Pendeta Baru Obama Sebut Islam Sebagai Agama Kekerasan

Akhirnya, setelah selama hampir lima tahun, presiden AS Barack Obama, mulai berani terang-terangan menghadiri kebaktian yang dipimpin oleh pendeta Carey Cash. Cash adalah pendeta Angkatan Laut di Camp David. Ia terkenal akan pandangannya terhadap Islam sebagai agama kekerasan. Tampaknya hanya soal waktu belaka untuk menjadikan Cash sebagai pendeta baru di Gedung Putih.
Gedung Putih sendiri menegaskan bahwa Cash, famili dari penyanyi Johnny Cash, belum menjadi pendeta baru Obama, tetapi tampaknya sang presiden telah mendengar khotbah-khotbahnya sejak sebelum menjadi presiden.
Munculnya Cash, 39, yang diprofilkan di halaman depan The Washington Post pertengahan pekan ini, menimbulkan beberapa yang sulit untuk Gedung Putih - dan tentu untuk Obama, yang ayahnya beragama Islam. Cash yang pernah diberangkatkan ke Iraq, mengatakan bahwa "Islam menggunakan ujung pedang sebagai alat untuk mengubah atau menaklukkan mereka yang memiliki keyakinan agama yang berbeda."
Cash adalah pendeta pertama dari satu unit yang pertama kali diberangkatkan ke Iraq, dan di sana ia telah membaptis lebih dari 50 orang. Dalam bukunya, A Table in the Presence: The Dramatic Account of How a US Marine Battalion Experienced God’s Presence Amidst the Chaos of the War in Iraq, ia mengatakan sebuah misi, "Ya, orang-orang kami memang hilang dan terpisahkan. Tetapi Tuhan tentu saja tidak bingung. Sama seperti ketika Dia telah menyuruh kami sejak awal perang, Tuhan juga telah menyusun semuanya untuk kebaikan. Menyedihkannya, itulah yang tak pernah ada dalam Islam."
Obama mengagumi Cash dan Kapel Evergreen di Camp David, yang terletak 70 mil (113km) dari Washington dan tertutup untuk umum dan pers. Obama mengatakan kepada wartawan di musim panas ini bahwa Cash "seorang pendakwah yang kita. Saya pikir dia sangat luar biasa!"
Menurut laporan di The Washington Post, Gedung Putih telah menginstruksikan Cash dan keluarganya untuk tidak bicara dengan pers. Cash pernah punya catatan dikritik oleh ilitary Religious Freedom Foundation, sebuah badan pengawas yang memantau penyebaran agama di militer, karena ia bekerja sama denganCampus Crusade for Christ’s Military Ministry. Menurut insititusi ini, tujuan kelompok ini adalah untuk mengubah AS menjadi kekuatan militer dari "misionaris yang dibayar pemerintah untuk Kristus". (sa/timesonline)
Lainnya (Arsip)
- Dollar AS Semakin Babak Belur
Jumat, 16/10/2009 05:13 WIB - Pejabat Israel Tak Berani Lagi ke Eropa
Kamis, 15/10/2009 16:18 WIB - Dewan HAM PBB Siapkan Resolusi Kutuk Israel
Kamis, 15/10/2009 16:18 WIB - UAE Mengibarkan Bendera Israel
Kamis, 15/10/2009 16:15 WIB - 85.000 Orang Tewas di Irak Pasca-Perang
Kamis, 15/10/2009 14:51 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




