• Senin, 26 Ramadhaan 1431/ 6 September 2010
 
 

Pakar: Lebanon Akan Kehabisan Air Pada Tahun 2015

Seorang pria Lebanon menunjuk air yang tercemar yang mengalir ke sungai di Kfarshima Rumah Rose Hatem menghadap ke Mediterania dan berjarak sangat dekat dengan salah satu sungai terpanjang di Libanon. Namun dua kali dalam seminggu ia harus membeli air untuk kebutuhannya sehari-hari.

"Saya telah membeli air sejak saya pindah ke sini 14 tahun yang lalu," kata Hatem kepada AFP di desa Amsheet, sebelah utara ibukota Libanon Beirut. "Pada musim panas, ketika permintaan air tinggi, saya sering tidak mendapatkan air."

Kisah Hatem merupakan kisah yang berulang di lebanon, salah satu dari sedikit negara-negara di Timur Tengah yang dianggap relatif kaya dalam air. Tetapi banyak orang masih harus membeli air karena kurangnya jaringan penyediaan yang layak dan konservasi yang efektif.

Para ahli memperingatkan bahwa Libanon harus segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi sumber daya air yang sangat berharga mereka, jika tidak hanya sedikit air tersisa untuk generasi mendatang di Libanon, yang saat ini berpopulasi sekitar empat juta jiwa.

Fadi Comair, yang mengepalai hidrolik dan sumber daya listrik pada pelayanan energi dan air, mengatakan bahwa jika masalah tersebut tidak ditangani dengan cepat, Libanon bahkan bisa kering dalam waktu empat tahun.

"Tidak ada solusi yang ajaib," katanya. "Kita perlu untuk membangun bendungan, danau buatan, jaringan air baru dan bekerja bahu membahu dengan sektor swasta.

"Jika Anda mempertimbangkan peningkatan penduduk dan perubahan iklim, kita punya cukup air untuk empat tahun terakhir, sampai tahun 2015," kata Comair.

Hal ini adalah peringatan bagi penduduk yang paling keras dan menyakitkan.

"Ketika kami merayakan Hari Air Dunia pada Senin lalu, kami harus bercermin pada kenyataannya bahwa Lebanon harus mengekspor sumber ini kemudian duduk dan menonton air perlahan-lahan berkurang," kata Antoine Issa, kepala dewan lokal di Amsheet.

"Air adalah sebuah berkah dan kita tidak tahu bagaimana untuk mempertahankannya."

Lebanon merupakan negara kecil yang berbatasan dengan Suriah dan Israel memiliki tidak kurang dari 40 sungai besar, 2.000 mata air dan banyak air terjun yang setiap tahun terbentuk karena pencairan salju.

Namun perang sipil tahun 1975-1990 dan kerusuhan politik telah menurunkan isu air ke belakang. Hak-hak air juga merupakan sumber sengketa tetap antara Lebanon dan Israel, di mana sumber daya air menjadi semakin lebih langka.

Comair mengatakan lebanon setiap tahunnya memiliki rata-rata 2,1 miliar meter kubik (73,5 milyar kaki kubik) dari sumber daya hidrolik terbarukan.

"Kami menggunakan sekitar satu miliar sumber daya itu sebagai air minum atau untuk irigasi dan keperluan industri," kata Comair. "Sisanya, yang berarti lebih dari setengah, dibuang di Mediterania."

Fakta menyatakan bahwa sebagian besar limbah negara disalurkan ke laut daripada di daur ulang dan hal ini menjadi masalah bagi lebanon, katanya.

"Bukan hanya kita mencemari Mediterania, tetapi air ini sangat bernilai ekonomis dan dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan lain," kata Comair.

"Sebaliknya kita akhirnya menggunakan air bersih untuk irigasi, dan itu merupakan bencana."

Para ahli juga mengatakan bahwa banyak sungai, termasuk sungai Nahr al-Kabir dan Orontes yang dibagi bersama antara Lebanon dan Suriah dan sungai Wazzani dan Hasbani, belum dieksploitasi, sebagian karena lokasi strategis mereka.

"Air adalah isu politik yang sensitif dan memang benar bahwa setiap upaya oleh negara untuk mengeksploitasi sungai-sungai di selatan akan bertemu dengan reaksi keras dari Israel," kata Nadim Farajalla, profesor hidrologi dan air di American University of Beirut.

"Tapi kalau kami tidak melakukan apa-apa di sana akan datang suatu masa di mana masyarakat internasional akan mengatakan kepada kami bahwa kami telah kehilangan hak untuk mengeksploitasi air ini," tambahnya.

"Kami tidak memiliki visi global terhadap air dan sangat buruk dalam mengelola sumberdaya ini."

Sebuah contoh yang menyedihkan adalah adanya masalah di Akkar wilayah utara Lebanon, salah satu wilayah negara paling miskin, di mana hanya 54 persen dari rumah penduduk yang terhubung ke sumber air publik meskipun daerah tersebut kaya dengan air bawah tanah.

"Bahkan orang-orang yang terhubung dengan sumber air tidak selalu memiliki infrastruktur air karena sudah begitu usang dan ada kebocoran besar," kata Aisha Mushref, yang bekerja pada "Mada", sebuah organisasi non-pemerintah yang melakukan sebuah kajian mengenai masalah air di Lebanon dengan judul "Akkar yang Terlupakan. "

"Orang-orang di wilayah ini tetap harus pergi dan mengambil air dari sungai."(fq/aby)

Senin, 22/03/2010 16:21 WIB | email | print | share
 
 
 
 

Dunia Lainnya

Dunia
membuka hati dan pikiran kita
 
   
 
 

PELUANG

 
 
 

Simulasi Tabungan Rencana
Menabung adalah bagian dari perencanaan keuangan untuk masa depan. Namun, terkadang dengan segala kebutuhan dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari terkadang menabung adalah ...

Kartu ATM SiAga Syariah
Fasilitas layanan kepada nasabah untuk melakukan transaksi perbankan dengan perangkat mesin ATM (Automated Teller Machine) yang dimiliki atau ditunjuk oleh Bank Bukopin a. Man...

Giro Utama iB
Giro Utama iB, adalah rekening koran wadiah dari Bank Mega Syariah yang memungkinkan Anda mengelola dana dengan nyaman sesuai kebutuhan. Menyimpan dana sesuai syariah dan mend...

BNI Syariah KC Jaktim Sukses Galakkan Tabungan iB Masuk Sekolah
Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Kantor Cabang Jakarta Timur melalui Tabunganku iB yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia menggalakkan Tabungan ini ke sekolah-sekolah. Progra...

 
 
 
 
 
 
 
Education Corner

Anak Pemarah

Saya wanita bekerja dengan 4 anak yg masih kecil-kecil paling besar kelas lima SD, saya membesarkan anak-anak sendiri tanpa didampingi suami karena suami jauh. Karena saya sendiri kadang-kadang dalam mendidik anak saya terlau emosional.

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Dr. Indah SPKK, Rawat Pasien dengan Senyum Indah

Ketika ditanya apa alasannya mau menjadi relawan di LKC, Dokter Indah menjawabnya dengan senyuman. "Motivasinya hanya untuk berbagi dengan sesama."

 
Dompet Peduli Kemanusiaan

Pengungsi Sinabung, Logistik Masih Minim

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut beberapa hari ini cenderung menurun. Namun, segala kemungkinan bisa saja terjadi, seperti meletusnya gunung ini Minggu (29/8) dini hari yang di luar prediksi para ahli.