Mengapa Memilih Golput?

Mashadi – Selasa, 13 Zulqa'dah 1429 H / 11 November 2008 11:25 WIB

Apakah pemilu di Indonesia yang akan memilih anggaota legislative dan presiden dan wakil presiden tahun 2009 nanti, memiliki tingkat partisipasi rakyat yang tinggi? Belum dapat diprediksikan. Karena dinamika politik akan terus berlangsung. Rakyat masih akan melihat kecenderungan politik beberapa bulan mendatang. Apakah pemilu mendatang akan memberikan harapan, solusi, dan perubahan yang diinginkan rakyat?

Tapi, berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan berbagai lembaga survey, menunjukkan tingginya golput (golongan putih), atau rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu. Faktor penyebab rendahnya tingkatnya partisipasi masyarakat terhadap pemilu ini dapat beragam. Umumnya, semakin besarnya tingkat ketidak percayaan masyarakat terhadap partai politik, tokoh politik, pemimpin partai politik, anggaota dewan, dan lembaga-lembaga ekskutif, yang terlibat dalam pengelolaan negara.

Sepanjang pemerintahan Presiden SBY/JK, masyarakat hanya disuguhi kondisi ekonomi yang terus memburuk, jumlah rakyat miskin yang bertambah, pengangguran memanjang, dan semakin banyaknya pemimpin politik, anggota dewan, pejabat yang masuk bui. Termasuk kasus moral. Seperti yang dilakukan oleh anggota PDIP Max Moein, yang menzinahi sekratrisnya, atau Yahya Zaini dengan Eva,yang foto telanjangnya beredar ke mana-mana lewat ponsel.

Di tambah lagi, kasus sogok dan suap, yang tak henti-henti, seperti yang dipertontonkan Hamka Yamdu dan Anthony Zaydra (anggota FPG) , yang sedang menunggu proses dibui oleh KPK, karena menerima gelontoran dana dari BI, sebanyak 31.5 milyar, yang dibagi ke seluruh anggota Komisi IX, konon termasuk Paskah Suzetta, yang sekarang menjadi Ketua Bapenas, menerima gelontoran dari BI. Belum usai peristiwa aitu, Agus Chondro (PDIP), mengaku menerima uang 500 juta rupiah, saat menjelang pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, Miranda Gultom.

Belum lagi, kasus sogok yang akan banyak menyeret fihak-fihak yang terkait, yaitu kasus pelabuhan Tanjung Api-Api di Sumatera Selatan. Seorang anggota DPR, yang paling nyohor, yang mempunyai istri seorang artis dangdut, Al-Amin (PPP), sekarang menghadapi proses pengadilan Tipikor, karena menerima sogok. Waktu di tangkap oleh tim KPK, ia berada di sebuah hotel mewah, Ritz Carlton, bersama dengan seorang wanita. Tapi, anggota dewan yang mempunyai nama yang bagus ‘Al-Amin’, tak sedikit pun merasa gundah, ketika digelandang oleh Tim KPK. Ia nampak tertawa-tawa.

Sepanjang pemerintahan SBY/JK, pemberantasan korupsi terus merambah ke mana-mana, termasuk menyeret Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, dan besannya SBY, yang ikut menjadi tersangka, Aulia Pohan, karena dia ikut mengambil keputusan yang mengeluarkan dana YPI, 100 milyar rupiah, yang dibagi-bagi ke mana-mana termasuk anggota legislative. Kasus BI ini, selain berkenaan dengan dana BLBI, yang melibatkan sejumlah tokoh di BI, juga ada kaitannya dengan pemilihan Deputi Gubernur BI, Miranda Gultom, pembuatan UU BI, yang menyeret sejumlah tokoh, termasuk anggota dewan.

Di Indonesia memang negeri ajaib. Korupsi sudah mewabah. Ahli kriminilogi, Mulyana W.Kusumah, masuk rumah prodeo, karena korupsi di KPU. Prof. Nazaruddin Syamsuddin, ahli politik,yang menjadi Ketua KPU, juga masuk bui. Karena korupsi.  Prof.Romli Atmasasmita, pakar dibidang Anti Korupsi, sekarang di tahan, karena dituduh korupsi, yang merugikan negara sebesar 400 milyar. Belum lagi, menteri, gubernur dan bupati, sekarang sudah banyak yang menjadi penghuni hotel prodeo. Mereka semuanya masuk bui, karena menggelapkan uang negara. Bahkan, ada yang lebih ajaib, di mana seorang Menteri Agama, Said Agil Munawar (zaman Mega), juga masuk bui, dan menjadi penghuni hotel prodeo, karena korupsi. Lengkap sudah. Hari-hari berikutnya masih akan banyak yang menyusul menjadi penghuni hotel prodeo. Karena mencuri uang negara dan menerima sogok.

Mungkin hal itu yang membuat masyarakat tak bergairah. Skeptis. Tak ada yang dapat diharapkan di pemilu 2009. Karena, dari gambaran yang ada, kasus moral, dan penyimpangan yang melibatkan seluruh pejabat, mantan pejabat, dan berbagai fihak telah meluas. Ini sebagai faktor pencetus, mengapa masyarakat menjadi apatis. Idealisme pemimpin politik, tokoh-tokoh politik, bergeser dari perjuangan membela rakyat kepada golongan partainya, dari golongan partainya kepada pribadinya.Umumnya, hanya ingin memperkaya diri sendiri, dan keluarganya, bukan untuk rakyat.

Tak ada yang sungguh-sungguh mempunyai komitment membela rakyat. Mereka hanya ramai di saat menjelang pemilu. Dengan obral janji. Lewat iklan, spanduk, dan berbagai aktivitas sosial. Tapi, langkah-langkah yang sifatnya difinitip (pasti) yang tujuan untuk mengubah nasib rakyat, sangatlah kurang, tidak jelas. Mereka hanyalah pandai main kata-kata di iklan, spanduk, wacana, tapi dalam bentuk konkritnya, minus. Jadi, partai politik di Indonesia itu, modalnya hanya pasang iklan di media, bikin spanduk, dan memberikan santunan, tapi tak ada kerja besar yang mereka lakukan uantuk rakyat. Wajar masyarakat menjadi apatis.

Gambaran golput merata, di DKI, golput mencapai 37%, Jabar, golput mencapai 40%, Jateng, golput mencapai 45.25%, Jatim, golput di putaran kedua mencapai 34-40%, Sumut, golput mencapai 40%, Sumsel, golput mencapai 29%, Sumbar golput mencapai 35,70%, Riau, golput mencapai 40%, Kaltim, golput mencapai 42-50%, di putaran kedua, di Kalbar, mahasiswa Kalbar menyerukan golput, Bali, golput mencapai 25%, dan Sulsel, pilkada di wilayah itu dimenangkan golput, karena Yasin Limpo, yang menang hanya memperoleh suara, 1.432.572 (39.53%), sedangkan yang tidak memilih, sebesar 1.596.825. Dan usai pengumuman oleh KPUD Sulsel itu, seorang anak muda, menyampaikan kepada ibunya : “Mak, kita menang pemilu!”, ujar anaknya. Maksudnya, tak lain adalah yang menang di Sulsel adalah golput. Golput yang rendah di zaman Pemilu 1955, karena rakyat tak mengerti.

Jadi golput yang pernah digagas Arief Budiman, yang sekarang berada di Australia, di tahun 1971, tak lain, sebuah bentuk protes, dan pengingkaran terhadap rejim, dan partai politik, yang tak dapat mengartikulasikan atau memperjuangkan kehendak rakyat. Apakah jumlah suara golput di pemilu 2009 nanti bertambah besar? Wallahu’alam.

Editorial Terbaru

blog comments powered by Disqus