Matahari Tenggelam Di Amerika Serikat

Semua kerajaan, tidak peduli betapa pun indahnya, dipastikan akan menurun dan jatuh. Kita sudah meyakini bahwa bahkan dalam periode kita sendiri pun, sejarah akan bergerak secara siklis – dan perlahan tenggelam. Ancaman lingkungan atau demografis terhadap kita semua tampak sangat rentan dan selalu terasa dekat. Dalam sebuah tahun pemilihan, siapa yang benar-benar peduli?

Namun ada kemungkinan bahwa seluruh kerangka siklus, pada kenyataannya, selalu cacat. Bagaimana jika sejarah tiba-tiba bergerak cepat seperti mobil sport? Bagaimana jika keruntuhan datang tiba-tiba, seperti pencuri di malam hari?

Negara-negara besar selalu beroperasi di suatu tempat dengan dalih ketertiban dan kekacauan. Mereka muncul selama beberapa waktu, tetapi pada kenyataannya, terus-menerus beradaptasi. Tapi sebuah pemicu kecil akan memutnahkan semuanya, memicu fase ”transisi”dari keseimbangan terhadap krisis; seekor kupu-kupu sayapnya patah di Amazon dan menyebabkan angin topan di Inggris tenggara.

Terlepas dari apakah itu diktator atau demokrasi, setiap unit politik besar-besaran adalah suatu sistem yang kompleks. Sebagian besar kerajaan besar memiliki kewenangan pusat nominal, baik seorang kaisar turun-temurun atau seorang presiden terpilih, tetapi dalam praktiknya kekuasaan setiap penguasa individu merupakan fungsi dari jaringan ekonomi, hubungan sosial dan politik, di mana pun dia memimpin.

Dengan demikian, banyak negara (kerajaan) yang menunjukkan ciri-ciri lain sistem adaptif yang kompleks—termasuk kecenderungan untuk bergerak dari stabilitas ke ketidakstabilan dengan tiba-tiba. Tapi kenyataan ini jarang dikenal karena kecanduan kita akan teori siklus sejarah.

Monarki Bourbon di Prancis misalnya. Intervensi Prancis terhadap para pemberontak pemerintahan kolonial Inggris di Amerika Utara pada 1770-an tampak seperti kesempatan untuk membalas dendam, setelah kemenangan Britania Raya dalam Perang Tujuh Tahun pada dekade sebelumnya. Tapi jangan lupa, setelah itu, Prancis menjadi negara kritis.

Pada bulan Mei 1789, Estates-General, majelis perwakilan Perancis, memicu reaksi politik berantai yang menyebabkan jatuhnya legitimasi kerajaan di Prancis dengan begitu cepat. Hanya empat tahun kemudian, pada bulan Januari 1793, Louis XVI dipenggal dengan guillotine.

Sekarang, matahari terbenam di Kerajaan Inggris dengan begitu tiba-tiba. Apa yang terjadi dengan Amerika Serikat hari ini?

Hal yang paling jelas adalah bahwa kekaisaran selalu jatuh berhubungan dengan krisis fiskal –ketidakseimbangan yang tajam antara pendapatan dan pengeluaran, dan biaya utang publik.

Pikirkan Ottoman Turki di abad ke-19: utang meningkat dari 17 persen dari pendapatan di tahun 1868 menjadi 32 persen pada tahun 1871, dan sampai 50 persen pada tahun 1877, dua tahun setelah disintegrasi Kekaisaran Ottoman Balkan. Dan lihat pula Inggris pada abad ke-20. Pada pertengahan tahun 1920, utang menyerap 44,5 persen dari total pengeluaran pemerintah, melebihi pengeluaran pertahanan setiap tahun sampai 1937.

Tapi masalah nyata Britania Raya setelah tahun 1945, ketika sebagian besar beban utang setara dengan sekitar sepertiga dari produk domestik bruto, dan itu berada di tangan asing.

Lonceng alarm sekarang tengah berdering sangat keras di Washington, karena Amerika Serikat sedang merenungkan defisit tahun 2010 lebih dari $ US1.47 triliun—sekitar 10 persen dari PDB, untuk dua tahun belakangan ini berturut-turut.

Sejak tahun 2001, utang federal AS di tangan publik meningkat dua kali lipat dari 32 persen menjadi 66 persen per tahun depan. Diprediksi, utang AS akan mencapai 344 persen pada tahun 2050! Jumlah ini mungkin terdengar fantastis. Tapi posisi fiskal Amerika Serikat saat ini lebih buruk daripada Yunani. Bedanya, Yunani bukanlah kekuasaan global. Dalam perspektif historis, kecuali sesuatu yang radikal dilakukan segera, Amerika Serikat menuju ke Bourbon di wilayah Prancis. Atau mungkin ke wilayah Turki Ottoman. Atau ke wilayah Britania setelah perang.

Untuk saat ini, dunia masih mengharapkan Amerika Serikat. Tapi seperti kata-kata terkenal Churchill: semua alternatif sudah habis. Dengan krisis utang di Eropa, resesi dan deflasi, hasil obligasi yang rendah, semua mungkin hanya tinggal sejarah. Oleh karena itu ada insentif yang kuat bagi mereka di Kongres AS untuk menunda reformasi fiskal.

Dan ingat, setengah utang federal AS di tangan publik di tangan kreditur asing. Dari jumlah itu, seperlima (22 persen) dipegang oleh otoritas moneter dari Republik Rakyat Cina, turun dari 27 persen pada bulan Juli tahun lalu. Cina kini memiliki perekonomian terbesar kedua di dunia dan hampir pasti menjadi saingan utama Amerika di abad ini, khususnya di kawasan Asia-Pasifik.

Tenang, diam-diam, orang Cina mengurangi eksposur mereka ke obligasi Departemen Keuangan AS. Mungkin mereka telah melihat apa sisa dari investor di dunia yang pura-pura tidak melihat bahwa program fiskal AS benar-benar tidak berkelanjutan.

Implikasi mendalam tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga untuk semua negara yang telah bergantung padanya, langsung atau tidak langsung, terutama secara keamanan. Setelah Amerika sendiri, mungkinkah negara-negara Arab pun yang selama ini bermitra kuat dengan AS akan pula rontok? (sa/theage)