Pembuat Film Fitnah Mulai Disidangkan

Kamis, 21/01/2010 08:15 WIB | Arsip | Cetak

Geert Wilders, salah seorang anggota parlemen belanda konserfatif yang membuat film penghinaan terhadap Islam dalam film fitna, hari ini. Rabu (20/1) akan menghadapi persidangan di depan Mahkamah Agung di Amsterdam. Wilders, yang merupakan pendiri dari Partai Kebebasan, telah melakukan penghinaan terhadap komunitas muslim di Belanda dan menghasut masyarakat dengan kebencian terhadap umat Islam.

Jika dirinya terbukti bersalah dalam persidangan nanti, ia akan dijatuhi hukuman maksimal selama 16 bulan dan denda sebesar 10.000 euro. Wilders sendiri berusaha menyangkal tuduhan tersebut, dirinya berkilah , apa yang ia buat melalui film Fitna selama ini merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Berdasarkan agenda yang ditetapkan, sidang hari ini akan dilangsungkan di Amsterdam, setelah diawali dengan pembukaan sidang secara resmi dan penyempurnaan laporan yang menghadirkan para saksi. Adapun sidang utama terkait kasus pelecehan terhadap agama ini belum bisa diadakan dalam waktu dekat, namun ditunda hingga berakhirnya pelaksanaan pemilu lokal yang akan diadakan pada tanggal 3 Maret nanti.

Bukti Dakwaan

Dalam dakwaan yang ditujukan kepada dirinya, Wilders terbukti telah membuat film berdurasi pendek dengan judul Fitna, yang ia sebarkan melalui internet di tahun 2008 lalu. Dalam film itu ia memfitnah umat Islam dan menyebutnya sebagai agama yang memiliki ideologi teroris.

Pengacara Wilders ternyata sejak seminggu kemarin terus berjuang untuk mencabut dakwaan ini dari kliennya, namun usaha itu berakhir sia-sia. Laporan yang ada terlalu kuat untuk menteret Wilders ke persidangan.

Geert Wilders, sebenarnya sudah akrab mendapati dakwaan, sejak tahun 2006 dirinya telah memancing kemarahan umat Islam dengan usulan pelarangan Al Qur’an di Belanda. Ia juga menyamakan Al Quran dengan buku “Mein Kampf,” sebuah buku yang berisikan pemikiran-pemikiran dan ideologi pemimpin Nazi, Adolf Hitler. Ia juga termasuk orang yang keras dalam memperjuangkan pelarangan pembangunan masjid di Belanda. (sn/imo)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang