Perang Melawan Teror, Australia Mulai Kena Batunya

Australia harus bisa menerima konsekuensi keterlibatannya dalam perang di Irak dan Afghanistan. Menurut sejumlah pakar di Australia, ancaman serangan teroris dan munculnya kelompok-kelompok jihad Muslim di Negeri Kanguru itu adalah harga yang harus dibayar Australia karena telah ikut mengirimkan pasukannya ke Irak dan Afghanistan.
"Bukan hal yang mengejutkan jika situasi seperti sekarang ini terjadi. Mereka yang terlibat dalam kegiatan itu umumnya mereka yang menentang berbagai kebijakan luar negeri Australia, khususnya keterlibatan Australia di Afghanistan," kata Clive Williams, pakar bidang keamanan dari Australian National University.
Pakar lainnya dari lembaga think-tank kebijakan luar negeri Lowy Institute, Sam Roggenveen menambahkan, kedekatan Australia dengan AS dan dukungan Australia terhadap kampanye perang melawan teror yang digulirkan AS membuat negara Australia menjadi salah satu negara yang mendapat sorotan.
"Meski Australia secara formal sudah mengakhiri keterlibatannya di Irak, saat ini ada sekitar 1.500 lebih tentara Australia yang dikirim ke Afghanistan. Hal ini mendorong munculnya kelompok-kelompok radikal di Australia," kata Roggenveen.
Menurut Sarah Phillips, pakar Timur Tengah di Pusat Studi Keamanan International Universitas Sydney, sikap terhadap Australia mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun belakangan ini. "Saya pikir ada perubahan di kawasan yang bisa dilihat dari sisi pandang pemerintah, kalau bukan dari sisi pandang rakyat Australia," ujar Phillips.
Australia mengantisipasi ancaman teror itu dengan mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya yang akan bepergian ke luar negeri, terutama negara-negara Muslim. Pemerintah Australia juga melakukan langkah antisipasi di dalam negerinya dengan menggelar berbagai operasi anti-terorisme. Dalam sepekan ini, Australia menggelar operasi anti-terorisme dengan menangkap sejumlah Muslim yang dituduh merencanakan sejumlah serangan teror di Australia.
"Ada resiko dari aktivitas terorisme di dalam negeri, untuk itu kami sangat waspada," kata Menlu Australia, Stephen Smith. (ln/mol)
Lainnya (Arsip)
- Tokoh AKP Terpilih Menjadi Ketua Parlemen
Kamis, 06/08/2009 11:48 WIB - Lobi Yahudi di AS Menyatakan Kecewa Pada Obama
Kamis, 06/08/2009 11:30 WIB - Pakistan Larang 25 Organisasi Islamis
Kamis, 06/08/2009 11:15 WIB - Pembuat Film "Fitna" Jadi Monyet
Kamis, 06/08/2009 10:18 WIB - Irak Baru, Dari Apoteker Menjadi Pembantu Rumah Tangga
Kamis, 06/08/2009 09:47 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




