Nama Anda Shah Rukh Khan? Sayang Sekali!

Selasa, 25/08/2009 13:47 WIB | Arsip | Cetak

Manusia terlahir bebas, namun kemudian, ia dirantai dimanapun, begitu ratap Jacques Rousseau, filosofer asal Prancis. Berdasarkan pernyataan Roussou, maka para pendiri Negara Amerika pun membangun Kemerdekaan, Persamaan dan Keadilan sebagai dasar konstitusi mereka. Untuk itu, Thomas Jefferson, menlu AS pertama dan presiden AS ketiga, bertanggung jawab besar akan hal ini. “Semua orang dilahirkan sama adanya.” Ujarnya. Perkataan Jefferson bahkan dijadikan sebagai pembuka dalam Deklarasi Kemerdekaan AS.

Dan entah apa yang ada di benak para pendiri AS—termasuk Jefferson salah satunya—jika mereka melihat apa yang terjadi pada negaranya, sehubungan dengan perhelatan sirkus dari resepsi penyambutan Shah Rukh Khan—duta besar Bollywood India di AS. Shah Rukh Khan adalah satu dari tiga superstar yang oleh majalah Time dianggap sebagai aktor paling populer sepanjang tahun lalu, bersama Will Smith dan Tom Cruise.

Beberapa pekan ini, Shah Rukh Khan tengah menjalani syuting film terbarunya di AS, My Name is Khan. Tidak tanggung-tanggung, film ini didukung oleh 20th Century Fox dan Star yang dimiliki Rupert Murdoch (itu, Yahudi pemilik News Corporation, salah satu perusahaan media terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Perusahaan yang dimiliki News di antaranya adalah FOX dan HarperCollins di Amerika Serikat dan BSkyB di Britania Raya).

Film ini akan menceritakan pencarian jati diri seorang Muslim India di AS yang terjebak kegilaan setelah peristiwa 11 September 2001 silam. Ada yang mengejutkan karena ketika Khan tengah berada di bandara Newark, ia ditahan dan diperlakukan dengan buruk, layaknya preman. AS jelas mencurigai namanya yang berakhiran Khan. Shah Rukh Khan jelas seorang Muslim namun ia menikahi seorang Hindu dan dua orang anaknya diperbolehkan untuk mengikuti dua agama Islam dan Hindu secara bersamaan. Dengan gaya liberal seperti itu, Khan tak mungkin mengganti namanya yang identik dengan Islam dalam okasi resmi seperti di bandara, dan itu sudah cukup menjelaskan sikap AS sebenarnya kepada Islam.

Alih-alih tidak mengetahui yang ditangkapnya itu adalah seorang yang tak jelas keberpihakannya terhadap Islam atau apa, dan di negaranya dijuluki “King Khan” –popularitas Khan di India mungkin sama dengan Michael Jackson di AS, itulah yang terjadi pada ribuan orang Arab, Muslim, dan bahkan orang Asia yang non-Muslim. Hanya mungkin tak banyak dilaporkan di media.

Episode Newark membuka jutaan umat manusia, dan dunia, karena ini menyangkut seorang ikon popular macam Shah Rukh Khan, yang sering berkunjung ke AS dan Barat. Namun, bagaimana dengan ribuan orang Muslim lainnya yang selalu menghadapi tekanan seperti ini di setiap perbatasan, darat, maupun laut, dan bandara?Mengapa diam? Berdasarkan Kaukus Hukum Asia, Muslim Amerika menjadi target utama penggeledahan, interogasi, dan terutama setelah melakukan perjalanan ke luar negeri.

Deepa Iyer, seorang penulis AS menulis, “Insiden Khan mendapat sorotan internasional karena dia seorang selebriti, tapi sesungguhnya warga negara AS dan para imigran yang tongkrongannya mendekat isyu agama dan rasial, selalu menderita setiap kali berurusan dengan bandara.”

Shah Rukh Khan ketika itu langsung dibela oleh para pembesar India. Bagaimana dengan mereka yang kebetulan bernama akhiran Khan, Sheikh dan Muhammad? Siapa yang membelanya? Beberapa sudah tenggelam dan dilupakan, seperti Maher Arar yang disiksa di Syria dengan dugaan tersangka teroris, padahal ia hanya melakukan liburan keluarga ke Tunisia pada tahun 2002.

Perang Amerika terhadap terror begitu membabi buta, mengerikan dan tak tahu akan berakhir dimana. Lebih dari jutaan orang telah terbunuh di Iraq dan Afghanistan, termasuk orang Amerika sendiri. Untuk apa? Tak ada yang tahu. Bahkan orang Amerika sendiri merasa bingung dan bodoh dengan ide ini. Dalam pelantikan bersejarahnya, presiden Barack Hussein Obama menjanjikan langkah baru dengan dunia, terutama dengan kaum Muslim. Inilah waktunya untuk membuktikan Amerika bergerak dan berubah, Mr. Presiden! Seharusnya sudah tak ada lagi pertanyaan, “Nama Anda Khan? Sayang sekali!” (sa/plstnchrncl)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang