Pakistan Bantah telah Membantu Taliban

Badan intelijen Pakistan mengecam bocornya dokumen yang mengklaim Islamabad telah membantu Taliban dalam perang di Afghanistan.
Seorang pejabat senior di Inter-Service Intelligence (ISI) Pakistan yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan pada hari Senin kemarin (26/7) bahwa tuduhan baru-baru ini, yang terdapat di lebih dari 91.000 dokumen militer yang dibocorkan oleh situs WikiLeaks sangat berbahaya dan tidak berdasar.
Sebelumnya pada hari Senin, situs Wikilekas menjatuhkan apa yang tampaknya membuat kejutan pada seluruh spektrum perang di Afghanistan, yang menyatakan bahwa Pakistan mengizinkan pejabat intelijen untuk bertemu langsung dengan Taliban dalam sesi strategi rahasia untuk mengatur jaringan dari kelompok-kelompok perlawanan yang memerangi tentara Amerika di Afghanistan, dan bahkan mengatur makar untuk membunuh para pemimpin Afghanistan."
Pesan ini telah memiliki resonansi politik yang keras pada saat pemerintahan Presiden AS Barack Obama berjuang untuk menuntaskan kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi terus meningkatnya dari korban tentara AS di negara yang hancur oleh perang tersebut.
Sementara itu, pejabat pemerintah Pakistan dan diplomat menyangkal tuduhan adanya kolusi apapun dengan Taliban, sembari mengatakan bahwa dokumen baru yang bocor tersebut merupakan kebohongan yang berulang.
Di Islamabad, Hamid Gul, mantan kepala intelijen Pakistan, yang disebutkan berkali-kali dalam dokumen, membantah tuduhan intelijennya bekerjasama dengan pejuang Taliban.
Gul mengatakan dokumen yang bocor telah meninggalkan pintu terbuka untuk pemerintah Pakistan memikirkan kembali aliansi mereka dengan Amerika Serikat.
Amerika sedang menghadapi kekalahan di Afghanistan dan untuk menutupi itu, mereka datang dengan tuduhan palsu terhadap Pakistan," tambah Gul.
Dokumen juga berbalik menyoroti pada setumpuk insiden yang tidak dilaporkan di mana beberapa warga sipil Afghanistan tewas atau terluka oleh pasukan pimpinan Amerika di negara itu.
Amerika Serikat mengatakan mereka berharap kebocoran dokumen tidak akan membahayakan operasi yang sedang berlangsung di Afghanistan. (fq/prtv)
Lainnya (Arsip)
- Kapal Bantuan AS "The Audacity of Hope" Akan Mencoba Tembus Gaza
Selasa, 27/07/2010 13:43 WIB - Galloway: Tidak Ada Lagi Orang di Dunia Ini Bersimpati dengan Israel
Selasa, 27/07/2010 13:22 WIB - Siapa Julian Assange, Si Bos Wikileaks?
Selasa, 27/07/2010 13:04 WIB - Oliver Stone: Media dan Pemerintah AS Tak Berdaya oleh Cengkeraman Yahudi
Selasa, 27/07/2010 13:04 WIB - Harga Mahal Sex Education Di Inggris
Selasa, 27/07/2010 11:27 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




