Presiden Arroyo, Penghambat Perdamaian Muslim Moro

Jumat, 19/02/2010 14:00 WIB | Arsip | Cetak

Perundingan damai antara pemerintah Filipina dengan kelompok Islamis Moro kembali menemui jalan buntu. Kelompok Front Pembebasan Islam Moro (MILF) menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh pemerintah Filipina.

Juru runding MILF, Mohagher Iqbal mengatakan, pihaknya tidak bisa menerima proposal itu karena isi proposal masih menyiratkan bahwa pemerintah Filipina masih akan mengendalikan kehidupan di Mindanao, wilayah di selatan Filipina yang didominasi Muslim.

"Yang kami inginkan adalah sebuah negara yang riil dan hubungan sebagai negara bagian dimana kami memiliki pemerintahan sendiri yang nyata dan mengatur kehidupan kami sendiri," kata Iqbal.

"Kami tidak mau menjadi hanya menjadi wilayah administratif semata di wilayah kami," sambungnya.

Dalam proposalnya, pemerintah Filipina menawarkan pembagian kekuasaan bersama di Mindanao seperti dalam hal pemungutan pajak dan pengelolaan sumber-sumber alam. Sementara MILF beranggapan bahwa masalah-masalah itu adalah "domain leluhur" mereka di Mindanao.

Pertikaian terkait wilayah Mindanao, antara pemerintah Filipina dan Muslim Moro sudah berlangsung selama empat dekade. Pertikaian itu diwarnai dengan konflik senjata yang menyebabkan ribuan orang tewas di Mindanao dan sebagian lagi menjadi pengungsi.

Gesekan senjata antara kedua belah pihak kembali memanas pada Agustus 2008, setelah Mahkamah Agung Filipina membatalkan perjanjian yang telah disetujui oleh pemerintah dan MILF. Sejak itu, militer Filipina menggelar operasi militer di Mindanao hingga sekarang. Banyak warga Muslim Mindanao yang terpaksa tinggal di kamp-kamp dan tenda-tenda pengungsian untuk menghindari konflik.

Bulan Januari kemarin, pemerintah Filipina dan MILF sepakat untuk kembali ke meja perundingan. Tapi kesepakatan itu mentah lagi karena Presiden Arroyo menolak tuntutan warga Muslim yang meminta pemerintah memberikan otonomi ekonomi dan perluasan daerah otonomi Muslim yang sudah ada.

Kebuntuan menyebabkan proses perundingan damai terkatung-katung. Juru bicara kepresidenan Filipina, Eduardo Ermita mengatakan, kesepakatan damai dengan MILF sulit tercapai selama Arroyo masih menjabat sebagai presiden. Karena Arroyo tetap menolak tuntutan MILF agar Mindanao dijadikan negara federal.

Menurut Ermita, perundingan kemungkinan bisa dilanjutkan setelah Arroyo mengakhiri masa jabatannya akhir Juni mendatang. (ln/wb)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang