Nasib Anak-Anak Afghan di Tengah Perang

Kamis, 30/04/2009 10:56 WIB | Arsip | Cetak

Saat ini, anak-anak Afghanistan menjadi anak-anak yang paling menderita di seluruh dunia. Mereka terjepit dalam perang dan kelaparan, juga tak jarang menjadi korban bom serta ranjau. Dalam perang tak berdasar AS terhadap Taliban, anak-anak Afghan terperangkap sedemikian rupa, dan menjadi korban terlupakan. Parahnya, kondisi mereka pun diabaikan oleh pemerintahan Afghanistan sendiri.

Kabul, ibukota Afghanistan, dengan segera telah menjadi ibukota paling gelap dan kumuh di dunia. Sedikit fasilitas dan jika pun tersedia, hanya dimiliki oleh orang-orang berduit atau staf pemerintahan saja. Jalanan yang berdebu dilintasi oleh limusin dan mobil sedan mewah lainnya, sungguh kontras dengan kondisi sekelilingnya yang dipenuhi oleh anak-anak yatim, tak bersekolah, mengerjakan apa saja untuk bisa makan, juga kadang tak mengenal siapa orang tua atau kerabatnya.

Dan untuk semua itu, kedatangan AS pada awal 2001 atas nama pemberantasan teroris setelah kejadian 9/11, menjadi awal peristiwa; rakyat Afghan menanggung sesuatu yang tak mereka lakukan.

Salah satu pilihan hidup anak-anak Afghanistan adalah menjadi pemulung sampah. Setelah seharian, mereka akan menjualnya dengan harga murah.

Layaknya anak-anak, mereka membutuhkan area untuk bermain. Namun Kabul telah hancur, dan sungguh susah menemukan arena bermain atau taman. Al hasil mereka pun bermain dengan tank bekas yang hancur.

Tak ada sekolah. Sekolah hanya untuk anak-anak orang kaya dan pejabat pemerintahan. Anak-anak menengah ke bawah harus terdepak ke jalan, mencari makan untuk dirinya sendiri, seperti berjualan seperti bocah-bocah ini yang berjualan penganan khas Afghanistan. Celakanya, jumlah anak-anak menengah ke bawah, tentu saja jauh lebih banyak daripada mereka yang menjadi anak pebajat atau anak orang kaya di Afghan.

Lebih dari 10 ribu anak yang berusia di bawah 9 tahun telah menjadi kuli di pabrik-pabrik batu-bata yang banyak tersebar di seantero Afghanistan.

Pilihan terakhir: menjadi pengemis. Karena tak lagi punya kaki kena ranjau atau bom, tak punya ayah ibu dan sanak saudara lain, akhirnya satu-satunya yang bisa dilakukan oleh (anak) anak Afghanistan ini mengharapkan iba orang lain.

(sa/rw)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang