Misteri Bunda Putri Yang Sebabkan SBY Berang Kepada LHI

Redaksi – Jumat, 11 Oktober 2013 08:32 WIB

sby lhiMantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq ternyata memang pernah bertemu dengan sosok Bunda Putri. Malah ia mengaitkan sosok Bunda Putri itu dengan presiden.

“Setahu saya sangat dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),” kata Luthfi, saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (10/10) dalam persidangan dengan terdakwa Ahmad Fathanah.

Luthfi mengaku mengenal Bunda Putri dari Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Saat itu, Luthfi masih menjabat sebagai presiden partai.

Menurut Luthfi, Bunda Putri sangat mengetahui informasi mengenai rencana reshuffle kabinet. Karena itu, ia mendatangi kediaman Bunda Putri di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kedatangan Luthfi itu terjadi setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Fathanah pada 29 Januari 2013.

Luthfi mengaku khawatir penangkapan itu dikaitkan dengan menteri. “Karena di berita malam itu yang sampai kepada saya, ada supir menteri (Pertanian) ditangkap,” kata dia.

Luthfi merasa informasi tersebut bisa digunakan publik untuk memukul PKS. Dia menganggap hal itu bisa berdampak pada pencopotan menteri yang berasal dari partainya. Apalagi saat itu, Menteri Pertanian Suswono juga tengah diterpa isu mengenai krisis daging sapi dan beredarnya daging celeng. Karena itu, Luthfi mencoba memverifikasi informasi tersebut kepada Bunda Putri. “Benar tidak akan ada reshuffle dan benar tidak kasus itu,” kata dia.

Dalam pertemuan itu, Luthfi mengaku membicarakan perkembangan rencana reshuffle kabinet. Ia juga menjelaskan tidak ada penangkapan yang terkait dengan menteri. Setelah itu, ia mengatakan, kembali ke kantor DPP PKS. Karena Luthfi harus memimpin rapat bersama para anggota partai. “Karena pas rapat pasti ada yang tanya resuffle,” kata dia.

Majelis hakim mempertanyakan keterkaitan posisi Bunda Putri dengan reshuffle kabinet. Luthfi kembali menjawab Bunda Putri memiliki banyak informasi dan mempunyai kedekatan dengan presiden. Ia mengatakan, biasanya orang yang dekat dengan presiden memiliki informasi yang bisa dipercaya. “Seringkali membawa informasi yang akurasinya sangat tinggi,” kata dia.

Luthfi mengaku tak mengetahuinya secara pasti kedekatan Bunda Putri dengan presiden. Ia hanya percaya dengan apa yang diinformasikan oleh Hilmi Aminuddin. “Saya dikenalkan oleh Ketua Majelis Syuro,” kata mantan anggota DPR itu.

Bahkan, Luthfi tidak mengetahui siapa nama asli Bunda Putri. Pun dengan informasi mengenai keluarganya. “Yang saya tahu, di rumahnya ada foto bapaknya, salah satu pendiri Golkar. Itu di ruang tamu,” kata Luthfi.

Tetapi dia tidak mengetahui siap nama orang dalam foto tersebut. Ketika ditanya mengenai informasi Bunda Putri sebagai istri pejabat, Luthfi juga tidak bisa memastikannya. Ia hanya mendapat informasi suami Bunda Putri warga negara asing. Luthfi tidak mengetahui apakah Bunda Putri sudah berpisah dengan suaminya atau suaminya sudah meninggal. Informasi lainnya yang ia ketahui, Bunda Putri merupakan pengusaha. “Seorang pengusaha dan bisnisnya di luar negeri,” kata dia.

Melihat jawaban Luthfi, majelis hakim masih mempertanyakannya. Mengingat Luthfi menanyakan informasi terkait reshuffle yang dinilai penting. Namun, Luthfi sendiri tidak mengetahui lebih rinci mengenai sosok tersebut. Majelis hakim bahkan mengingatkan Luthfi untuk berterus terang. Namun, Luthfi mengaku hanya bertemu 3-4 kali dengan Luthfi.

Ia pun hanya percaya pada Bunda Putri karena sosok itu direkomendasikan Hilmi Aminuddin. “Tradisi saya begitu. Kalau orang yang saya hormati kenalkan kepada saya, saya akan hormati apa yang dia sebutkan,” kata Luthfi.

Luthfi menegaskan, informasi mengenai kedekatan antara Bunda Putri dan presiden berasal dari Hilmi. Luthfi direkomendasikan untuk mengumpulkan dan membagi informasi dengan Bunda Putri. “Karena yang merekomendasikan orang yang saya percaya. Saya tidak merasa perlu memverifikasi siapa dia,” ujar Luthfi. (RoL/KH)

 

Berita Nasional Terbaru

blog comments powered by Disqus