Teka-Teki Insiden Fort Hood, Hasan Menolak Bicara
Spekulasi apa sebenarnya motif dibalik aksi penembakan di Fort Hood terus bergulir di AS. Senat AS menyatakan akan melakukan penyelidikan penuh atas kasus ini. Sementara FBI mengait-ngaitkan aksi penembakan yang dilakukan Mayor Nidal Malik Hasan dengan seorang imam Muslim yang oleh AS diklaim radikal dan dekat dengan kelompok teroris.
Presiden AS Barack Obama secara khusus menghadiri upacara pemakaman 13 tentara AS yang menjadi korban dalam aksi penembakan itu, Selasa (10/11) waktu setempat. Dalam pidatonya, Obama menyatakan bahwa pelakunya akan diadili baik di dunia maupun di akhirat.
"Mungkin sulit memahami logika bengkok yang menyebabkan tragedi ini terjadi, tapi kita semua tahu bahwa tidak ada satu pun keyakinan yang membenarkan pembunuhan dan tindakan pengecut seperti ini. Kita semua tahu bahwa pelakunya akan menghadapi pengadilan di dunia maupun di akhirat kelak," ujar Obama dalam pidatonya.
Hasan dan Imam Radikal
Sampai saat ini, apa motif Hasan melakukan aksi penembakan itu belum terungkap. Tapi sejumlah laporan yang muncul, mengaitkan motif penembakan dengan hubungan antara Hasan dengan Anwar Al-Awlaki, seorang imam Muslim keturunan Yaman, kelahiran AS. Oleh pemerintah AS, Imam Al-Awlaki dianggap sebagai salah seorang pemuka Muslim yang menganut pemikiran radikal.
Al-Awlaki pernah menjadi imam di Islamic Center Dar Al-Hijrah, Falls Church, Virginia pada tahun 2001 dan Hasan disebut-sebut sering datang ke tempat itu untuk ikut salat berjamaah, termasuk dua pelaku yang oleh AS dituding terlibat serangan 11 September.
Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa Imam Al-Awlaki yang kini menetap di Yaman, memuji apa yang telah dilakukan Hasan dan menyebut Hasan sebagai "pahlawan." Tapi sejumlah pemuka Muslim di AS menegaskan, tidak ada satu pun ajaran Islam yang membenarkan tindakan Hasan.
"Apa yang dilakukan Hasan jelas bertentangan dengan hukum Islam, meski dari pemberitaan disebutkan bahwa Hasan seorang Muslim yang taat," kata Feisal Abdul Rauf, seorang imam di New York dan pimpinan Cordoba Initiative.
"Saya khwatir insiden ini akan menimbulkan reaksi negatif orang-orang Amerika terhadap agama Islam dan Muslim di negeri itu," sambungnya.
Sementara cendikiawan Muslim, Akbar Ahmed menyatakan, Fort Hood adalah sebuah kamp dan bukan zona perang dan Hasan melakukan tindakan itu tidak ditengah-tengah peperangan. "Islam dengan jelas memberikan aturan tentang perang. Kalifah Abu Bakar menetapkan aturan bahwa tidak boleh membunuh kaum perempuan, ulama dan merusak tumbuh-tumbuhan," ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Imam Zaid Shakir, Imam di Zaytuna Institute, California. " Membunuh orang tak berdosa sama artinya membunuh seluruh umat manusia," tukasnya.
Organisasi Muslim terbesar di AS, Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengkritik mereka yang memuji tindakan Hasan di Fort Hood. "Menyebut seorang pelaku pembunuhan sebagai pahlawan, sama artinya melecehkan prinsip-prinsip keadilan dalam Islam," kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad dalam pernyataan resminya.
Ia juga menolak jika Muslim AS dikaitkan dengan Imam Al-Awlaki. Menurutnya, artikel-artikel yang ditulis Al-Awlaki dan diposting di dunia maya, mengandung pandangan-pandangan yang menyesatkan. "Dan itu tidak mewakili pandangan seluruh Muslim Amerika dan tidak merefleksikan sentimen atau ajaran Islam pada umumnya," tukas Awad.
Sementara itu, tim FBI yang mengklaim telah memonitor email-email Imam Al-Awlaki mengatakan bahwa Awlaki melakukan kontak dengan Hasan melalui email sedikitnya 10 sampai 20 kali. Tapi menurut FBI tidak perlu ada penyelidikan lebih lanjut karena isi email-email tersebut tidak berbahaya.
FBI juga menyatakan bahwa insiden penembakan di Fort Hood tidak ada kaitannya dengan aksi teroris atau jaringan terorisme serta tidak ada bukti bahwa ada konspirasi dibalik insiden berdarah itu.
Penyelidikan Penuh
Tim investigasi kasus Fort Hood masih terus mencari motif dibalik insiden penembakan itu. Pada saat yang sama , Pimpinan Komite Keamanan Dalam Negeri Senat AS, Senator Joe Lieberman menyatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan penuh atas kasus yang disebutnya sebagai "serangan mematikan" dan akan menggelar dengar pendapat publik mulai pekan depan.
"Serangan mematikan ini harus diselidiki hingga tuntas dari setiap aspek, untuk memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi," tandasnya.
Lieberman mengatakan, penyelidikan akan dilakukan seputar apa motif Hasan melakukan penembakan dan apakah pemerintah telah lalai dalam memberikan sinyal kewaspadaan yang bisa mencegah insiden itu serta pelajaran apa yang bisa diambil AS dari kasus tersebut.
Mayor Hasan sendiri, yang saat ini masih dirawat di rumah sakit militer, dikabarkan sudah mulai pulih dari luka tembak yang dialaminya, tapi menolak dimintai keterangan oleh tim investigasi. Kasus Hasan akan disidangkan dalam pengadilan militer.(ln/iol/bbc/time)
Dunia Islam Sebelumnya
(Arsip Dunia Islam)
5 Terpopuler
- Pelatih Sepak Bola Mesir: Saya Lebih Baik Mati Kelaparan Daripada Melatih Israel!
- Tak Ada Penghormatan Untuk Saddam Hussein Di Negara Arab
- Saudi dan Suriah Rebutan Anak Perempuan Bin Ladin
- Antara Khilafah dan Khalifah
- Juragan-Juragan Arab Berinvestasi di Hollywood
- Gaji Saya Kecil, Pak!
- Hukum Nonton Film Porno






