Peduli Pemanasan Global, Masjid di Inggris Nyatakan "Bebas Karbon"
.jpg)
Sebuah masjid di South Woodford, sebelah timur laut kota London menyatakan diri sebagai tempat ibadah pertama yang bebas zat karbon. Masjid ini mengurangi pemakaian gas dan listrik dan menggantikannya dengan penanaman pohon-pohon.
Organisasi sosial Tolerance Internasional telah melakukan kalkulasi atas emisi karbon masjid tersebut, untuk membantu seberapa besar pengurangan energi yang harus dilakukan Masjid South Woodford.
Ketua masjid Dr. Muhammad Fahim mengatakan, ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka hidup. "Kita tidak bisa hanya memanfaatkannya, tanpa menjaga dan melindungi alam, " ujarnya.
"Ketika pohon-pohon memberikan memberikan buah, buah itu bukan untuk pohon itu sendiri tapi juga untuk umat manusia yang mendapat keuntungan darinya. Saya ingin setiap Muslim seperti pohon itu, yang memberikan manfaat bukan buat dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain, " sambung Dr. Fahim berfilosofis.
Ia melanjutkan, "Masjid kami menjadi masjid pertama di Inggris yang bebas karbon dan kami berusaha menjadi pelopor untuk masjid-masjid lainnya. Kami ingin mempromosikan hal-hal yang ramah lingkungan. "
Sementara itu, Ketua Eksekutif Tolerance International, Hamid Bayazi mengatakan, inisiatif yang dilakukan Masjid South Woodforda akan mempercepat upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global.
"Kami merasa, terserah pada lembaga-lembaga keagamaan sendiri apakah akan ikut berpatisipasi dalam wacana perubahan iklim. Pada dasarnya, kalangan bisnis sekarang membicarakan masalah ini, begitu juga pemerintah. Tapi jarang ada institusi keagamaan yang melibatkan diri dalam masalah ini, " ujar Bayazi.
Para ilmuwan dunia memprediksikan, suhu dunia rata-rata akan rmeningkat antara 1, 8 sampai 3 derajat Celsius pada abad ini karena efek emisi gas rumah kaca, terutama dari hasil pembakaran bahan bakar minyak. Peningkatan suhu berdampak pada kekeringan, kelaparan, banjir yang bisa membahayakan kelangsungan hidup manusia.
Lembaga Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, pada tahun 2080 kemungkinan ada 3, 2 milyar penduduk dunia-sepertiga penduduk bumi-yang akan kekurangan air, 600 juta orang akan mengalami kelaparan dan 7 juta orang akan mengalami kebanjiran karena permukaan air laut yang terus naik.
Organisasi pemerhati lingkungan hidup World Wildlife WWF menuding AS menjadi negara yang paling besar kontribusinya dalam pemanasan global dan telah mengesampingkan peringatan dari para ilmuwan agar ikut mengatasi masalah itu. (ln/iol)
Lainnya (Arsip)
- Pemerintah Filipina Rancang Draft UU Negara Islam Federal Mindanao
Jumat, 11/01/2008 15:25 WIB - Pasukan Udara AS Bombardir Kota Baghdad
Jumat, 11/01/2008 14:22 WIB - CIA dan ISI Dalang Pembunuhan Bhutto?
Jumat, 11/01/2008 12:03 WIB - Federasi Organisasi Muslim Eropa Tandatangani Piagam Islam Eropa
Jumat, 11/01/2008 11:28 WIB - Pasukan Abbas Tangkapi Demonstrans Anti Bush
Jumat, 11/01/2008 10:35 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




