Syaikh Al-Qardhawi : Hari Ini Menara, Besok Masjid yang Dilarang!
.jpg)
Ulama terkemuka Syaikh Yusuf al-Qardhawi yang juga merupakan Presiden persatuan ulama internasional - telah menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk memprotes atas pelarangan menara masjid di Swiss dan meminta pemerintah Swiss menghentikan keputusan tersebut dan menganggap pelaksanaan referendum yang didukung oleh partai rakyat Swiss (SVP) akan mengakibatkan runtuhnya upaya dialog antara barat dan Islam yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun.
Syaikh al-Qardhawi menyatakan pada hari Selasa yang lalu (1/11) bahwa, "minoritas umat Muslim di Swiss harus mengajukan banding ke badan-badan hak asasi manusia internasional, untuk membalikkan keputusan ini."
Dia menyesalkan hasil referendum, dengan mengatakan: "hasil referendum di Swiss telah membuat saya sedih, sehingga kelompok sayap kanan bisa melakukan propaganda menentang kaum Muslimin, dengan mengintimidasi umat Islam di Eropa, meskipun kita mengetahui bahwa Swiss sebenarnya negara yang netral, menjunjung tinggi keamanan dan kebebasan - dan tidak menentang agama apapun. "
Syeikh Qardhawi menyatakan terkejut dengan kehebohan yang mengangkat topik pembangunan menara di masjid-masjid di Swiss, dan merasa aneh kelompok ekstrem sayap kanan dapat berhasil menjalankan propagandanya untuk menyerukan rakyat Swiss untuk memilih keputusan melarang menara masjid, meskipun pihak pemerintah, kelompok oposisi, parlemen menolak hal tersebut."
Dalam konteks yang sama, Persatuan Ulama Internasional mengatakan dalam sebuah pernyataannya yang diterima oleh "Islam Online. Net dan ditanda tangani oleh Syaikh Qardhawi, menyatakan bahwa mereka terkejut dengan hasil referendum di Swiss.
Hasil referendum tersebut sangan kontras dengan rakyat Swiss yang selalu mendengungkan demokrasi dan kebebasan beragama dan juga menyatakan bahwa referendum itu bertentangan dengan konstitusi dan piagam-piagam hak asasi manusia, nilai kebebasan beragama dan keragaman budaya."
Persatuan Ulama Internasional memperingatkan bahwa referendum bisa jadi di masa depan akan mengangkat tema untuk larangan adanya masjid, sambil berkata: "Hari ini menara yang dilarang dan mungkin besok masjid itu sendiri yang dilarang!!"
Persatuan Ulama Internasional menganggap bahwa hasil referendum ini "mencerminkan bentuk baru permusuhan terhadap Islam dan umat Islam di negara Swiss pada khususnya dan Eropa pada umumnya." Mereka memperingatkan bahwa hasil referendum "akan memperkuat posisi unsur-unsur radikal dari kaum muslimin.
Pernyataan itu meminta pemerintah Swiss untuk mengasumsikan "tanggung jawab penuh atas konsekuensi yang di dapat dari hasil referendum ini, terutama fenomena berkembangnya permusuhan dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam di Swiss."
Persatuan Ulama internasional juga menyerukan minoritas Muslim di Swiss untuk "tetap tenang dan tidak emosional dan tetap melakukan protes dengan cara-cara damai, terutama bekerja sama dengan beberapa organisasi dan asosiasi lokal dan internasional untuk menyatakan menolak referendum ini, dan akibatnya serta hasilnya."
Persatuan Ulama Internasional juga meminta Organisasi Konferensi Islam (OKI) melakukan kampanye internasional di antara negara-negara yang umt muslimnya minoritas, terutama di Barat, dalam rangka untuk menggambarkan keseriusan referendum mengenai masa depan koeksistensi antara Muslim dan komunitas lain."
Selain Persatuan Ulama Internasional yang dikomandoi oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi menentang pelarangan menara di Swiss, Syaikhul Al-Azhar Dr Muhammad Sayed Tantawi juga ikut mengecam pelarangan tersebut dan meminta pemerintah Swiss mencabut dan menghentikan pelarangan pembangunan menara masjid di Swiss, hal ini ia sampaikan sewaktu bertemu langsung dengan duta besar Swiss untuk Mesir di Kairo pada hari Selasa yang lalu (1/12).
.jpg)
Syaikh Tantawi menyatakan bahwa, "Keputusan ini memiliki dampak yang sangat buruk di hati umat Islam dan kami harap pemerintah Swiss mencabut keputusan tersebut; karena tidak ada untungnya melakukan hal itu, hal itu hanya akan menimbulkan kebingungan dan persepsi buruk tentang umat Islam di Swiss yang kami ingin tetap mendapatkan tempat penghormatan dan penghargaan tanpa sedikitpun mendapatkan diskriminasi atau pelecehan terhadap Islam atau keyakinan umat Muslim. "
Sementara itu, duta besar Swiss menjelaskan bahwa alasan para pemilih dalam mendukung melarang pembangunan menara baru adalah adanya rasa takut akan meningkatnya jumlah Muslim di Swiss, dan munculnya permintaan masyarakat Islam yang secara paralel ingin menerapkan ajaran-ajaran agama mereka atau diberlakukan dalam sistem pendidikan.
Dia menekankan bahwa pemerintah akan tetap mengijinkan empat menara masjid yang telah ada sebelumnya, dan hal tersebut tidak akan mempengaruhi pembangunan masjid-masjid di Swiss namun tidak untuk penambahan menara masjid.

Sedangkan Dr Ali Gomaa, Mufti Agung Mesir, mengatakan bahwa "keputusan untuk melarang menara-menara menunjukkan adanya masalah dengan dialog yang telah 20 tahun dilakukan antara umat Islam dengan barat, mengeluarkan dekrit melarang menara telah melanggar banyak aturan dialog, kita membangun hidup setiap orang untuk saling menghormati dan saling berdialog, namun harus hancur gara-gara keputusan yang salah dengan melarang menara masjid."
Sementara Menteri Wakaf Mesir, Dr Mahmoud Hamdi Zaqzouq menyatakan bahwa hasil referendum Konstitusi Federal Swiss bertentangan dengan kesetaraan, karena memungkinkan bagi non-Muslim untuk mengungkapkan simbol-simbol keagamaan mereka dan menolak untuk melakukannya bagi seorang Muslim.(fq/iol)
Lainnya (Arsip)
- Ketika Para Peramal Bermunculan di Televisi Saudi
Kamis, 03/12/2009 07:11 WIB - Peti Mati Pasukan AS Dari Afghanistan
Kamis, 03/12/2009 06:00 WIB - Michael Moore : Obama Menjadi 'Presiden Perang'
Rabu, 02/12/2009 16:07 WIB - Erdogan : Menyerukan Swiss Meninjau Keputusannya Larang Menara Masjid
Rabu, 02/12/2009 15:45 WIB - Menteri Turki Serukan Kaum Muslimin Boikot Bank-Bank Swiss
Rabu, 02/12/2009 12:54 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




