Pada hari Ahad, 10 Januari 2010 lalu, telah dilaksanakan rapat finalisasi pembentukan pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Jepang (PCIM Jepang) untuk periode 2010-2012. Rapat yang bertempat di Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT) tersebut juga dihadiri oleh ketua penasehat Muhammadiyah Jepang, Prof. Khalid Higuchi Mimasaka yang merupakan peneliti di Institute of Islamic Sciences Waseda University.
Dalam arahannya, Prof. Khalid Higuchi menekankan pentingnya Muhammadiyah untuk melebarkan area dakwahnya tidak hanya kepada orang Indonesia yang ada di Jepang saja, tetapi juga kepada orang Jepang itu sendiri. Semenjak didirikannya, Muhammadiyah cabang Jepang ini memang baru berkonsentrasi pada dakwah internal warga Muhammadiyah di Jepang itu sendiri.
Meski demikian, seperti diutarakan oleh Ketua Muhammadiyah cabang Jepang, Muhammad Kustiawan, sejak didirikannya Muhammadiyah cabang Jepang ini telah merintis silaturahim dengan lembaga-lembaga Islam lain di Jepang termasuk Japan Muslim Association yang merupakan salah satu penggerak dakwah Islam di kalangan orang Jepang.
Masih menurut Kustiawan, yang sehari-hari merupakan peneliti di Tokyo Kokushikan University ini, Muhammadiyah di Jepang dalam usianya yang masih tergolong muda, didirikan pada Agustus 2007, akan turut meramaikan dakwah Islam di Jepang yang telah diawali oleh kaum muslimin dari Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Malaysia. Selain itu, Muhammadiyah juga akan bahu-membahu dengan organisasi Islam dari tanah air lainnya seperti Nahdlatul Ulama yang telah lebih dahulu mendirikan cabangnya di Jepang.
Kepengurusan yang baru terbentuk ini adalah kepengurusan periode yang kedua semenjak didirikannya. Menurut sekretaris Muhammadiyah Jepang yang juga kepala SRIT, Nur Hidayat, selain ketua, sekretaris, dan bendahara, saat ini Muhammadiyah cabang Jepang memiliki 3 (tiga) bidang yaitu Bidang Tarjih dan Dakwah, Bidang Pengembangan Ekonomi, Kerjasama dan ZIS, serta Bidang Pendidikan dan Kader. Tidak seperti cabang-cabang Muhammadiyah lainnya di Indonesia, cabang di luar negeri ini disebut sebagai cabang istimewa karena tidak memiliki koordinasi vertikal di atasnya, yaitu pimpinan daerah Muhammadiyah.
Menjelang 100 tahun sejak didirikannnya, selain di Jepang, cabang Muhammadiyah di luarnegeri juga telah ada di beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Thailand, Syiria, Mesir, Kanada, dan Inggris. Di Jepang sendiri, Muhammadiyah sudah mulai melebarkan aktivitas dakwahnya tidak hanya berpusat di Tokyo dan sekitarnya ( area Kanto ) saja, tetapi juga mulai ada perwakilan-perwakilan Muhammadiyah di Kyoto, Kyushu, dan Sendai.
Diharapkan ke depannya, Kyushu yang terletak di bagian selatan Jepang ini akan berkonsentrasi pada dakwah ke Jepang selatan, sedangkan Sendai yang lebih terletak di utara Jepang yang akan merambah dakwah ke Jepang bagian utara. Sedangkan untuk dakwah Muhammadiyah di Jepang bagian tengah akan dimulai di area Kanto dan Kyoto.
Penulis : Muhammad Kunta Biddinika, salah satu penggiat Muhammadiyah di Jepang, mahasiswa di Tokyo Institute of Technology
Keterangan Gambar : Gambar 1. Suasana rapat finalisasi pembentukan pengurus PCIM Jepang 2010-2012 di Sekolah Republik Indonesia di Tokyo (SRIT) Gambar 2. Beberapa pengurus PCIM Jepang periode 2010-2012 berfoto bersama setelah rapat. M. Kustiawan (ketua, berbaju koko putih), Nur Hidayat (sekretaris, di tengah, memakai rompi), Khalid Higuchi (penasehat, nomor dua dari kanan)
Dengan adanya perbankkan syariah pertumbuhan ekonomi akan semakin terjamin dari kehalalnya. Karena produk-produk yang di tawarkan oleh perbankan syariah adalah sebuah produk yang mana berlandaskan dengan hukum-hukum syariah yang telah Allah berikan dan diolah sedemikian mungkin sehingga masyarakat luas menjadi tahu.
Pengamat dan konsultan bisnis syariah terkemuka Indonesia, Adiwarman Karim, berani memproyeksi angka Rp101,1 triliun total aset perbankan syariah di 2010. Perhitungan itu hasil dari pertimbangan modal dan data historis pertumbuhan bank-bank syariah baru di 2010.
Ibarat rumah, perbankan syariah memiliki pondasi, pilar dan atap. Pondasi inilah yang menjadi dasar pembangunan bank syariah. Pembangunan pondasi harus kuat karena pondasi yang rapuh akan membuat bangunan perbankan syariah ikut rapuh.
Pendidikan, mencakup pengajaran, pembentukan moral, penelitian dan pengembangan, serta segala makna yang mungkin dikandung kata pendidikan, adalah isu yang sangat perlu diperhatikan di sektor perbankan syariah. Tidak bisa dipungkiri, teori dan praktek perbankan syariah saat ini banyak berangkat dari teori dan praktek perbankan konvensional.
Karena ingin mengajukan pinjaman untuk membeli kendaraan, akhirnya aku mendatangi bank-bank yang dekat dengan rumahku. Kebetulan di ruko dekat rumahku cukup lengkap banknya mulai dari yang konvensional sampai yang syariah.
Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul dan Steve sama sekali belum memiliki program itu dan lebih gilanya lagi..
KANGEN sekali saya dengan suasana seperti ini. Rendy, Putri, Shalma Alexa, Ahad Rifaldo dan teman-teman sebayanya tampak duduk lesehan dengan tertib di lantai mushalla. Wajah mereka terlihat ceria.