Menghidupkan Nilai Tradisional Ramadhan

Thursday, 03/09/2009 12:45 WIB Cetak |  Kirim |  RSS Kekayaan budaya masyarakat kita dalam menjalani Ramadhan merupakan hal yang patut disyukuri. Karena, jika saja kita mampu menghayati nilai yang terkandung di dalamnya, transformasi menuju bangsa yang bermartabat bukan lagi sekadar mimpi.


Oleh : Gibran Huzaifah Amsi El Farizy*

Kekayaan budaya masyarakat kita dalam menjalani Ramadhan merupakan hal yang patut disyukuri. Karena, jika saja kita mampu menghayati nilai yang terkandung di dalamnya, transformasi menuju bangsa yang bermartabat bukan lagi sekadar mimpi.

Ramadhan merupakan momen perubahan yang terisi dengan warna-warni tradisi. Sebagaimana sudah dikenal, ajaran universal apapun akan mengalami akulturasi jika berhadapan dengan tradisi lokal. Dan Ramadhan bisa jadi merupakan ritual dalam Islam yang mengalami akulturasi dengan variansi yang besar. Norma yang diajarkan dalam Ramadhan memunculkan ritual-ritual kreatif dari masyarakat, yang jika ditelisik lebih mendalam, mengandung hikmah yang relevan dalam keseharian.

Andre Moller, dalam disertasinya yang berjudul Ramadan in Java, The Joy and Jihad of ritual Fasting, mendokumentasikan keberagaman tradisi yang ada di masyarakat kita. Nyadran dan Padusan, ritus yang biasa dilakukan sebelum Ramadhan, menjadi salah satu yang menjadi bahasan. Upacara tradisional yang berupa mandi di air mengalir seperti sungai dan air terjun ini bertujuan untuk membersihkan diri sebelum menyambut Ramadhan. Nilai untuk senantiasa membersihkan jiwa dan raga menjadi hikmah yang tersirat di dalam ritual tersebut.

Setelah memasuki Ramadhan, berbagai macam ritus-ritus berjamur, mencitrakan Ramadhan dengan berbagai nuansa. Takjilan serta Jaburan yang biasa dilakukan selepas berbuka dan Sholat Tarawih merupakan aktivitas umum di berbagai tempat. Menikmati kudapan bersama dalam satu spirit ibadah adalah karakter dasar dalam tradisi ini. Unsur kebersamaan dan kekeluargaan (brotherhood) yang harmonis menjadi fondasi kehikmatan tersendiri.

Sedikit berbeda dengan itu, masyarakat kota merayakan Ramadhan dengan lebih elegan, namun tetap beraneka dan sarat hikmah. Ceramah Ramadhan yang menekankan pada nasihat moral dan intelektual menjadi tajuk utama setiap harinya. Masyarakat yang cenderung lebih maju menuntut sebuah pemenuhan kebutuhan ruhiyah dengan cara yang atraktif. Perdagangan yang melesat maju serta produk yang menawarkan kombinasi citra relijius dengan trend pop muncul seketika. Kampus-kampus sebagai pusat intelektualitas mempertunjukkan selebrasi Ramadhan dengan kompetisi dan promosi kemeriahan. Atribut fisik mewarnai sekitar. Peningkatan gradasi warna kehidupan manusia merefleksikan satu spektrum masyarakat sosial yang “hidup”, lagi humanis.

Membubuhkan Pemaknaan

Berbagai macam aktivitas tersebut mengandung hikmah yang bermanfaat jika diterapkan dalam keseharian. Nilai kebersihan jiwa dan raga dalam ritual nyadran dan padusan misalnya. Minimnya keberadaan sikap selalu membersihkan diri dalam masyarakat kita memberikan dampak sosial-lingkungan yang kacau. Secara fisik, infrastruktur yang tidak terawat, alam sekitar yang tidak terjaga, serta moralitas yang dekaden secara non-fisik menjadi bukti hilangnya mental membersihkan di dalam diri. Hal ini membutuhkan reparasi nilai-nilai pembersihan jasmani-rohani.

Dalam skala yang lebih luas, persatuan kebangsaan juga dilanda masalah. Berkurangnya apresiasi akan sebuah multi-kulturalitas menimbulkan konflik etnik dan agama di berbagai tempat. Terakuisisinya budaya bangsa juga mencuatkan rasa kepemilikan yang semakin terkikis. Rekonstruksi pola pikir (mindset) kebersamaan adalah suatu kepatutan. Nilai-nilai kekeluargaan dan perasaan saling memiliki (shared intrerest dan common property) yang terkandung dalam tradisi takjilan dan jaburan perlu dipugar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Nuansa meriah yang dibangun masyarakat kota dalam menjalankan bulan Ramadhan dapat menjadi model kehidupan yang baru. Komunikasi sosial yang penuh hasrat, serta pelesatan interaksi komunal yang riuh dapat menumbuh-kembangkan pergaulan yang positif antar-masyarakat. Hal tersebut mampu mewujudkan kerukunan sebagai dampak ke-saling-terbukaan masyarakat di satu wilayah spasial.

Ramadhan tidak hanya menawarkan transformasi spiritual bagi hamba-hamba yang menjalaninya, tetapi juga transisi sosial. Ibadah-ibadah yang pada umumnya bersifat individual beralih-fungsi menjadi pemrakarsa perubahan kolektif, jika dimaknai secara meluas. Yang perlu dilakukan hanyalah pembubuhan makna dalam nilai-nilai lokal yang tersirat dalam tradisi ritual masyarakat.

Penerapan hikmah-hikmah tradisional, andai saja kita jeli, dapat menjadi obat yang mujarab untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Maka, di bulan Ramadhan ini, sebuah renungan akan kekayaan nilai-nilai dalam aktivitas masyarakat memang selayaknya dilakukan. Dan untuk menjadi bangsa yang bermartabat, sudah seharusnya kita mampu menghayati hikmah yang ada sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya kita. Serta memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum internalisasi demi sebuah perubahan hakiki.

*Ketua Lembaga Dakwah SITH “Muslim Al-Hayaat” ITB


(Arsip Hikmah Ramadhan)

Menggagas Bank Pertanian Syariah

Kebijakan perbankan mulai memihak petani Indonesia. Tahun lalu, Bank Indonesia sudah mengajukan usulan kepada pemerintah untuk mendirikan Bank Pertanian. Saat ini, kita sedang menunggu political will dari pemerintah untuk segera menyusun perlengkapan perundang.undangan. Hal senada juga diungkapkan oleh Menteri Pertanian RI Kabinet Indonesia Bersatu II, Suswono.

Apa itu At-Tawarruq?

At-Tawarruq adalah jika seseorang membeli barang dari seorang penjual dengan harga kredit lalu ia menjual barang tersebut secara kontan kepada pihak ketiga selain dari penjual. Dinamakan dengan nama At-Tawarruq dari kalimat waraqoh yaitu lembaran uang, sebab pembeli yang merupakan pihak pertama sebenarnya tidak menginginkan barang tapi yang ia inginkan hanyalah mendapatkan uang

BPRS Harta Insan Karimah, Bersama dalam Usaha dan Ibadah

Tak banyak bank syariah seperti BPRS Harta Insan Karimah. Meski tak sebesar bank umum syariah, BPRS HIK mampu menerapkan manajemen perbankan yang baik dan akuntabel serta mampu memelihara ruh syariah dalam diri para pegawai. Satu poin yang patut ditiru oleh bank berlabel syariah lainnya.

Meredam Keraguan Demi Selamat Dunia Akhirat

0leh: Khoiriyati Kusumaningtyas. Saya termasuk golongan masyarakat yang sejak awal mendukung 100% perbankan syariah. Keraguan itu justru muncul di saat Bank Syariah booming bagaikan jamur di musim hujan, kira-kira tahun 2006-an. Saat itu saya bertanya.tanya, mengapa semua bank konvensional mengadakan program syariah

Laba yang Adil, Margin tiap Bank dan Rumus Umum KPR iB

Tanya : Berapakah margin yang ditentukan oleh KPR Syariah untuk pinjaman sebesar 100 jt dengan angsuran selama 6 tahun ? apakah masig-masig daerah penetapan margin tersebut berbeda, bagaimana dengan margin untuk lokasi di daerah Depok dan DKI, kalau tidak salah dalam Al .Quran atau Hadist disebutkan untuk besaran nilai keuntungan seseoramg dari penjualan adalah maksimal 10%

 

Bersekolah SD dan MI Sekaligus

Di Propinsi Banten ada peraturan dimana siswa lulusan setingkat SD yang mau melanjutkan pendidikan setingkat SLTP harus memiliki izasah Madarasah Ibtidaiyah (MI), hal ini membuat kami menyekolahkan anak kami di 2 sekolah sekaligus.

PELUANG