Ribuan Nyawa Anak-Anak Irak Terancam, Akibat Tak Ada Obat
.jpg)
Penderitaan rakyat Irak mulai memasuki masa kritis dari sisi kesehatan, hingga berpotenisi menimbulkan banyak kematian.
Kondisi ini bukan hanya terjadi sejak invasi AS di Irak, melainkan sejak penolakan Barat terhadap kepemimpinan Saddam Husein yang kemudian melakukan blokade ekonomi atas Irak. Sejak tahun 1990-an sampai sekarang, hukuman berupa embargo ekonomi itu tak kunjung dicabut. Padahal, Saddam Husein, sang mantan Presiden Irak itu sudah wafat.
Tudinganpun mulai diarahkan ke AS dan sekutunya Inggris. Sekitar 100 orang dokter berkebangsaan Irak dan Inggris mengirimkan surat kepada PM Inggris Tony Blair. Isinya menuduh Washington dan London bertanggung jawab atas wafatnya ribuan anak-anak Irak yang tadinya terluka tapi tidak mendapat perawatan memadai di rumah sakit. Mereka juga menuding bahwa banyak pasien yang menderita sakit di berbagai rumah sakit Irak kondisinya semakin parah karena sangat kekurangan obat dan tidak memperoleh dokter yang bisa menangani mereka. Kondisi seperti itu, tambah mereka, terjadi sejak dimulainya invasi AS atas Irak di tahun 2003.
Surat ini dipublikasikan oleh The Independent, harian Inggris. Menteri Pembangunan Nasional Hillary Ben menjawab surat itu dengan menyampaikan rasa kegalauannya saat membaca isinya. Ia mengakui adanya banyak permasalahan dalam pemberian bantuan kesehatan di Irak, tapi ia mengaku bertanggung jawab atas kondisi yang kini dialami pemerintah Irak.
Sesuai perjanjian Jenewa, Inggris memang layak dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembantaian dalam perang, karena Inggris telat dalam memberi pengobatan terhadap anak-anak yang menjadi korban perang.
Para dokter itu juga menyampaikan suratnya ke Jenewa dan mengatakan, “Seluruh kekuatan militer yang ada di Irak harus memelihara bantuan kesehatan bagi rakyat yang dijajahnya. Ini yang tidak dilakukan oleh militer yang ada di Irak sampai saat ini, sehingga mengakibatkan kegagalan pelayanan rumah sakit bagi anak-anak yang mengalami situasi sangat memprihatinkan.”
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB juga telah mengakui pada tahun 2003 dalam resolusi nomor 1483, bahwa militer AS dan sekutunya, termasuk Inggris, adalah pihak penjajah di Irak. (na-str/iol)
Lainnya (Arsip)
- Kristen Koptik Mesir Menolak Islam Sebagai Sumber Asasi Hukum Mesir
Sabtu, 20/01/2007 11:59 WIB - Anggota DPR AS Buat Gerakan untuk Cegah Serangan ke Iran
Jumat, 19/01/2007 17:14 WIB - Mahmud Abbas Akan Bertemu Khaled Mishal di Suriah
Jumat, 19/01/2007 16:00 WIB - Inilah Kebijakan Baru Dephan AS Bagi Para Tersangka Teroris
Jumat, 19/01/2007 15:00 WIB - Qatar Gelar Konferensi Internasional, Dekatkan Sunni-Syiah
Jumat, 19/01/2007 14:11 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




