Mengais Rezeki Dari Barang Bekas

Rabu, 21/07/2010 11:21 WIB | Arsip | Cetak

foto: M. Salmun Zakir

foto: M. Salmun Zakir

foto: M. Salmun Zakir

foto: M. Salmun Zakir

foto: M. Salmun Zakir

Pekerjaan mengais barang-barang bekas dari toko atau tempat sampah bukanlah pekerjaan hina, asal dilakukan dengan tekun dan sabar, insya Allah bisa menghasilkan.

Contohnya Pak Toyib, lelaki asal Pemalang, Jawa Tengah ini telah menekuni pekerjaan sebagai pemulung sejak 5 tahun yang lalu. Padahal sebelumnya, sewaktu beliau bujangan pernah bekerja sebagai penjaga toko elpiji dikawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Pekerjaan itu juga dilakoni selama lima tahunan. Namun, setelah menikah di kampungnya pada tahun 1991, pak Toyib bekerja sebagai petani. Bosan sebagai petani akhirnya beliau kembali hijrah ke Jakarta pada tahun 2005 bersama keluarganya dan terdamparlah pak Toyib di Kampung Pemulung Pancoran Buntu 2, Jakarta Selatan. Setiap pagi pak Toyib berangkat untuk beraktivitas pada pukul 5 pagi usai melakukan sholat subuh dan kembali ke lapak sekitar jam 10.

Wilayah kerjanya meliputi Menteng Dalam dan Patra Kuningan. "Penghasilan saya tak menentu, kalau lagi sepi seperti sekarang ini paling dapat 15-20 ribu, kalau lagi ramai bisa mencapai 30 ribu", begitu jawab pak Toyib ketika ditanya pendapatannya perhari. Selain itu, bapak dua anak ini, satu perempuan sudah menikah dan satu lagi laki-laki 11 tahun baru kelas 4 SDN 05 Pengadegan, punya 'side job', pada siang hari jam 13 mengangkut sampah di perkantoran daerah Kali Bata dengan penghasilan perbulan 150 ribu.

Penghasilan itu cuma cukup untuk makan dan biaya anak sekolah setelah ditambah dengan penghasilan istrinya yang bekerja sebagai penjaga warung milik 'bos'-nya. Mereka bertiga tinggal di sebuah ruangan berukuran 2x1 dari bahan triplek yang dibuat berjajar sebanyak 10 ruangan di dalam perkampungan tersebut yang tidak jauh dari limbah plastik dan barang-barang bekas lainnya. Tapi, yang membahagiakan adalah mereka bisa membangun sebuah musholla secara swadaya, walaupun masih perlu uluran tangan para dermawan berupa pengeras suara dan karpet. (M. Zakir Salmun)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Foto

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang