Standar Ganda Eropa: Salib Di Kelas Ya, Islam dan lainnya, Tidak!

Tiga anak-anak masuk ke sekolah negeri di Eropa—seorang Muslim, Sikh, dan seorang ateis. Muslim dan Sikh dikeluarkan karena mereka mengenakan pakaian agama: jilbab bagi gadis Muslim, dan serban untuk anak laki-laki Sikh. Ateis disambut ke sekolah, tetapi merasa tidak nyaman karena kelasnya memasang sebuah salib besar di salah satu dinding. Kebebasan beragama siapa yang telah dilanggar?
Jika Anda mengatakan Muslim dan Sikh, Anda salah—setidaknya menurut Pengadilan Eropa Hak Asasi Manusia. Pengadilan tersebut baru-baru ini mengejutkan Eropa dengan diharuskannya setiap kelas di Eropa memasang salib. kehadiran sebuah salib mengganggu hak siswa untuk memilih agama mereka sendiri.
Hanya empat bulan yang lalu, pengadilan Prancis melarang anak-anak mengenakan simbol-simbol keagamaan di sekolah-sekolah pemerintah. Jasvir Singh, seorang Sikh yang berumur 14 tahun, dikeluarkan dari sekolah karena mengenakan keski-kecil, kain serban mirip dengan yarmulke Yahudi. Dia dipaksa untuk menyelesaikan sekolahnya di sebuah sekolah Katolik yang lebih toleran.
Demikian pula, hanya beberapa tahun yang lalu, Mahkamah mengharuskan sebuah universitas Turki untuk melarang mengenakan jilbab. Leyla Sahin, seorang Muslim Turki yang taat, dilarang ikut ujian atau mendaftar di kelas tambahan, dia terpaksa pindah ke Austria untuk menyelesaikan studi kedokteran, namun masih tetap mengenakan jilbabnya.
Singkatnya, menurut Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa, sejalan dengan perjanjian internasional, mereka mengaku memiliki otoritas yang mengikat pada isu-isu hak asasi manusia atas seluruh 47 negara di Uni Eropa. Jadi sekolah-sekolah pemerintah akan mengusir siswa yang mengenakan pakaian agamanya; tetapi dalam waktu yang bersamaan sekolah juga menyambut anak-anak dengan salib di dinding.
Mungkin Eropa harus kembali mengingat Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang mengatakan, "Semua manusia dilahirkan bebas" dan "dikaruniai akal dan hati nurani."
Sebuah komitmen yang serius terhadap hak asasi manusia menuntut pemerintah Eropa untuk menghormati impuls keagamaan. Jika Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia tidak bisa melewati ketakutan agamanya, maka hukum hanya akan menjadi lebih jelas berpihak pada siapa, namun hak asasi manusia yang mereka gembor-gemborkan lebih rapuh. (sa/wallstreetjournal)
Lainnya (Arsip)
- Takut Sergapan Taliban, Pasukan Inggris Rancang Seragam Khusus
Selasa, 22/12/2009 08:23 WIB - Takut Pada Yahudi, Mr. Carter?
Selasa, 22/12/2009 07:27 WIB - Amerika Ramai-Ramai Berhenti Kecanduan Facebook
Selasa, 22/12/2009 05:53 WIB - Tiger Woods: Person of The Year
Selasa, 22/12/2009 05:27 WIB - Dubes Israel: "Virus Pelecehan" Terhadap Israel Menyebar Luas di Inggris
Senin, 21/12/2009 17:03 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




