Survei: Mayoritas Warga Israel Tidak Ingin Ada Pelajar Arab di Kelas Mereka

Dua pertiga dari remaja Israel mengatakan bahwa pelajara Arab yang tinggal di Israel tidak menikmati hak yang sama di sekolah, menurut sebuah hasil penelitian.
Survei, yang disiapkan untuk sebuah konferensi bertajuk "Pendidikan di Era Digital" di utara kota Haifa pada hari Senin kemarin (6/9), juga mengungkapkan bahwa 59 persen dari remaja berusia 15-18 tahun percaya bahwa pelajara Arab tidak harus memiliki hak yang sama di sekolah-sekolah yang ada di Israel.
Menurut survei, 96 persen responden ingin Israel menjadi negara Yahudi dan demokratis.
Namun, 27 persen percaya bahwa mereka yang keberatan dengan kebijakan pemerintah harus diadili di pengadilan, sementara 41 persen mendukung pencopotan hak kewarganegaraan mereka.
Hanya di bawah sepertiga yang mengatakan mereka tidak akan mau belajar di ruang kelas dengan satu atau lebih siswa dengan kebutuhan khusus. Jumlah ini meningkat menjadi setengah dengan pertanyaan yang sama ketika ditanya tentang mahasiswa Arab. Selain itu, 23 persen mengatakan bahwa mereka tidak ingin ada gay atau lesbian di kelas mereka.
Jajak pendapat juga mengungkapkan bahwa 40 persen dari pemuda Yahudi tidak pernah menjadi bagian dari kelompok pemuda, sementara 45 persen tidak pernah secara sukarela dalam kapasitas apa pun.
Sehubungan dengan melayani di tentara Israel, 83 persen mengatakan bahwa mereka tidak ragu bahwa mereka akan melayani militer Israel, tapi sekitar setengah mengatakan bahwa mereka memiliki teman-teman yang tidak berencana untuk mendaftar menjadi militer.
Lebih dari separuh responden survei mengatakan bahwa mereka tidak ingin bergabung di unit-unit tempur tentara Israel.
Pada tanggapan terhadap pertanyaan apakah mereka akan melayani di wilayah-wilayah pendudukan atau tidak, 24 persen mengatakan mereka akan menolak, 47 persen mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukannta, sementara sisanya belum memutuskan.
Survei ini dilakukan oleh Profesor Camil Fuchs dari Departemen Statistik Universitas Tel Aviv bekerjasama dengan perusahaan Sample Project. Lima ratus orang berusia antara 15 dan 18 yang disurvei. (fq/arabnews)
Lainnya (Arsip)
- Pelajar Afghan Demo Kecam Rencana Pembakaran Al-Quran Gereja AS
Selasa, 07/09/2010 08:20 WIB - Peringatan Petraeus: Rencana Membakar Quran Itu Akan Membahayakan Amerika Di seluruh Dunia
Selasa, 07/09/2010 06:48 WIB - Pembentukan Negara Israel: Washington, Mesir, Dan Rusia?
Selasa, 07/09/2010 06:26 WIB - Bukan Taliban Yang Menculik Kosuke Tsuneoka
Selasa, 07/09/2010 06:11 WIB - Muslim Malaysia Protes Iklan Lebaran Mirip Iklan Santa Klaus Natal
Senin, 06/09/2010 16:39 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




