PM Turki Minta Larangan Jilbab Dicabut
.jpg)
Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan akan melakukan perombakan menyeluruh terhadap konstitusi Turki, terutama yang menyangkut pembatasan terhadap penggunaan simbol-simbol Islam di negeri yang menganut sekulerisme itu.
Hal pertama yang akan dilakukan Erdogan adalah melonggarkan larangan mengenakan jilbab di Turki, terutama di institusi-institusi pendidikan. Ini tersirat dari pernyataannya yang dilansir Financial Times edisi Rabu (19/9).
"Hak untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi tidak bisa dibatasi hanya karena apa yang dikenakan seorang Muslimah, " kata Erdogan.
"Hal seperti ini tidak terjadi di masyarakat Barat, tapi justru menjadi masalah di Turki dan saya yakin ini menjadi tugas pertama para politisi untuk memecahkan masalah ini, " sambungnya.
Sejak tahun 1980, setelah kudeta yang dilakukan militer Turki, diberlakukan larangan berjilbab di universitas-universitas. Kalangan militer Turki menilai jilbab identik dengan kalangan Islamis yang menjadi ancaman serius bagi Turki, dan ancaman bagi sistem sekulerisme yang dianut negeri itu.
Sejumlah media massa Turki sudah mempublikasikan draft perombakan konstitusi itu, termasuk pasal-pasal yang akan membolehkan kembali jilbab dikenakan di kampus-kampus. Namun pernyataan Erdogan yang ingin melonggarkan larangan berjilbab sebagai bagian dari perombakan konstitusi dikritik kalangan elit sekuler.
Beberapa rektor universitas dan mahkamah pengadilan di Turki sudah melontarkan peringatan atas perubahan konstitusi itu. Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Turki yang dikenal sebagai sekularis, Erdogan Tezic mengecam rencana pencabutan larangan berjilbab.
"Ini adalah tugas kita untuk mengingatkan masyarakat bahwa aturan hukum apapun yang akan mencabut pembatasan berjilbab, merupakan tindakan ilegal, " ujarnya.
Sementara itu seorang profesor di Middle East Technical University di kota Ankara, Ayse Ayat mengatakan, "Pencabutan larangan berjilbab bisa memicu tekanan masyarakat pada kaum perempuan yang tidak mengenakan jilab, agar mereka mereka mengenakan jilbab.
Menanggapi berbagai kritikan atas rencananya mengubah konstitusi, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa dirinya membuka ruang diskusi seluas-luasnya di parlemen dan di media massa. Ia membantah tudingan bahwa partainya-Partai Pembangunan dan Keadilan-yang saat ini berkuasa, ingin memberlakukan konstitusi negara versinya sendiri.
"Sudah waktunya kita memiliki konstitusi yang modern, yang mewakil semua kepentingan bangsa ini... Yang akan mewujudkan idealisme Turki yang bebas, " kata Tayyip Erdogan. (ln/aljz)
Lainnya (Arsip)
- Jamaah Jihad Mesir Taubat, Rilis Revisi Kitab Agenda Jihad di Mesir
Kamis, 20/09/2007 09:18 WIB - Israel Tembak Pemuda Lumpuh di Nablus, Apa Dosa Pemuda Itu?
Kamis, 20/09/2007 05:03 WIB - Saudi Kampanye Anti-Rokok di Bulan Ramadhan
Rabu, 19/09/2007 17:56 WIB - Film Holocaust Versi Iran
Rabu, 19/09/2007 17:24 WIB - Intelejen Militer Israel Ancang-Ancang Sambut Operasi Besar-Besaran Hamas
Rabu, 19/09/2007 16:21 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




