Kegagalan Demokrasi Di Thailand

Rabu, 26/05/2010 08:00 WIB | Arsip | Cetak

Seminggu sebelum Angkatan Darat Thailand memberangus demonstran anti-pemerintah dari Bangkok dan mengusir mereka kembali ke rumah-rumah pedesaan mereka, seorang wartawan di harian Departemen Luar Negeri di Washington bertanya; "Akankah ada 'implikasi yang lebih luas' tentang demokrasi di negara itu?"

Jjuru bicara departemen bersangkutan, Philip J. Crowley, menjawab, "Ada celah yang mendasar di dalam masyarakat Thai dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini dan mengembangkan masyarakat sipil dan inklusif adalah melalui negosiasi damai."

Ini bisa dimengerti. Seperti diketahui "sweeping" sebagai konfrontasi di Bangkok mencapai klimaks minggu-minggu terakhir. Hal semacam ini telah terjadi di Thailand sebelumnya. Pertanyaan sang wartawan itu mengusik semua orang yang mengagungkan demokrasi.

Kekacauan Bangkok ini merupakan acara yang sangat penting dan mengganggu, seperti yang terlihat dari pantai jauh dari Amerika Serikat, karena ilustrasi kegagalan dari model demokrasi yang selalu disokong oleh Amerika; tidak hanya di Asia Tenggara namun di seluruh dunia.

Dan, dengan kebanyakan negara di sekitar Thailand, termasuk China, Myanmar dan Vietnam, bisa disebut sebagai satu komaprtemen dalam segala urusan, mulai dari partai, alternatif otoriter, dan cara demokratis yang tampak agak lemah dan tidak stabil di Asia.

"Siapa yang benar-benar mendapatkan manfaat dari Thailand yang akan menjadi negara yang lebih lemah?" Tanya Robert D. Kaplan, seorang penulis di Pusat Keamanan Amerika. Jawabannya adalah: (mungkin) orang Cina. "Selama beberapa dekade, Thailand adalah benteng Amerika di Asia Tenggara; kuat, stabil, tuan rumah yang dapat dipercaya untuk militer Amerika, yang mengadakan latihan bersama dengan Thailand setiap tahun. Thailand adalah kartu as Amerika dalam lubang di kawasan itu, seperti kembali ke Perang Vietnam. Jadi, dengan Thailand menjadi negara yang lebih lemah yang tidak dapat diambil manfaatnya lagi, maka bayang-bayang bernuansa Cina di kawasan ini tumbuh pesat."

Yang pasti, demokrasi Thailand tidak pernah benar-benar berfungsi. Episode ledakan seperti ini di Bangkok telah terjadi sebelumnya. Dan demokrasi Thai lemah karena korupsi endemik, termasuk pembelian suara yang mencolok di daerah pedesaan.

Tapi selalu ada seorang raja, seseorang yang kuat yang dihormati yang dianggap sebagai moderasi dan stabilisator, dan ada militer yang, agak enggan, mengambil kuasa, kalau hal-hal yang sedang berlansung benar-benar keluar dari kendali.

"Masalah mendasar dari sistem Thailand politik adalah bahwa sebagian besar uang di Bangkok dan sebagian besar suara berada di luar kota Bangkok," kata kata Karl D Jackson, kepala program studi di Asia Tenggara Sekolah Studi Internasional Lanjutan di Universitas Johns Hopkins, yang sepertinya menggambarkan jalan buntu.

Lantas, apakah ada jalan keluar?

Salah satu kemungkinan adalah bahwa kedua faksi utama dalam politik Thailand, elite Bangkok dan mayoritas rakyat, dapat menarik pelajaran dari kekerasan dan perilaku mereka, meskipun ini mungkin berarti, ketika pemilu berikutnya diadakan, yang lain pro -Thaksin atau pemerintah Thaksin sepertinya akan kembali dipilih.

"Thailand tidak benar-benar dalam kondisi seburuk itu," kata Kaplan. "Tidak ada konflik etnis, yang ada hanya rasa identitas nasional yang kuat."

Dalam hal ini, mudah untuk membayangkan apa yang akan dikatakan para pemimpin di tempat-tempat seperti Beijing, menanggapi peristiwa serupa di Bangkok. Namun, tampaknya kegagalan demokrasi di Thailand akan membuat negara besar yang sejak dulu mengangkanginya akan menoleh kepada wajah yang lain. (sa/newyorktimes)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Laporan Khusus

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang