Polandia, Yahudi, dan Sepakbola
Ross Kemp, jurnalis senior BBC, melakukan sebuah reportase sepakbola yang paling berani di muka bumi. Ia melakukan investigasi pada kelompok pendukung klub sepakbola di Polandia. Mengapa Polandia? Sepakbola di negara ini cenderung tidak populer dibandingkan liga-liga sepakbola Seri A Italia, Liga Primer Inggris, atau BBVA Spanyol.
Justru itu yang menjadi fokus perhatian Kemp. Di Polandia sepakbola adalah fenomena budaya yang tak pernah mati sepanjang tahun. Tingkat fanatisme suporter sepakbola Polandia sudah sangat pribadi. Misalnya saja klub Wisla Krakow. Klub papan atas Liga Skotlandia ini—dikenal dengan nama Liga Ekstraklasa—mempunyai suporter terbanyak di Polandia. Namun, mereka bukan hanya sekadar suporter, tetapi juga lebih merupakan refleksi dari kebanyakan masyarakat Polandia sendiri.
Suporter fanatik Wisla Krakow adalah para ekstremis sayap kanan dan jauh menyusup memengaruhi kebijakan para pengurus klub sendiri. Mereka sangat disegani oleh masyarakat Polandia, walau di sisi lain juga sangat ditakuti karena tindakan radikal mereka.
Suporter Wisla menampakan dirinya dengan atribut yang paling mudah dikenali yaitu “Bintang Putih.” Di dalam stadion, lagu mars mereka ketika mendukung tim kesayangannya berbunyi “Perang berlanjut setiap hari. Di jalanan. Di manapun!” Satu lagi teriakan mereka yang terkenal adalah “Yahudi bau! Yahudi Bau!”.
Kelompok suporter lain, Sylon yang berdomisili di Gorzow, mendukung klub kesayangan mereka dengan mars, “Mereka harus mengulanginya! Mereka harus mengulanginya!” Apa maksudnya? Tiada lain dan tiada bukan, mars itu ditujukan untuk peristiwa Holocaust, pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman. Itulah falsafah perjuangan para suporter sepakbola di Polandia.
Seperti kita tahu, Polandia merupakan salah satu negara yang paling subur dengan diaspora Yahudinya. Sebelum kehadiran Nazi, Polandia merupakan negara dengan Yahudi terbesar di Eropa dan kebudayaannya lekat dengan kaum Zionis itu. Tidak heran jika Hitler menjadikan Polandia sebagai tempat Holocaust. Setelah kejadian itu Yahudi di Polandia merunduk, baru pada awal 90an, tepatnya 1993, Yahudi kembali berkibar di negara itu. Mereka menguasai kembali semua sektor kehidupan di Polandia.
Hal inilah yang membuat sebagian bangsa Polandia asli yang sangat membenci kaum Yahudi. Pengaruh kebencian itu mereka bawa ke semua hal, salah satunya adalah sepakbola, olahraga yang menyatukan rakyat di Polandia. (sa/ww/ts)
Lainnya (Arsip)
- Siapa Yang Memerintah Amerika?
Senin, 25/05/2009 16:05 WIB - Sebuah 'Tempat' Untuk Menjelajahi Kehidupan Muslim Amerika
Senin, 25/05/2009 15:35 WIB - AS Kucurkan $91,3 Milyar Untuk Perang Afghanistan
Senin, 25/05/2009 14:57 WIB - Lagi, Ikhwan dan Kontroversi Syiah
Senin, 25/05/2009 13:49 WIB - Militer AS Akui Bunuh Lebih Banyak Warga Sipil di Afghanistan
Senin, 25/05/2009 13:40 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




