Tanggapi Islamophobia, Presiden Libya Tulis Novel dan Skrip Film

Selain dikenal sebagai sosok flamboyan, Presiden Republik Rakyat Demokratik Libya Kolonel Moammar Qaddafi juga dikelan sebagai seorang seniman. Baru-baru ini, Qaddafi tengah memproyeksikan untuk memproduksi film serial untuk menanggapi fenomena Islamophobia atau pandangan negatif terhadap Islam.
Uniknya, Qaddafi tampil sebagai penulis skrip film tersebut, pengarah alur sekaligus produsernya. Film serial itu akan memotret drama kehidupan yang secara natural terjadi di wilayah sekitar Laut Tengah (Mediterania), yang bermula dari wilayah Arab, lalu menyeberang ke Eropa, lalu bergerak ke arah timur, melintasi Turki, Asia Tengah, hingga sampai ke Iran.
Selain memotret kisah kehidupan di beberapa wilayah tersebut, film juga akan berbicara tentang kesewenang-wenangan penguasa, masyarakat yang korup, kediktatoran, hubungan penduduk dengan sistem penguasa, sekaligus memotret sisi hubungan antara umat Muslim dan non-Muslim.
Inti keseluruhan dari cerita film Qaddafi ini bermuara pada misi untuk mengikis persepsi kurang baik dunia Barat terhadap dunia Arab dan Islam (Islamophobia).
Qadzafi akan memberikan proyek sinema ini kepada Fadhl 'Aqqad sebagai penyunting naskah, juga kepada sutradara kenamaan Suriah Ziyad ar-Rayes. Rencananya, serial ini akan diputar di televisi-televisi Timur Tengah pada bulan Ramadhan tahun depan.
Jika sukses dan ditayangkan di layar kaca, maka film ini adalah film hasil garapan pemimpin Arab pertama sepanjang sejarah. Qaddaffi memang terbilang rajin menulis, baik buku politik, sosial, hingga susastra.
Beberapa karya (sastra) Qaddafi tercatat mendapatkan apresiasi yang hangat dari dunia susastra Timur Tengah, seperti kumpulan cerpennya "al-Qaryah, al-Ardh, wa Intihar Raid al-Qadha" (Desa, Bumi, dan Bunuh Diri Pelopor Hukum), juga novelnya "az-Zhulm: Sanawat al-'Adzab" (Kezaliman: Tahun-Tahun Siksaan) yang mengisahkan penderitaan dan perjuangan rakyat Libya melawan penjajahan Italia.
Selain Qaddafi, Libya juga memiliki seorang sastrawan besar lain, yaitu Ibrahim al-Kouni. Karya-karya al-Kouni telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 25 bahasa dunia. (L2/aby)
Lainnya (Arsip)
- Menlu Irak Menyerukan Campur Tangan PBB
Selasa, 27/10/2009 16:43 WIB - Pengacara Eropa: Kami Sudah Punya Daftar Pelaku Kejahatan Perang di Gaza
Selasa, 27/10/2009 15:40 WIB - Protes Perang di Afghanistan, Pejabat AS Mengundurkan Diri
Selasa, 27/10/2009 14:18 WIB - Muslim Spanyol Luncurkan Lembaga Payung Bagi Para Imam dan Da'i
Selasa, 27/10/2009 13:12 WIB - Pemimpin Libya: Arab, Bahkan Palestina Boleh Punya Senjata Nuklir
Selasa, 27/10/2009 12:28 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




