Perang Poster di Swiss Tolak Pembangunan Menara Azan

Swiss kini dipadati dengan poster pro dan kontra terkait izin pembangunan menara masjid. Dua kubu yang bersitegang saat ini adalah organisasi muslim dan kelompok ekstrem kanan Swiss. Aksi perang poster ini bermula dari seruan kubu ekstrem kanan yang mengkampanyekan pelarangan pembangunan menara masjid di Swiss.
Kota Zurich, yang dikenal sebagai salah satu kota termahal di dunia melalui pemerintah kotanya telah memberikan dukungan kepada muslim di Swiss. Pihaknya membiarkan poster penolakan terhadap pelarangan pembangunan menara memenuhi kota, mereka memberi dukungan dengan semangat kebebasan dalam berekspresi. Persatuan organisasi muslim di Jenef Swiss juga tengah berjuang dengan menyebarkan poster penolakan terhadap kampanye pelarangan menara masjid yang dilancarkan kubu ekstrem kanan.
Menurut rencana mereka akan menyelenggarakan referendum terhadap penolakkan pembangunan menara azan di Swiss pada tanggal 29 November nanti. Berdasarkan jejak pendapat yang sempat diadakan menunjukkan bahwa 53% dari pemilih di Swiss menolak larangan sementara 13% masih ragu dan sisanya menyetujui pelarangan.

Kampanye pelarangan pembangunan menara itu sendiri telah dimulai oleh kelompok ekstrem kanan sebelum mereka bergabung dengan Partai Rakyat yang merupakan partai politik terbesar di Swiss. Mereka telah mengumpulkan tandatangan untuk melaksanakan referendum guna menjegal pembangun menara masjid.
Kekhawatiran Boikot dari Dunia Islam
Sementara itu, wakil rakyat yang duduk di parlemen asal partai Uni Demokrat yang semula mendukung pelarangan pembangunan menara, Peter Cbohler, mengingatkan kepada mereka yang kontra akan kekhawatiran dirinya terhadap aksi boikot ekonomi dari dunia Islam apabila dalam referendum itu kelak dimenangkan oleh mereka yang menentang pembangunan menara.
"Seandainya kesepakatan yang disetujui adalah melarang pembangunan menara masjid, maka kita akan mendapatkan perlawanan dan sanksi dari politik luar negeri dunia Islam, hingga puncaknya nanti produk kita akan diboikot. Seperti apa yang telah dialami Denmark akibat kasus karikatur penghinaan Nabi umat Islam," jelas Peter dengan penuh kekhawatiran. (sn/ism)
Lainnya (Arsip)
- Taliban: Karzai Itu Presiden Boneka!
Rabu, 04/11/2009 06:37 WIB - Mufti Perempuan? Serius, Dubai?
Rabu, 04/11/2009 05:53 WIB - Para Profesor Norwegia: Tutup Universitas Israel!
Rabu, 04/11/2009 05:14 WIB - Popularitas Obama Makin Merosot, Dibawah Rata-Rata
Selasa, 03/11/2009 16:36 WIB - Kedatangan Bostrom ke Israel, Diprotes dan Diboikot
Selasa, 03/11/2009 14:49 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




