Nasib Anak-Anak Afghan di Tengah Perang
Saat ini, anak-anak Afghanistan menjadi anak-anak yang paling menderita di seluruh dunia. Mereka terjepit dalam perang dan kelaparan, juga tak jarang menjadi korban bom serta ranjau. Dalam perang tak berdasar AS terhadap Taliban, anak-anak Afghan terperangkap sedemikian rupa, dan menjadi korban terlupakan. Parahnya, kondisi mereka pun diabaikan oleh pemerintahan Afghanistan sendiri.
Kabul, ibukota Afghanistan, dengan segera telah menjadi ibukota paling gelap dan kumuh di dunia. Sedikit fasilitas dan jika pun tersedia, hanya dimiliki oleh orang-orang berduit atau staf pemerintahan saja. Jalanan yang berdebu dilintasi oleh limusin dan mobil sedan mewah lainnya, sungguh kontras dengan kondisi sekelilingnya yang dipenuhi oleh anak-anak yatim, tak bersekolah, mengerjakan apa saja untuk bisa makan, juga kadang tak mengenal siapa orang tua atau kerabatnya.
Dan untuk semua itu, kedatangan AS pada awal 2001 atas nama pemberantasan teroris setelah kejadian 9/11, menjadi awal peristiwa; rakyat Afghan menanggung sesuatu yang tak mereka lakukan.
Salah satu pilihan hidup anak-anak Afghanistan adalah menjadi pemulung sampah. Setelah seharian, mereka akan menjualnya dengan harga murah.
Layaknya anak-anak, mereka membutuhkan area untuk bermain. Namun Kabul telah hancur, dan sungguh susah menemukan arena bermain atau taman. Al hasil mereka pun bermain dengan tank bekas yang hancur.
Tak ada sekolah. Sekolah hanya untuk anak-anak orang kaya dan pejabat pemerintahan. Anak-anak menengah ke bawah harus terdepak ke jalan, mencari makan untuk dirinya sendiri, seperti berjualan seperti bocah-bocah ini yang berjualan penganan khas Afghanistan. Celakanya, jumlah anak-anak menengah ke bawah, tentu saja jauh lebih banyak daripada mereka yang menjadi anak pebajat atau anak orang kaya di Afghan.
Lebih dari 10 ribu anak yang berusia di bawah 9 tahun telah menjadi kuli di pabrik-pabrik batu-bata yang banyak tersebar di seantero Afghanistan.
Pilihan terakhir: menjadi pengemis. Karena tak lagi punya kaki kena ranjau atau bom, tak punya ayah ibu dan sanak saudara lain, akhirnya satu-satunya yang bisa dilakukan oleh (anak) anak Afghanistan ini mengharapkan iba orang lain.
(sa/rw)
Lainnya (Arsip)
- Flu Burung, Flu Babi, Sebuah Tanda Tanya
Kamis, 30/04/2009 10:06 WIB - Antisipasi Flu Babi: Pemerintah Mesir Bersihkan Negerinya dari Babi
Kamis, 30/04/2009 09:17 WIB - Anak-anak Al-Qaidah Serukan Jihad Untuk Lawan Tentara Musuh
Kamis, 30/04/2009 08:39 WIB - Ikhwan : Virus Flu Babi Lebih Serius daripada Bom Hidrogen
Kamis, 30/04/2009 06:00 WIB - Beri Selamat Israel, Mesir Akui Negara Israel
Kamis, 30/04/2009 05:41 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




