Terlambat, Mr. Bush!
Menjelang lengsernya George W. Bush sebagai presiden AS, sebuah ungkapan penyesalan meluncur darinya. Ia menyesal bahwa ia telah merancang kampanye perang, khususnya di Iraq dan Afghanistan.
Tahun 2003, Bush mengaku ia mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk menyerang Iraq dan Afghanistan. Dalam pidatonya, ia menginspirasikan sebuah “perang suci”. “Saya merasa Tuhan menginginkan saya untuk terlibat dalam pemilihan presiden AS. Saya tidak dapat menerangkannya, tapi saya bisa merasakan kalau bangsa AS memerlukan hal itu (perang). Saya tahu, perang ini bukan sesuatu yang mudah bagi saya dan keluarga saya, tapi saya yakin Tuhan menghendaki saya untuk berbuat seperti ini.” demikian Bush.
Sekarang, setelah sembilan tahun berlalu sejak peperangan pertama Bush ke Afghansitan atas dalih WTC, Bush menghadapi kenyataan bahwa keyakinannya sama sekali tak terbukti. Ketika ia menyatakan penyesalannya, ia jelas tidak mau disalahkan. Dalam wawancaranya dengan ABC News, Bush mengatakan bahwa kesalahan itu tidak terlepas dari andil dinas intelijen AS pula.
Ketika akhirnya Bush meninggalkan kursi kepresidenannya, ia meninggalkan segudang masalah di Iraq dan Afghanistan yang tidak selesai dan yang paling miris adalah krisis ekonomi global di AS yang parah. Komentar Bush? “Tentu saja, saya tidak suka orang kehilangan pekerjaannya, atau takut akan 401(k) (tunjangan pensiun di AS). Lagipula warga negara AS tahu bahwa kita akan bisa menyelamatkan sistem ini. Maksud saya, kita semua di sini. Dan jika kita diminta untuk melakukan hal ekstra, kita akan sama-sama melakukannya.”
Tampak jelas, bahwa sebelum pergi, Bush ingin sekali menikmati masa pensiunnya dengan tenang tanpa disalahkan siapapun. Tapi warga AS sendiri bahkan sudah terlanjur muak pada retorika Bush tersebut. Terutama karena Bush tidak menyadari (atau berpura-pura tidak menyadari) bahwa krisis ekonomi yang terjadi selama kepemimpinannya itu dikarenakan nafsunya dalam kampanye menghabisi Iraq dan Afghanistan yang tidak realistis.
Pernyataan maafnya sama sekali tidak cukup. Sekarang, Afghansitan dan Iraq berubah menjadi negara tanpa bentuk. Umat Muslim di kedua negara itu terbunuh demikian murah dan mudahnya, bahkan mungkin harganya tidak lebih mahal daripada makanan anjing yang dijual di AS. Rakyat AS di ambang sekarat, dan para veteran tentara AS mengecam kepergian dan tugas mereka selama di medan perang. Terlambat, Mr. Bush! (sa/poj)
Lainnya (Arsip)
- Polandia, Yahudi, dan Sepakbola
Selasa, 26/05/2009 06:38 WIB - Siapa Yang Memerintah Amerika?
Senin, 25/05/2009 16:05 WIB - Sebuah 'Tempat' Untuk Menjelajahi Kehidupan Muslim Amerika
Senin, 25/05/2009 15:35 WIB - AS Kucurkan $91,3 Milyar Untuk Perang Afghanistan
Senin, 25/05/2009 14:57 WIB - Lagi, Ikhwan dan Kontroversi Syiah
Senin, 25/05/2009 13:49 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




