Rand Corp: Ribuan Veteran Perang Irak dan Afghanistan Alami Gangguan Mental
.jpg)
Ini sebenarnya bukan fakta baru, tapi memperkuat fakta yang sudah ada saja. Penelitian Rand Corporation mengungkap fakta tentang penderitaan tentara AS yang ditempatkan di Irak dan Afghanistan.
Rand Corporation menyimpulkan sekitar 300 ribu pasukan veteran AS di Irak dan Afghanistan, mengalami gangguan mental serius. Tapi dari jumlah itu hanya separuhnya saja yang melakukan pengobatan atas penyakit yang mereka derita.
Dalam kajian yang dilakukan sejak hari Kamis (17/4), Rand Corp menyebutkan ada 320 ribu orang tentara AS yang mengalami depresi selama mereka ditugaskan di Irak dan Afghanistan. Namun penelitian itu tidak sampai mengungkap tingkat depresi yang dialami, tapi hanya berupa laporan umum terkait penyakit mental yang diderita pasukan AS.
Dalam kajian non-pemerintah yang dianggap paling luas segmennya itu disampaikan bahwa kondisi gangguan mental menimpa 18, 5% dari sekitar satu setengah juta pasukan AS yang pernah ditugaskan di daerah operasi militer Irak dan Afghanistan. Jumlah ini dianggap sebagai jumlah yang mendekati jumlah dalam kajian sebelumnya. Kajian Rand Corp pada tahun 2007 menyebutkan bahwa 17, 9% pasukan AS mengalami depresi dan pada tahun 2006, 19, 1% pasukan AS mengalami depresi.
Akan tetapi kajian yang tertuang dalam 500 halaman itu melakukan penelitian terhadap 1.900 pasukan AS baik dari angkatan udara maupun darat. Disebutkan bahwa baru separuh dari total jumlah pasukan yang mengalami gangguan mental kini sudah menjalani perawatan. Diduga kuat, gangguan mental itu disebabkan tekanan kejiwaan yang hebat saat mereka bertugas, akibat serangan pejuang, atau mereka terluka atau juga melihat rekannya terluka parah sehingga memunculkan gangguan pikiran. Bentuk gangguan itu, bisa berupa kemunculan emosi dan kemarahan tiba-tiba, sikap paranoid, sulit tidur, atau sangat temperamental.
Terri Tanielian, salah satu peneliti dalam Rand Corp mengatakan, “Ada krisis besar yang dihadapi tentara pria dan perempuan yang pernah ditugaskan di Irak dan Afghanistan. Bila mereka tidak mendapatkan perawatan serius, diyakini akan ada dampak yang menimpa mereka dalam jangka panjang akibat depresi yang mereka diderita.” (na-str/iol)
Lainnya (Arsip)
- Pertama Kalinya, Saudi Gelar Festival Film
Jumat, 18/04/2008 17:22 WIB - Dianggap Menghina Islam, Pengadilan Singapura Tuntut Pasangan Suami Isteri
Jumat, 18/04/2008 15:11 WIB - Editor "Jyllands Posten" Diberitakan Tewas Dalam Kebakaran Misterius
Jumat, 18/04/2008 14:44 WIB - Dituduh Ajarkan Islam, Sebuah Sekolah di AS Terima Banyak Ancaman
Jumat, 18/04/2008 11:45 WIB - Reuters Tuntut Israel Lakukan Penyelidikan Atas Kematian Juru Kameranya
Jumat, 18/04/2008 10:39 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




