Senapan Macet, Rahasia Kegagalan AS di Afghanistan
Apa ukuran keberhasilan atau kegagalan AS di Afghanistan? Pengiriman pasukan yang tiada henti, dan juga protes sana-sini, tampaknya cukup menjadi indikasi kemana arah dan peta AS di negeri para Mullah itu.
Beberapa pihak menyatakan bahwa kegagalan strategi Amerika di Afghanistan adalah karena tidak canggihnya persenjataan yang digunakan oleh militer Amerika di negara itu untuk melawan kaum Mujahidin.
Tidak sedikit tentara AS di Afghanistan yang memberikan kesaksian akan perihal ini. Mereka mengatakan bahwa senjata yang mereka bawa tidak selalu berfungsi ketika mereka ingin menggunakannya. Seperti yang dialami oleh Sersan Erich Phillips, Karabin M4 tidak bisa lagi dipakai untuk menembak. Senapan mesin nya pun sama juga. Padahal, dia mengakui bahwa kondisi yang ada ada waktu itu begitu membuatnya putus asa: para Mujahidin melancarkan serangan dari segala arah menuju pangkalan Amerika di Wanat, tahun lalu.
Keluhan tentang senjata militer AS, terutama M4, sebenarnya bukan hal baru. Padahal, jika benar berfungsi, M4 bisa menembakkan lebih dari 3.000 butir peluru. Selain itu, para prajurit juga mengalami kesulitan dengan senapan mesin M249, yang lebih besar daripada M4. M249 adalah senjata yang dapat menembak hingga 750 putaran per menit.
Satu contoh adalah Jason Boğar yang menembakkan sekitar 600 peluru dari M-249 sebelum senapan itu menjadi terlalu panas dan kemudian macet. Boğar sendiri kemudian terbunuh dalam pertempuran, tetapi tak seorang pun melihat bagaimana ia meninggal.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Douglas Cubbison of the Army Combat Studies Institute at Fort Leavenworth dan berdasarkan penyelidikan dan wawancara dengan para prajurit yang selamat dari serangan, selain cacat senjata, kegagalan AS juga karena serangan pada pihak Mujahidin yang terkoordinasi dengan baik dan solid dalam menggunakan AK-47 dan granat roket, dua alat serang Mujahidin yang paling favorit.
Laporan itu mengatakan bahwa kaum Mujahidin "berpengalaman,kuat, sangat terampil, dan taktis!"
Namun demikian, tentara AS mengatakan bahwa senjata mereka rutin dirawat dan diperiksa oleh para komandannya. (sa/poj)
Lainnya (Arsip)
- Si Pembuat Film Fitna Itu Boleh Masuk Ke Inggris Lagi
Rabu, 14/10/2009 13:41 WIB - Racun Misterius di Ground Zero
Rabu, 14/10/2009 13:28 WIB - Ironi Para Peraih Nobel Perdamaian
Rabu, 14/10/2009 10:57 WIB - Perang Retorika Turki-Israel Pasca Pembatalan Latihan Militer Bersama
Rabu, 14/10/2009 08:12 WIB - Siapa Syeikh Al Azhar Tantawi?
Rabu, 14/10/2009 06:07 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




