Tragedi Xinjiang: Belajar dari Sikap Tegas Turki

Kamis, 16/07/2009 09:51 WIB | Arsip | Cetak

Kedutaan Besar Republik Turki untuk Cina yang berkantor di Peking, mengeluarkan peringatan resmi kepada warga negaranya yang berada di Cina untuk lebih waspada menyusul meledaknya aksi kekerasan di wilayah Xinjiang (Uighur), Turkistan Timur beberapa hari lalu.

Dalam keterangannya, sumber kedubes Turki di Peking menjelaskan telah mengeluarkan peringatan tersebut kepada warga negaranya yang hidup di Cina, serta menghimbau mereka untuk segera melapor kepada pihak keduataan jika mendapatkan "hal-hal yang tidak diinginkan terkait kasus Xinjiang".

Peringatan ini dikeluarkan menyusul kecaman Turki atas peristiwa Xinjiang, termasuk di dalamnya demonstrasi ribuan warga Turki yang mengecam Cina, boikot produk Cina di Turki yang dilakukan langsung oleh Menteri Industri Turki, hingga kecaman dari Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan.

Erdogan, dalam sebuah jumpa persnya sekitar sepekan lalu, mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan etnis Han dan keamanan Cina kepada rakyat Xinjiang yang mayoritas beretnis Turkistan dan beragama Islam. Erdogan bahkan menyebut peristiwa itu sebagai "holocaust", dan menyeretnya ke sidang G-8 yang digelar di Roma, Italia.

Pemerintahan Cina pun beraksi berang atas pernyataan Erdogan, dan menuntut PM kharismatik itu untuk meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

Xinjiang (Uighur) sendiri sejatinya adalah "Republik Turkistan Timur" yang dijajah Cina sejak tahun 1948. Xinjiang memiliki keterikatan yang sangat dekat dan erat dengan Turki, karena dipertemukan oleh ras, bahasa, dan budaya yang sama, yaitu Turkistan. Orang-orang Uighur adalah etnik Turki, berbahasa dan berbudaya Turki, serta beragama Islam, yang justru jauh berkait dengan Cina.

Secara geografis, penyebaran etnik, bahasa, dan budaya Turki menyebar mulai dari Xinjiang (wisi Timur), Asia Tengah-Transoxiana (meliputi Tajikistan, Kyrgistan, Uzbekistan, Kazajhstan, Turkmenistan), Kaukasus-Kaspiania (Azerbaijan, Tatarstan), hingga Anatolia (Republik Turki Modern).

Reaksi Turki atas apa yang menimpa "saudara kandung" mereka tidaklah berlebihan. Yang justru disayangkan, negara-negara Arab belum ada yang mengeluarkan reaksi, kecaman, dan sikap setegas Turki, juga belum ada demonstrasi sebesar di Turki. Di negara-negara Arab, tragedi yang menimpa Muslim Xinjiang justru "kalah meriah" dan kalah pamor oleh isu terbunuhnya seorang Muslimah berjibab di Jerman beberapa pekan silam.

Padahal, ketika Gaza dibumihanguskan oleh Israel awal tahun lalu, Turkilah yang paling bersuara lantang dan paling menunjukan sikap tegasnya, jauh melebihi sikap negara-negara Arab yang malah melempem.

Semenjak tampuk kepemimpinan Turki dipegang oleh Erdogan sejak 2002 silam, Turki kian aktif bersuara di hadapan serangkaian problem-problem dunia Islam. Lewat Erdogan, Turki seakan kembali menunjukan sosoknya sebagai pemimpin dunia Islam dan khilafah Islamiyyah yang berkewajiban melindungi dan membela hak-hak dan harga diri umat Islam, meskipun Turki sebagai negara sekuler totok.

Dan kini, di hadapan tragedi Muslim Xinjiang, negara-negara Arab kembali menunjukan sikap tak tegasnya. Melihat hal demikian, wajar kiranya jika para pengamat banyak yang menilai bahwa Arab tak layak menjadi pemimpin dunia Islam, dan kebangkitan Islam pun tidak akan datang dari Arab, melainkan dari luar Arab, semisal Turki atau Asia Timur. (L2/wb)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang