Muslim Malta Menolak Penutupan Tempat Ibadah Mereka

Puluhan warga Muslim Malta berkumpul melakukan aksi unjuk rasa protes atas ditutupnya tempat ibadah mereka di sebelah timur laut kota Sliema.
"Kami semua berkumpul disini untuk Sholat," kata pimpinan kelompok Muslim tersebut kepada sebuah media Malta pada hari Jumat yang lalu.
Dengan menggunakan pakaian tradisional, mereka berkumpul bersama pada hari Jumat lalu sepanjang depan sliema untuk menuntut di bukanya kembali sebuah flat yang biasa mereka gunakan untuk melakukan Sholat.
Flat tersebut telah ditutup oleh pihak otoritas Lingkungan dan Perencanaan kota Malta (Mepa), karena dianggap tidak memiliki izin.
"Sejak kapan anda memerlukan ijin untuk beribadah?" tanya pimpinan Muslim Malta.
Dia mengatakan bahwa kaum Muslim Malta memiliki ijin untuk sholat di flat tersebut atas perlindungan polisi.
Bader Zina yang merupakan pimpinan kelompok Muslim tersebut mengatakan bahwa Mepa juga menutup flat yang lain di wilayah Bugibba dimana kaum Muslimin sering menggunakan flat tersebut sebagai tempat berkumpul untuk melakukan ibadah Sholat.
"Saya tidak melihat ada penutupan pada kelompok keagamaan yang lain," katanya.
"Dan saya memiliki tetangga yang beragama Katolik dan mereka sering melakukan ibadah dengan bernyanyi tapi mereka tidak mendapat hambatan."
Tidak ada angka resmi mengenai jumlah penduduk muslim di Malta, yang merupakan sebuah negara kepulauan dengan populasi sekiatr 400.000 orang.
Beberapa penduduk Malta mendukung penutupan tempat ibadah umat Islam tersebut.
"Malta adalah negara katolik," kata salah seorang penduduk Malta.
"Mereka tidak punya hak untuk datang kemari dan beribadah didepan kita. Saya tidak peduli apa yang mereka lakukan di dalam rumah mereka sendiri, tetapi tidak disini."
"Mereka harus pergi ke masjid, itulah tempat ibadah milik mereka."
Namun banyak warga malta yang membela umat Islam atas hak mereka untuk beribadah.
Seorang pemilik toko mengatakan bahwa dia tidak punya masalah dengan mereka dan beberapa teman mereka dan klien mereka.
Warga lain mengatakan bahwa kaum Muslimin Malta beribadah tidak mengganggu dirinya dan tidak menimbulkan kebisingan.
"Saya tidak melihat ada masalah dengan mereka."
"Mengapa mereka tidak boleh keluar rumah untuk melakukan ibadah Sholat jika kita sendiri dapat melakukan perayaan yang bising dan sambil mabuk-mabukan?"(fq/iol)
Lainnya (Arsip)
- Lembaga AS Tarik Buku Mewarnai Anak-Anak dari Situsnya
Sabtu, 02/05/2009 11:38 WIB - Yang Paling Ditakuti AS Saat ini: Al Qaida dan Iran
Jumat, 01/05/2009 17:22 WIB - Raja Abdullah Berang, Difitnah Pejabat AS
Jumat, 01/05/2009 16:28 WIB - Sudan dan Chad Menyepakati Perdamaian di Doha
Jumat, 01/05/2009 14:16 WIB - Obama dan Netanyahu: Duet Pemimpin Baru
Jumat, 01/05/2009 13:12 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




