Paus Didesak Pertanggungjawabkan Skandal Seks Gereja
Skandal di dalam gereja Katolik makin meluas. Setelah terungkapnya skandal pelecehan seksual, sekarang terungkap skandal penganiyaan dan kekerasan fisik yang dialami anak-anak di sekolah-sekolah Katolik di Eropa.
Konferensi Keagamaan Belanda mengumumkan rencana penyelidikan "eksternal, menyeluruh dan independen" terhadap dugaan kejahatan pedofilia yang dilakukan para pendeta Katolik. Konferensi memutuskan untuk melakukan penyelidikan setelah membahas lebih dari 200 kasus dugaan penyelewengan yang dilakukan mantan siswa di sejumlah institusi Katolik di Belanda antara tahun 1960-an sampai 1970-an.
Kasus kejahatan seksual di dalam institusi Katolik satu persatu mulai terungkap, setelah di Jerman, belakangan juga terungkap dugaan kejahatan seksual yang menimpa siswa lelaki di sekolah biara Mehrerau Abbey di Austria dan Sankt Peter di Salzburg. Kepala biara, Anselm van der Linde sudah memecat dua pendeta di Mehrerau dalam kasus kejahatan seksual yang melibatkan seorang siswa di sekolah biara itu dan seorang lelaki pecandu narkoba.
Sementara seorang pejabat di sekolah biara di Salzburg mengatakan bahwa salah seorang pejabat biara bernama Bruno Becker melakukan kejahatan seksual terhadap seorang anak berusia 11 tahun pada tahun 1970-an ketika sedang memberikan konsultasi pada anak tersebut setelah mendengar bahwa anak itu telah mengalami pelecehan seksual oleh dua pendeta di biara itu.
Kasus-kasus kejahatan seksual oleh para agamawan di institusi-institusi Katolik terjadi antara lain di negara Jerman, Irlandia, Austria dan Belanda. Para pemuka agama Katolik di negara-negara itu mengkritik Paus Benediktus XVI yang terkesan diam atas terungkapnya kasus-kasus kejahatan seksual ini. Mereka menyatakan Paus Benediktus sebagai petinggi agama Katolik bertanggung jawab atas kasus-kasus kejatan seksual yang terjadi di dalam institusi-institusi agamanya.
Kalangan agamawan Katolik yang menginginkan reformasi dalam gereja Katolik menuntut agar Paus memberikan penjelasan pada publik tentang apa yang dia ketahui dan semua hal terkait penyelewengan di dalam institusi Katolik. Menteri Kehakiman Jerman juga ikut bereaksi, ia menuding Vatikan segala menutup-tutupi kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi dalam gereja dan mendesak agar Vatikan dan Roma mau bersikap terbuka untuk mengungkap skandal memalukan ini. (ln/prtv)
Lainnya (Arsip)
- Maroko Kembali Usir Misionaris Kristen
Rabu, 10/03/2010 14:41 WIB - Perempuan AS, "Jihad Jane" Didakwa Tuduhan Terorisme
Rabu, 10/03/2010 14:16 WIB - Pemerintah Boneka Somalia Sambut Baik Intervensi Militer AS
Rabu, 10/03/2010 13:35 WIB - Partai Sayap Kanan Italia Kampanye Menentang Pembangunan Masjid
Rabu, 10/03/2010 12:58 WIB - Operasi Pemalsuan Paspor Oleh Israel, Dunia Diminta Waspada
Rabu, 10/03/2010 12:58 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




