AS Di Simpang Jalan Perang Afghanistan

Dengan menugaskan 68.000 tentara ke Afghanistan di tahun ini, presiden AS Barack Obama menyebut Afghanistan sebagai “perang yang diperlukan” untuk mencegah Taliban dari kelahirannya kembali di tahun 1990-an. Utamanya, dari Al Qaidah.
Tapi setelah hampir delapan tahun, invasi AS untuk mencokok Al Qaidah, dukungan politik untuk aksi militer ini semakin memudar. 3000 tentara AS mati di sana, dan mungkin masih akan terus bertambah, dan itu adalah bencana di tengah misi yang pekat. Dalam berbagai interview, banyak ahli konterterorisme yakin bahwa pasukan ini diperlukan untuk mengenyahkan Taliban dari wilayah yang dikuasainya.
Andrew J. Bacevich, profesor di Universitas Boston, mengatakan bahwa perang ini akan menyedot ratusan milyar dollar AS dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan, dan juga jiwa-jiwa rakyat AS, yang ironisnya hanya dibayar dengan sukses yang tidak memadai. Spesialis konterterorisme yang lain menyatakan bahwa terorisme tidak bisa dihadapi dengan jarak nyaman seperti itu, seperti serangan udara. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membuat Afghanistan benar-benar terbukti disusupi Al Qaidah.
AS dan NATO menerapkan strategi, “Bersihkan, Pertahankan, dan Bangunlah,” untuk memenangkan hati rakyat Afghan. Robert M. Gates dan Mike Mullen, dari Joint Chiefs of Staff, mengatakan, “Kampanye konterterorisme tak akan bisa berjalan sepenuhnya tanpa dukungan penguasa setempat, keamanan internal, dan tanpa intelijen.”
Sebaliknya, Bruce Hoffman, ahli terorisme di Universitas Georgetown, menyatakan bahwa selama ini AS hanya terbang dengan mata buta, mengacu pada minimnya informasi. Sementara semakin hari, Pakistan yang memegang peranan penting dalam operasi AS di Afghanistan, mnejadi kartu liar yang tak bisa dipegang.
Semakin intens operasi ke Afghanistan, semakin sering pula kekisruhan terjadi di Pakistan. Daniel L. Byman, direktur Center for Peace and Security Studies di Georgetown berpendapat, “Semakin sering kita mengadakan operasi ke Afhanistan, semakin pula kita tergantung kepada Pakistan untuk logistik, dan semakin besar pula Pakistan untuk menolaknya.”
Jadi kemana sekarang arah invasi Amerika? Ibarat maju kena mundur kena, mati segan hidup pun tak mau. Sementara Taliban tak pernah sedikit pun surut untuk mengibarkan bendera putih akan perjuangannnya. (sa/thenewyorktime)
Lainnya (Arsip)
- Muslim Inggris Dikeroyok Sekelompok Anak Muda di Depan Cucunya
Selasa, 08/09/2009 09:49 WIB - Dua Bank AS Kembali Tutup Buku
Selasa, 08/09/2009 09:24 WIB - Russia dan Kenangan Mujahidin Afghanistan 80-an.
Selasa, 08/09/2009 07:45 WIB - Saudi Tutup Masjid-Masjid Syi’ah
Selasa, 08/09/2009 04:23 WIB - Penasehat Obama Mengundurkan Diri Terkait 9/11
Senin, 07/09/2009 19:24 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




