AS Di Simpang Jalan Perang Afghanistan

Selasa, 08/09/2009 11:03 WIB | Arsip | Cetak

Dengan menugaskan 68.000 tentara ke Afghanistan di tahun ini, presiden AS Barack Obama menyebut Afghanistan sebagai “perang yang diperlukan” untuk mencegah Taliban dari kelahirannya kembali di tahun 1990-an. Utamanya, dari Al Qaidah.

Tapi setelah hampir delapan tahun, invasi AS untuk mencokok Al Qaidah, dukungan politik untuk aksi militer ini semakin memudar. 3000 tentara AS mati  di sana, dan mungkin masih akan terus bertambah, dan itu adalah bencana di tengah misi yang pekat. Dalam berbagai interview, banyak ahli konterterorisme yakin bahwa pasukan ini diperlukan untuk mengenyahkan Taliban dari wilayah yang dikuasainya.

Andrew J. Bacevich, profesor di Universitas Boston, mengatakan bahwa perang ini akan menyedot ratusan milyar dollar AS dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan, dan juga jiwa-jiwa rakyat AS, yang ironisnya hanya dibayar dengan sukses yang tidak memadai. Spesialis konterterorisme yang lain menyatakan bahwa terorisme tidak bisa dihadapi dengan jarak nyaman seperti itu, seperti serangan udara. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membuat Afghanistan benar-benar terbukti disusupi Al Qaidah.

AS dan NATO menerapkan strategi, “Bersihkan, Pertahankan, dan Bangunlah,” untuk memenangkan hati rakyat Afghan. Robert M. Gates dan Mike Mullen, dari Joint Chiefs of Staff, mengatakan, “Kampanye konterterorisme tak akan bisa berjalan sepenuhnya tanpa dukungan penguasa setempat, keamanan internal, dan tanpa intelijen.”

Sebaliknya, Bruce Hoffman, ahli terorisme di Universitas Georgetown, menyatakan bahwa selama ini AS hanya terbang dengan mata buta, mengacu pada minimnya informasi. Sementara semakin hari, Pakistan yang memegang peranan penting dalam operasi AS di Afghanistan, mnejadi kartu liar yang tak bisa dipegang.

Semakin intens operasi ke Afghanistan, semakin sering pula kekisruhan terjadi di Pakistan. Daniel L. Byman, direktur Center for Peace and Security Studies di Georgetown berpendapat, “Semakin sering kita mengadakan operasi ke Afhanistan, semakin pula kita tergantung kepada Pakistan untuk logistik, dan semakin besar pula Pakistan untuk menolaknya.”

Jadi kemana sekarang arah invasi Amerika? Ibarat maju kena mundur kena, mati segan hidup pun tak mau. Sementara Taliban tak pernah sedikit pun surut untuk mengibarkan bendera putih akan perjuangannnya. (sa/thenewyorktime)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang