Tiga Ledakan Bom Mengiringi Eksekusi "Chemical Ali"
.jpg)
Tiga ledakan bom di tiga tempat berbeda di kota Baghdad, mengiringi proses hukuman mati terhadap Ali Hassan Al Majid di tiang gantungan, Senin (25/1). Sementara, warga Kurdi di Irak mengungkapkan kegembiraannya atas eksekusi terhadap sepupu mantan penguasa Irak Saddam Hussein yang oleh media Barat dijuluki "Chemical Ali" itu.
Hidup Al-Majid, 68 tahun berakhir di tiang gantungan setelah pengadilan Irak menjatuhkan vonis hukuman mati pekan kemarin. Ia didakwa bertanggungjawab atas insiden pembantaian dengan menggunakan gas beracun, di kota Halabja tahun 1988 yang menyebabkan sekitar 5.000 orang, mayoritas warga Kurdi Irak tewas.
Satu-satunya publikasi atas proses hukuman mati orang kepercayaan Saddan Hussein itu adalah dua foto yang ditayangkan secara singkat oleh stasiun televisi nasional Irak. Satu buah foto menampakkan Al-Majid yang mengenakan seragam tahanan berwarna merah dan satu foto lagi menampakkan sosok-diklaim sebagai Al-Majid-yang bagian kepalanya di tutup kain hitam berdiri di dekat tiang gantungan. Jubir pemerintah Irak, Ali Dabagh hanya mengumumkan kematian Al-Majid tanpa memberikan keterangan detil tentang proses eksekusi.
Beberapa saat sebelum Dabagh mengumumkan kematian Al-Majid, tiga insiden ledakan bom terjadi di dekat Hotel Sheraton, Hotel Babil dan Hotel Palestine di kota Baghdad. Ledakan itu menewaskan 37 orang dan melukai 71 orang. Tiga serangan bom itu memicu spekulasi balas dendam atas eksekusi Al-Majid.
Ali Dabagh menuding kelompok-kelompok yang setia pada Saddam Hussein berada dibalik insiden ledakan bom itu. Namun penasehat dewan kabinet Irak, Saad Al-Mutalabi mencurigai kelompok Al-Qaida sebagai dalang serangan itu.
Reaksi Warga Kurdi
Sementara itu, sebagian besar warga Kurdi Irak mengungkapkan kegembiraannya atas eksekusi Al-Majid. "Saya mendengar berita eksekusi para kriminal yang tangannya berlumuran darag warga tak berdosa. Inilah hari yang membahagiakan bagi warga Kurdi," kata Saman Faruq, warga Kurdi Irak.
"Sebagai orang Kurdi, saya senang atas keputusan eksekusi itu. Saya harap eksekusi itu bisa menjadi acuan bahwa peristiwa Halabja adalah peristiwa genosida," ujar Behnam Karim, warga Kurdi lainnya.
"Saya ingin mencium tali gantungan yang digunakan untuk mengeksekusi Al-Majid," tukas seorang warga Kurdi yang delapan anggota keluarganya menjadi korban pembantaian tahun 1988. (ln/prtv/aljz/yn)
Lainnya (Arsip)
- Anda Keliru, Hamid Karzai! Taliban Tak Dapat Dibeli!
Selasa, 26/01/2010 11:52 WIB - Draft Rencana Perang Inggris di Afghanistan Bocor ke Publik
Selasa, 26/01/2010 11:00 WIB - Misteri Kematian Kelly: Bukti-Bukti Disembunyikan Selama 70 Tahun
Selasa, 26/01/2010 09:42 WIB - Program TV "Cuci Otak" AS terhadap Anak-Anak Pakistan
Selasa, 26/01/2010 08:59 WIB - Pemberontak Syi'ah Houthi Akhirnya "Menyerah"
Selasa, 26/01/2010 08:29 WIB
Dunia
Terkait
Education Corner
Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …
Badan Wakaf Al-Quran
Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali
Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…
Aksi Cepat Tanggap
Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan
Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma
LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang
BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…




