Amerika: Kerajaan Superpower Di Tepi Jurang (3)

Selasa, 08/12/2009 11:47 WIB | Arsip | Cetak

Pemerintah federal AS saat ini sudah menaikan pembayaran bunga sebanyak 8 persen dari pendapatan pada tahun 2009, menjadi 17 persen tahun 2019 nanti, meskipun tingkat pertumbuhan tetap rendah. Bahkan jika tingkat pendatapan naik pun dan ekonomi berjalan sedikit stabil, AS hanya akan mendapatkan sampai 20 persen lebih cepat. Dan sejarah menunjukkan bahwa setelah negara menghabiskan seperlima penghasilan negara untuk membayar utang, negara tetap akan punya masalah.

Ini semua terlalu mudah untuk menemukan negara dalam lingkaran setan yang semakin menurun kredibilitasnya. Para investor tidak percaya bahwa negara dapat membayar utangnya, sehingga mereka menekan biaya bunga yang lebih tinggi, yang membuat posisi negara—dalam hal ini, AS—lebih buruk lagi.

Hal ini jelas, masalah besar untuk negara besar itu daripada sebuah pulau kecil di Atlantis, karena satu alasan sederhana. Karena pembayaran bunga memakan anggaran, maka akan ada sesuatu yang harus dikeluarkan dan ada sesuatu yang lain pula yang hampir pasti selalu menggeoroti pertahanan pengeluaran. Menurut CBO, penurunan yang signifikan dalam anggaran federal sudah seperti adonan yang dimasukkan ke dalam kue. Rencana Pentagon saat ini, anggaran pertahanan dari 4 persen sekarang menjadi 3,2 persen dari PDB pada tahun 2015 dan menjadi 2,6 persen dari PDB pada 2028.

Maka, pada rencana jangka panjang, mungkin pada 2039, pengeluaran kesehatan meningkat dari 16 persen menjadi 33 persen dari PDB (sebagian uang mungkin akan membuat rakyat AS kadaluarsa lebih cepat). Tapi pengeluaran segala sesuatu selain kesehatan, jaminan sosial, dan pembayaran bunga, turun dari 12 persen menjadi 8,4 persen.

Begitulah kerjaan Amerika akan tenggelam. Dimulai dengan ledakan utang, dan diakhiri dengan pengurangan yang terelakkan dari sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Itulah sebabnya rakyat AS benar-benar khawatir tentang krisis utang Amerika. Menurut laporan Rasmussen baru-baru ini, 42 persen orang Amerika sekarang mengatakan bahwa “Tidak” untuk pemotongan anggaran kesehatan.

Jika Amerika Serikat tidak segera datang dengan rencana yang kredibel untuk mengembalikan keseimbangan anggaran federal selama lima sampai 10 tahun, bahaya ini sangat nyata bahwa krisis utang dapat mengakibatkan melemahnya kekuasaan besar Amerika.

Semua presedennya sudah terjadi. Spanyol gagal dalam membayar utangnya sebanyak 14 kali antara 1557 dan 1696 dan menyerah pada inflasi akibat kelebihan Dunia Baru. Sebelum revolusi, Prancis menghabiskan 62 persen dari pendapatan negara untuk membayar utang pada 1788. Kekaisaran Ottoman mati dengan cara yang sama: pembayaran bunga meningkat 15 persen dari anggaran tahun 1860 menjadi 50 persen pada tahun 1875. Dan jangan lupakan Inggris. Pada tahun-tahun peperangan, pembayaran bunga memakan 44 persen dari anggaran Inggris, sehingga sangat sulit untuk mempersenjatai kembali dalam menghadapi ancaman Jerman baru.

Sebut saja ini arimetika fatal tentang kejatuhan sebuah kerjaan. Tapi, tanpa reformasi fiskal yang radikal, semua itu tak sangsi lagi, akan terjadi pada Amerika. HABIS

(sa/newsweek)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Laporan Khusus

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang