Saudi Menolak Larangan Valentine?
Inilah yang tertinggal dari hari Valentine, 14 Februari lalu. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hari kasih sayang yang bathil itu tahun ini memberikan sesuatu yang berbeda. Secara terang-terangan, beberapa media lokal di Saudi menolak larangan hari Valentine.
Tahun ini, secara terang-terangan, banyak rakyat Saudi yang terang-terangan menyatakan merayakan hari Valentine. Kepada Saudi Gazette, Noha, seorang mahasiswi mengatakan:
"Tahun ini tunangan saya bekerja di Riyadh, dan saya tidak bisa merayakan hari kasih saying itu dengan dia, itu sebabnya saya mencoba mencari cara untuk mengirimkan hadiah melalui surat, tanpa memberitahu keluarga saya. Mengirim hadiah atau merayakan Hari Valentine adalah sesuatu yang memalukan dalam keluarga saya - itu sebabnya saya mencoba untuk menyembunyikan masalah ini, meskipun saya merayakannya dengan tunangan saya."
Saudi Gazette melaporkan bahwa beberapa toko juga menentang larangan dengan menjual hadiah, cokelat dan bunga.
"Kami menampilkan koleksi hadiah Valentine tanpa iklan bahwa itu adalah untuk Hari Valentine." Kata seorang pemilik toko.
Dan jangan juga dilupakan lewat internet. "Beberapa pasangan telah berpaling ke cara elektronik untuk mengungkapkan kasih mereka satu sama lain. Internet digunakan untuk mengirim e-kartu Hari Valentine, hadiah, bunga, dan lagu-lagu melalui email, Facebook, Twitter, dan situs web lainnya. Banyak anak muda Saudi yang menggunakan alat elektronik untuk mengirim pesan ke orang yang mereka cintai tanpa takut dikritik oleh pemerintah atau masyarakat."
Tapi menurut Arab News juga ada pihak yang menentang hari Valentine dengan keras.
"Kebudayaan Barat mengorbankan ajaran agama kami, dan itu sangat berbahaya. Ini akan mengikis aspek-aspek kebudayaan kami dan menyimpang kita dari agama kami. Bahkan musik dan orang-orang yang perdagangan itu harus dilarang."
Dan seorang guru wanita mengatakan:
"Apa selanjutnya? Apakah kita akan dipaksa untuk membeli dan menghias pohon Natal? Mengapa anak muda kita begitu mudah tertarik pada aspek kurang penting pada budaya barat? Mengapa mereka tidak bisa mengadopsi karakteristik yang lebih serius dari masyarakat itu seperti kerja keras, disiplin, dan etos kerja yang tepat? Ini adalah generasi yang hilang." (sa/albab)
Lainnya (Arsip)
- Di Marjah, Pasukan NATO Kelimpungan Hadapi Perlawanan Taliban
Selasa, 16/02/2010 13:41 WIB - Resto Cepat Saji Mengganti Menu Halal, Umat Kristen Prancis Protes
Selasa, 16/02/2010 13:04 WIB - Presiden Palestina Ancam Boikot KTT Liga Arab
Selasa, 16/02/2010 11:22 WIB - Harian Al-Watan di Kuwait Didenda 3.000 Dinar
Selasa, 16/02/2010 10:20 WIB - Bicara Soal Israel, Anggota Legislatif Inggris Dipecat
Selasa, 16/02/2010 10:19 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




