Polandia, Yahudi, dan Sepakbola

Selasa, 26/05/2009 06:38 WIB | Arsip | Cetak

Ross Kemp, jurnalis senior BBC, melakukan sebuah reportase sepakbola yang paling berani di muka bumi. Ia melakukan investigasi pada kelompok pendukung klub sepakbola di Polandia. Mengapa Polandia? Sepakbola di negara ini cenderung tidak populer dibandingkan liga-liga sepakbola Seri A Italia, Liga Primer Inggris, atau BBVA Spanyol.

Justru itu yang menjadi fokus perhatian Kemp. Di Polandia sepakbola adalah fenomena budaya yang tak pernah mati sepanjang tahun. Tingkat fanatisme suporter sepakbola Polandia sudah sangat pribadi. Misalnya saja klub Wisla Krakow. Klub papan atas Liga Skotlandia ini—dikenal dengan nama Liga Ekstraklasa—mempunyai suporter terbanyak di Polandia. Namun, mereka bukan hanya sekadar suporter, tetapi juga lebih merupakan refleksi dari kebanyakan masyarakat Polandia sendiri.

Suporter fanatik Wisla Krakow adalah para ekstremis sayap kanan dan jauh menyusup memengaruhi kebijakan para pengurus klub sendiri. Mereka sangat disegani oleh masyarakat Polandia, walau di sisi lain juga sangat ditakuti karena tindakan radikal mereka.

Suporter Wisla menampakan dirinya dengan atribut yang paling mudah dikenali yaitu “Bintang Putih.” Di dalam stadion, lagu mars mereka ketika mendukung tim kesayangannya berbunyi “Perang berlanjut setiap hari. Di jalanan. Di manapun!” Satu lagi teriakan mereka yang terkenal adalah “Yahudi bau! Yahudi Bau!”.

Kelompok suporter lain, Sylon yang berdomisili di Gorzow, mendukung klub kesayangan mereka dengan mars, “Mereka harus mengulanginya! Mereka harus mengulanginya!” Apa maksudnya? Tiada lain dan tiada bukan, mars itu ditujukan untuk peristiwa Holocaust, pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman. Itulah falsafah perjuangan para suporter sepakbola di Polandia.

Seperti kita tahu, Polandia merupakan salah satu negara yang paling subur dengan diaspora Yahudinya. Sebelum kehadiran Nazi, Polandia merupakan negara dengan Yahudi terbesar di Eropa dan kebudayaannya lekat dengan kaum Zionis itu. Tidak heran jika Hitler menjadikan Polandia sebagai tempat Holocaust. Setelah kejadian itu Yahudi di Polandia merunduk, baru pada awal 90an, tepatnya 1993, Yahudi kembali berkibar di negara itu. Mereka menguasai kembali semua sektor kehidupan di Polandia.

Hal inilah yang membuat sebagian bangsa Polandia asli yang sangat membenci kaum Yahudi. Pengaruh kebencian itu mereka bawa ke semua hal, salah satunya adalah sepakbola, olahraga yang menyatukan rakyat di Polandia. (sa/ww/ts)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang