Mesir Memperburuk Bencana Kemanusiaan Di Gaza

Kamis, 19/02/2009 16:28 WIB | Arsip | Cetak

Wartawan sekaligus fotografer asal Afrika Selatan, Yazeed Kamaldien menyaksikan sendiri pemandangan yang memilukan di Jalur Gaza setelah digempur dari laut, udara dan darat oleh pasukan Zionis Israel selama 22 hari.

Ia masuk ke Jalur Gaza dan menghabiskan satu pekan disana setelah militer Israel menarik pasukannya dari wilayah itu. Lewat lensa kamera dan mata kepala sendiri, Kamaldien menjadi saksi sebuah bencana yang diakibatkan oleh perang biadab Israel.

Di Rumah Sakit Al-Shifa, Kamaldien melihat Iman Kadoum dan ibunya yang sedang antri bersama ribuan pasien lainnya, menunggu giliran untuk mendapatkan pengobatan. Saat itu, jumlah pasien di Rumah Sakit Al-Shifa, rumah sakit terbesar di Jalur Gaza sudah mencapai lebih dari 5.000 orang. Mereka adalah para korban agresi brutal Israel ke Gaza.

Gadis kecil berusia sembilan tahun itu, mengalami pendarahan di bagian livernya. Menurut ibunya, Najlaa Kadoum, sebenarnya puterinya mendapatkan bantuan pengobatan ke Prancis. Petugas kesehatan sudah mengurus surat jalan mereka dan akan membiayai pengobatan Iman yang harus menjalankan operasi. Tapi ketika iman dan ibunya tiba di perbatasan Mesir untuk pergi ke Prancis,  petugas perbatasan Mesir tidak mengizinkan mereka keluar dari Gaza.

"Dengan kasar, petugas perbatasan Mesir menuding kami berbohong. Mereka menyuruh kami kembali pulang. Saya berharap bisa mendapatkan rumah sakit yang layak. Anak saya berhak mendapatkan pertolongan," tukas Najlaa Kadoum.

Selain Iman, ada anak perempuan lainnya bernama Amira Elqarem berusia 15 tahun. Dari tempat tidurnya, dengan wajah letih Amira menceritakan bagaimana ia berusaha bertahan hidup selama tiga hari tanpa bantuan medis, setelah sebuah misil Zionis Israel menghantam rumahnya.

Ayah, saudara perempuan dan saudara laki-laki Amira gugur syahid dalam serangan itu. Amira mengungkapkan, ia melihat tank-tank Israel masuk ke Gaza, ketika ia berusaha menghentikan pendarahan di kaki kirinya dengan daun pohon palem. Dia merangkak ke sebuah rumah untuk berlindung. Penghuni rumah itu ternyata seorang wartawan yang lalu membawanya ke rumah sakit.

Luka yang dialami Amira cukup parah dan membutuhkan perawatan medis yang intensif. Sama seperti Iman, Amira seharusnya mendapatkan pengobatan di sebuah rumah sakit di Prancis. Tapi otoritas pemerintah Mesir di perbatasan juga melarangnya ke luar dari Gaza.

Deputi asisten menteri kesehatan di Gaza, Hassan Khalaf mengungkapkan warga Gaza mengalami bencana kemanusiaan dan kesehatan akibat agresi brutal Zionis Israel. Situasi itu makin buruk karena Mesir yang mengelola perbatasan Rafah tidak mengijinkan pasien yang menderita luka berat ke luar Gaza untuk mendapatkan pengobatan. Sementara Israel memutus pasokan bahan bakar sehingga pembangkit listrik di Gaza tidak bisa beroperasi.

"Jika aliran listrik terputus, sedikitnya akan ada 150 pasien akan meninggal dalam jangka waktu setengah jam. Kadang, pada saat tengah malam kami harus memindahkan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, yang masih memiliki aliran listrik," kata Khalaf.

Ia melanjutkan,"Kami sangat sedih, tidak bisa berbuat banyak untuk membantu para pasien karena kami tidak punya obat-obatan dan peralatan yang memadai. Perbatasan-perbatasan ditutup, sehingga pasien tidak bisa ke rumah sakit dimana mereka bisa mendapatkan perawatan yang layak."

Menurut Khalaf, lembaga-lembaga bantuan yang membawa bantuan medis tidak semuanya bisa mencapai Gaza, beberapa bantuan medis tertahan di perbatasan-perbatasan dengan Israel.

Untuk menampung bantuan tersebut, kementerian kesehatan di Gaza membangun tujuh gudang. Dari sinilah bantuan-bantuan akan didistribusikan ke rumah-rumah sakit.

Lembaga bantuan 'Gift of the Giver' dari Afrika Selatan, salah satu organisasi yang berangkat ke Gaza untuk menyampaikan 85 ton bantuan kemanusiaan. Ikut dalam rombongan itu tim medis berjumlah 25 orang yang membantu kerja petugas medis Palestina. Yusuf Nanabhay, dokter di Rumah Sakit Milpark, Parktown, Johannesburg yang ikut dalam rombongan dari Afrika Selatan mengungkapkan keprihatinannya melihat kondisi rumah sakit dan layangan kesehatan di Gaza.

"Pasien tidak punya privasi. Tempat-tempat tidur tidak ada kasurnya, tidak ada sprei atau bantal. Peralatan rumah sakitnya sudah sangat tua ... banyak staff lokal yang trauma oleh agresi brutal Israel kemarin. Tapi mereka harus terus bekerja, meski merasa stress," ungkap dokter Yusuf.

Psikoterapis asal Durban Reyhana Seedat juga prihatin melihat kondisi staff medis yang mengalami trauma dan bekerja dalam situasi yang penuh tekanan. "Mereka membutuhkan bantuan sebelum mereka membantu para pasien," ujarnya.

Suatu ketika, ketika Reyhana sedang memimpin metode kelompok untuk para staff rumah sakit, tiba-tiba ada orang yang datang dan mengatakan bahwa mereka harus melakukan evakuasi karena Israel akan membom rumah sakit. "Tapi para staff tetap bekerja dan berkata bahwa mereka tidak akan meninggalkan Gaza," tutur Reyhana.

Yang paling dikhawatirkan Reyhana adalah anak-anak Gaza yang menderita trauma usai perang. Menurutnya anak-anak itu membutuhkan terapi psikologis agar kelak bisa tumbuh dewasa dengan jiwa yang sehat. (ln/iol)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Berita Palestina

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang