Wall Street Yang Membuat Amerika Sekarat

Senin, 04/01/2010 15:35 WIB | Arsip | Cetak


Rahm Emanuel, kepala staf Gedung Putih, konon pernah mengatakan bahwa Anda sebaiknya tidak membiarkan krisis tersia-sia. Emanuel menegaskan bahwa para pemimpin sering kali gagal membuat keputusan sulit, kecuali dipaksa oleh bahaya yang sudah sangat dekat.

Di kedalaman krisis Wall Street musim dingin terakhir, bahaya tampak jelas di mana-mana: pasar kredit membeku di seluruh dunia, perusahaan tidak bisa mendapatkan akses ke dalam pembiayaan untuk membayar pekerja dan pemasok, dan pasar saham jatuh bebas. Suatu masalah yang dimulai di pasar perumahan AS dengan cepat menyebar ke bank-bank investasi terbesar di Wall Street dan dari sana ke seluruh dunia.

Dalam kuartal keempat tahun 2008, pertumbuhan global tiba-tiba berlari mundur, dan bangunan besar globalisasi itu sendiri tampak ragu-ragu. Financial Times bahkan menerbitkan serangkaian artikel berjudul "Masa Depan Kapitalisme" yang seolah-olah semua dasar-dasar sistem global berada dalam pertanyaan.

Tapi kalau ada banyak bahaya, ada kesempatan juga. Runtuhnya Lehman Brothers dan raksasa asuransi AIG di tengah-tengah kampanye sengit presiden AS sangat membantu pemilihan Barack Obama. Krisis Amerika adalah masalah struktural yang sudah berjalan lama, termasuk tingkat tinggi utang dan konsumsi bahan bakar, pendapatan kelas menengah yang stagnan, dan buruknya sektor keuangan yang diatur Wall Street yang telah berubah menjadi kasino raksasa.

Ada model yang jelas bagaimana Obama akan melanjutkan pembangunan AS setelah pemilihan: seperti Franklin D. Roosevelt, yang telah berkuasa selama krisis ekonomi besar terakhir dan telah secara permanen mengubah bentuk negara melalui Perjanjian Baru.

Hari ini, kurang lebih satu tahun Barack Obama berkantor di Gedung Putih. Yang mengejutkan; betapa sedikitnya pra-krisis dunia berubah. Penanganan kebijakan ekonomi oleh Bank Sentral dan Departemen Keuangan di bawah Bush dan Obama semakin memburuk menjadi gaya kehancuran. Bahkan keputusan untuk membiarkan Lehman Brothers bangkrut, diserang oleh banyak orang, mungkin hanya akan membantu menyiapkan tanah yang lebih luas sebagai kuburannya. Meskipun pengangguran tetap tinggi, tanda-tanda pemulihan disebutkan kembali baik. Secara global, AS mulai melirik Cina, Korea Selatan, Brasil, dan melupakan Eropa.

Tapi kabar baiknya adalah, tidak semuanya baik. Dengan cara yang aneh, pemulihan datang terlalu cepat dan karena ini berarti bahwa krisis tidak pernah mendapat cukup solusi. Realitas yang menyedihkan adalah bahwa orang tidak akan mengubah sikap atau kebiasaannya, kecuali di bawah keadaan yang paling mengerikan. Dan keadaan yang mengerikan itu mungkin telah berlalu demikian cepat.

Contoh paling jelas tentang hal ini adalah undang-undang Kongres yang akan memperketat peraturan di Wall Street dalam rangka mencegah bank-bank besar mengambil jenis risiko yang melibatkan seluruh ekonomi bawah. Sementara itu, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan sejumlah nama lain di bidang keuangan telah kembali ke cara lama mereka mencari uang, dan telah menggunakan sumber daya mereka menyewa legiun untuk memblokir peraturan baru yang tidak mereka sukai. Sekarang mungkin ketakutan musim dingin yang lalu telah berlalu, namun kemarahan rakyat juga meningkat.

Selama tiga dekade, pertumbuhan berbasis pasar dan globalisasi telah membawa kemakmuran dan mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan. Dengan pertumbuhan pemerintahan yang demokratis, kenyataan bahwa krisis justru dimulai di Wall Street sebagai jantung kapitalisme global, mengajukan risiko bahwa hal itu akan meniadakan semua sistem internasional yang didasarkan pada pasar dan keterbukaan.

Tetapi faktanya adalah bahwa orang Amerika sendiri sudah menjadi sangat ideologis dan kaku dalam melihat dunia. Krisis keuangan, tampaknya tidak membuat banyak perbedaan dalam hal ini. Dan kecuali perubahan, maka akan membuktikan resesi besar AS telah menjadi sia-sia belaka. (sa/newsweek)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dunia

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang