Muslim New York Unjuk Rasa, Tuntut Hari Libur Saat Idul Fitri

Komunitas Muslim Staten Island, New York menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Dewan Kota, Rabu (30/6). Mereka menuntut agar Dewan Kota dan Departemen Pendidikan menyetujui usulan agar kalender pendidikan memasukkan hari libur sekolah selama dua hari pada raya Idul Fitri.
Usulan itu sudah diajukan sejak setahun yang lalu, tapi Dewan Kota tidak mau mengakui Hari Raya Idul Fitri sebagi hari besar dan diliburkan agar siswa sekolah yang muslim bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga mereka di rumah.
"Kehilangan dua hari sekolah setiap tahun tidak merugikan. Ini soal keadilan. Islam adalah agama yang berkembang pesat di kota ini, mengapa kita diberi hak yang sama dengan agama-agama lainnya," kata seorang muslimah berjilbab Khaleda Aketer yang ikut berunjuk rasa di depan Dewan Kota.
Pejabat kunci yang menentukan nasib usulan itu adalah Walikota New York Michael Bloomberg. Ia sudah menyatakan menolak usulan tersebut dan tidak akan mengubah keputusannya. "Saya bersimpati, tapi kenyataannya, kita membutuhkan lebih banyak lagi hari sekolah, tidak lebih," tukas Bloomberg.
Aksi unjuk rasa di Dewan Kota bukan hanya dihadiri oleh komunitas Muslim tapi juga sejumlah warga non-Muslim yang memberikan dukungan agar Idul Fitri--hari besar umat Islam--dijadikan hari libur selama dua hari.
"Kami hanya ingin diakui, diikutsertakan dan dihormati seperti kelompok agama lainnya," kata Hesham El-Meligy, warga Springville dan ketua Coalition of Muslim School Holidays, di sela-sela aksi.
Dalam kalender pendidikan sekolah-sekolah AS, hari-hari besar agama Kristen dan Yahudi sudah dinyatakan sebagai hari libur, tapi tidak untuk hari-hari besar agama Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Namun atas dasar kebijakan Departemen Pendidikan, siswa Muslim dibolehkan izin tidak masuk sekolah pada hari raya Islam, dengan syarat mereka harus mengatur jadwal dengan para guru untuk mengganti jam pelajaran yang hilang.
El-Meligy mengungkapkan, jumlah komunitas Muslim di Staten Island sekitar 25.000-35.000 orang. "Jumlah Muslim di wilayah ini meningkat pesat. Mereka bukan hanya datang dari luar negeri, tapi juga datang dari kawasan lainnya seperti Brooklyn dan Queens," ujar muslim asal Mesir itu.
El-Meligy menyatakan optimis, suatu saat Departemen Pendidikan akan memberikan perhatian atas usulan dari warga Muslim. "Jika tidak dibawah perintah Bloomberg, mungkin penggantinya kelak," tandasnya. (ln/isc)
Lainnya (Arsip)
- Gunakan Pidato Hitler Sebagai Ringtone, Pria Jerman Dituntut Hukuman Penjara
Kamis, 01/07/2010 12:21 WIB - Iran Luncurkan Game Online Pertama
Kamis, 01/07/2010 12:20 WIB - Iran Nyatakan Boikot Terhadap Coca Cola dan Produk-produk Zionis Lainnya
Kamis, 01/07/2010 10:34 WIB - Para Ulama Berencana Berlayar ke Gaza Dengan Armada Baru Turki
Kamis, 01/07/2010 10:22 WIB - Menlu Iran: Dukung Sanksi Nuklir Iran, AS, Inggris dan Prancis Pantas Kalah di Piala Dunia
Kamis, 01/07/2010 07:57 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




