Persiapan Perang Baratayudha di Istana Negara

Rabu, 12/08/2009 10:27 WIB | Arsip | Cetak

Bersamaan dengan ditabuhnya genderang perang melawan terorisme di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, dan di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah, gamelan di Istana Negra, Jakarta, Jum’at malam (7/8), ditabuh.

Dengan pakaian serba hitam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ny.Ani Yuhdoyono dan putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono, menjadi tuan rumah pergelaran wayang purwa dengan lakon Raja Suya Indraprastha. Lakon ini dimodifikasi dari lakon Sesaji Raja Suya yang mengisahkan tentang persiapan Pandawa maju perang Baratayudha.

Setelah menerima wayang Yudhistira berinisial SBY dari Presiden, dalang Ki Purbo Asmoro naik panggung. Pergelaran dengan gamelan dan wayang berinisial SBY pun dimulai. Tujuh sinden (penyanyi) berkebaya biru nembang diiringi tabuhan gamelan 23 niyaga berbeskap biru. Soal inisial SBY pada seluruh gamelan dan wayang yang dipakai, Ketua Umum Persatuan Perdalangan Indonesia, Ekotjipto saat memberikan kata pengantar sebelum pertunjukan mengaku terperanjat. Apa yang didapati itu membuatnya yakin, Presiden SBY mencintai wayang.

Pergeralaran wayang di Istana Negara sebagai bagian dari peringatan hari ulang tahun ke 64 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia adalah sejarah kembalinya tradisi. Setelah hilang puluhan tahun, Jum’at malam sampai Sabtu dini hari, wayang kembali di gelar di Istana. Untuk tahun mendatang, tidak hanya wayang purwa yang akan dipertunjukkan di Istana Negara. Aneka jenis wayang se-Nusantara akan bergantian dipertunjukkan. Pergelaran wayang terakhir di Istana Negara terjadi di masa Presiden Soekarno.

Jangan membayangkan menonton wayang di Istana Negara seperti menonton wayang di desa, ketika wayang masih menjadi hiburan favorit. Nonton wayang di Istana memakai kursi yang disusun rapi. Selain tersedia beragam camilan dan makanan hangat, penonton juga bisa menatap tujuh sindennya.

Berbeda dengan pengalaman menonton wayang di era 1980 an, di mana nonton wayang di Istana dilakukan dibelakang dalang dan sindenyang menjadi tontonan. “Zaman sudah berubah. Yang dahulu tabu, melihat dalang dan sinden saat nonton wayang, kini ditinggalkan. Gerak zaman memang tengah mendobrak hal-hal yang selama ini ditabukan”, ujar Ekon,pemerhati wayang di Istana. Menurut Eko, tidak mengherankan jika dalam suatu pertunjukkan wayang, dalang kerap membawa sinden sampai dua puluhan, tentu tidak semua nembang. “Sebagian dibawa untuk menarik perhatian penonton dan tombo moto ngantuk”.

Namun, ditatap penonton langsung apalagi oleh Presiden dan sejumlah pejabat Istana Negara selain menjadi kebanggaan, juga menjadi siksaan. Apalagi sejumlah besar pejabat negaraikut menemani Presiden SBY menonton wayang. Kebiasaan dalang, penabuh gamelan, dan sinden merokok saat biasanya tampil harus ditinggalkan demi menjadi kesopanan.

Sepanjang pergelaran wayang tak ada bayang-bayang karena geber dan gawangannya disandarkan pada tembok. Semua persiapan Pandawa maju perang Baratayudha terlihat terang benderang seperti dituturkan dalang.

Sebaliknya, sepanjang malam itu juga, bahkan sampai petang, perang melawan terorisme yang bersamaan dilakukan kepolisian belum menemukan titik terang. Meskipun perang itu disiarkan langsung dari garis paling depan, semua gelap tak berwujud seperti bayang-bayang. Perang mungkin masih panjang. (Sumber : A Wisnu Nugroho/Kompas)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Berita Nasional

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang