Penuturan Aktivis Armada Kebebasan Tentang Kebiadaban Israel
Apa yang digunakan oleh Israel ketika menyerang para aktivis di dalam kapal Armada Kebebasan? Menurut salah seorang aktivis yang dideportasi Israel ke Yordan, Komando Angkatan Laut Israel menggunakan tongkat pemukul, gas air mata, granat, peluru karet berlapis dan amunisi berbahaya selama penyerbuan kapal bantuan menuju Gaza tersebut. Hal ini dikatakan oleh Norazma Abdullah, aktivis asal Malaysia pada hari Rabu kemarin di Yordania.
"Israel menyerang kami tanpa peringatan setelah salat subuh," kata Norazma. "Mereka awalnya menembak kami dengan peluru karet, tetapi beberapa saat kemudian, mereka menggunakan peluru tajam. Lima orang mati di tempat ketika itu juga dan setelah itu kami menyerah."
Norazma Abdullah, berbicara dengan Reuters di dekat jembatan sungai Yordan, mengatakan pasukan Israel kemudian menahan para aktivis dengan posisi diikat badannya selama 15 jam sampai mereka tiba di pelabuhan Israel Asdod.
"Dan mereka membunuh seorang aktivis Turki yang sudah terluka, menembak tepat di kepalanya."
Aktivis lain yang bernama Buhamd Ali menambahkan ia melihat seorang tentara Israel menembak dan membunuh orang Turki yang sudah terluka tepat di kepalanya.
"Saya tegaskan kepada Anda bahwa tidak ada satu dari para relawan mempunyai senjata api. Kami tidak punya senjata, kecuali pisau dapur. Dan para relawan tidak memulai perlawanan apapun," kata seorang pengacara yang bernama Mutawa.
Abdul Rahman Failakawee, aktivis Kuwait, mengatakan Israel telah menggunakan lusinan senjata untuk menaklukkan mereka. "Serangan (mereka) benar-benar biadab," katanya. "Mereka menggunakan peluru yang legal dan mungkin senjata yang ilegal: peluru karet, peluru api tajam, bom dan gas air mata. Mereka juga menggunakan tongkat pemukul saat mereka mendarat untuk memukul orang-orang di kapal yang sedang mengendalikan kapal."
"Mereka menghina kami," kata Ahmed Brahimi, seorang aktivis Aljazair. "Kami tidak bersenjata. Kami tidak pergi ke sana bukan untuk bertempur. Kami sedang melakukan salat Shubuh ketika Israel pertama kali datang di kapal Marmara."
"Kami menggunakan tongkat dan semua apa yang bisa kami temukan untuk mempertahankan diri untuk menghentikan serangan mereka. Selama serangan kedua, mereka berhasil menculik anak kecil, putra kapten kami, dan kemudian kami disuruh untuk menyerah."
"(Mereka) menyita ponsel kami, tidak mengizinkan kami untuk menggunakan ... toilet, tangan kami diikat."
"Mereka menyuruh kami untuk menandatangani dokumen tertulis dalam bahasa Ibrani," katanya. "Kami, rakyat Aljazair, menolak menandatangani dokumen tersebut karena kami tidak mengerti bahasa Ibrani dan yang lebih penting karena kami tidak mengakui Israel." (sa/wb)
Lainnya (Arsip)
- Fidel Castro: Serangan Israel adalah Kemarahan Fasis Nazi
Kamis, 03/06/2010 08:00 WIB - Kapal Bantuan "Rachel Corrie" Siap Berangkat ke Gaza dari Libya
Kamis, 03/06/2010 07:50 WIB - "Apa yang Diambil dengan Paksa, Harus Direbut Kembali dengan Paksa"
Kamis, 03/06/2010 07:49 WIB - Aktivisnya Ikut Serta Dalam Armada Kebebasan, Rakyat Norwegia Boikot Produk Israel
Kamis, 03/06/2010 07:04 WIB - Rakyat Israel Melawan Melalui Facebook Dan Twitter
Kamis, 03/06/2010 06:17 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




