indonesia.

 
 
 
 
Eramuslim Digest Outlet Video Mobile Webmail Index Search
Registrasi Login