Masjid-Masjid di Rafah Jadi Tempat Penampungan Warga Palestina



Selama bertahun-tahun, masjid-masjid di kota Rafah, yang terletak di perbatasan Mesir-Palestina menjadi lambang kerukunan masyarakat di kedua wilayah itu, khususnya pada saat warga Palestina mengalami saat-saat sulit dan mencari perlindungan di masjid-masjid itu.

Masjid-masjid tersebut menjadi tempat untuk mendapatkan perawatan bagi mereka yang luka, tempat beristirahat bagi mereka yang kelelahan dan ingin memejamkan mata barang sejenak dan tempat mendapatkan makanan bagi mereka yang kelaparan.

Para imam masjid itu senantiasa menyerukan setiap orang untuk memberikan bantuan dalam bentuk apa saja pada warga Palestina. Karpet-karpet, anak-anak tangga dan ayat-ayat al-Quran yang terdapat di dinding-dinding masjid di kota Rafah, memberikan kenyamanan bagi warga Palestina yang berdiam di dalamnya.

Saat ini, ada ribuan warga Palestina yang terdiri dari anak-anak, kaum wanita dan orang jompo yang masih terlunta-lunta di perbatasan Mesir-Palestina, tanpa persediaan air dan makanan. Mereka menolak kembali ke rumah mereka di Jalur Gaza, sejak Israel melakukan agresi militernya ke wilayah itu.

Pada Jumat pekan kemarin, sekitar 2.000 warga Palestina memaksa masuk ke Jalur Gaza, setelah sebuah ledakan membuat lubang kecil di dinding pembatas yang dibangun Israel di wilayah itu.

Warga Palestina yang kini masih terkatung-katung di Rafah, banyak menerima bantuan dari warga setempat. Warga Rafah di wilayah Mesir memberikan susu, makanan, bantal dan pakaian untuk mengurangi penderitaan warga Palestina.

"Kami merasakan beratnya penderitaan warga Palestina," kata Abu Rami, salah seorang warga Rafah, Mesir yang memberikan bantuan pada warga Palestina yang berada di sebuah masjid.

"Kami melihat sendiri dengan mata telanjang, bagaimana jam malam yang diberlakukan tentara Israel pada mereka, mendengar dengan jelas dentuman bom yang menghancurkan infrastruktur milik mereka," sambung Abu Rami.

Abu Rami berusaha memberikan bantuan apapun yang mampu ia berikan pada warga Palestina. "Masjid-masjid tidak bisa mengakomoadasi semua warga Palestina. Itulah sebabnya kami menempelkan brosur-brosur di dinding-dinding, mengajak setiap orang untuk memberikan tempat bernaung warga Palestina yang masih terlunta-lunta," ujar Abu Rami.Ia sendiri saat ini sudah menampung sejumlah warga Palestina yang sakit di rumahnya.

Bagi Abu Rami dan warga lainnya di Rafah, warga Palestina di luar perbatasan, bukan hanya sekedar saudara sesama bangsa Arab dan Muslim, tapi yang lebih penting, mereka adalah kerabat.

"Penjajahan Israel-lah yang telah membuat Rafah terpisah dua. Tapi, keluarga di kedua sisi perbatasan saling bersaudara," tandas Abu Rami.

Puluhan keluarga Palestina tercerai berai di perbatasan Rafah, menyusul penandatanganan perjanjian Camp David oleh Presiden Mesir, almarhum Muhammad Anwar Sadat dan mantan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin pada 1978 lewat mediasi Presiden AS kala itu, Jimmy Carter.

Mundurnya Israel dari semenanjung Sinai pada 1982, membuat Mesir dan Israel membuat garis demarkasi yang membagi Rafah menjadi dua bagian, satu sisi berada di wilayah Palestina dan sisi lain berada di wilayah Mesir.

September 2000, pecah gerakan al-Aqsa Intifada, yang membuat Israel membangun dinding kawat berduri setinggi 10 meter, sepanjang 9 kilo meter di kedua sisi wilayah itu. Banyak warga Palestina yang ditolak masuk kembali ke rumahnya, begitu mereka keluar dari perbatasan.

Harapan situasi di Jalur Gaza akan membaik muncul ketika Israel menarik semua warga dan pasukan militernya setelah 30 tahun menguasai wilayah tersebut. Namun harapan itu punah, ketika Israel kembali menyerang Gaza, yang dipicu kasus penculikan serdadu Israel, yang diduga diculik oleh pejuang Palestina. (ln/iol)