Pengusaha Non-Muslim Swiss Bangun "Menara Masjid"

Jumat, 11/12/2009 09:40 WIB | Arsip | Cetak

Seorang pengusaha non-Muslim Swiss membuat menambah bangunan mirip menara di gedung miliknya yang terletak di sebelah barat kota Laussane, sebagai bentuk ketidaksetujuannya atas larangan menara masjid di Swiss yang menuai kontroversi dan kecaman seluruh dunia.

Pengusaha toko sepatu bernama Guillaume Morand mengatakan, larangan menara masjid merupakan tindakan yang memalukan dan bangunan mirip menara masjid yang dibuatnya adalah sebuah pesan damai untuk menolak larangan tersebut.

"Referendum larangan menara masjid merupakan skandal bagi Swiss. Sangat memalukan," ujarnya.

Morand menyayangkan partai-partai politik lainnya di Swiss yang cuma diam dan tidak melakukan tindakan apapun untuk melawan referendum yang digagas Partai Rakyat Swiss. "Mereka semua menyatakan menentang larangan itu tapi tidak membeberkan sikapnya dengan jelas tentang penolakan mereka pada publik negeri ini," kata Morand.

Bangunan mirip menara masjid yang dibuat Morand menjadi pusat perhatian masyarakat. Morand mengatakan akan melihat perkembangan situasi, apakah ia akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk menyampaikan pesannya untuk menentang larangan menara masjid itu.

Larangan menara masjid hasil referendum di Swiss menjadi tamparan keras bagi negara Eropa itu. Hampir semua elemen, mulai dari anggota parlemen, partai-partai politik, pemuka agama Kristen, Muslim bahwa sejumlah Rabbi Yahudi mengecam pemerintah Swiss yang telah membiarkan referendum itu terjadi.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) hari Kamis kemarin mendesak otoritas Swiss untuk menganulir hasil referendum tersebut. OKI mengingatkan referendum anti-Islam itu berpotensi ditiru oleh negara-negara Eropa lainnya. "Otoritas Swiss bisa memanfaatkan parlemen dan perangkat hukumnya untuk membatalkan referendum itu," kata Dubes Pakistan, Zamir Akram.

Menurutnya, referendum semacam itu bisa menyebar ke seluruh Eropa dimana kelompok-kelompok kanan di Eropa memang menjadikan komunitas Muslim sebagai target serangan mereka. "Di Jenewa sudah terjadi serangan dan aksi vandalisme terhadap masjid-masjid. Ini merupakan trend yang berbahaya," tukas Akram. (ln/iol)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang