Menghadapi Krisis Dengan Iman

Mashadi – Kamis, 29 Zulqa'dah 1429 H / 27 November 2008 13:22 WIB

Banyak anggota masyarakat yang ‘oleng’ biduk kehidupannya, ketika menghadapi krisis, yang terus mendera mereka. Kehilangan kesadarannya yang inherent, bahwa kehidupan manusia itu, sifatnya terbatas dan sementara. Dan, sesungguhnya tak ada yang abadi kehidupan di dunia ini. Kesadaran ini, yang kadang-kadang terkikis, ketika seseorang dihadapkan oleh fakta kehidupan yang sama sekali, tak pernah diprediksikan sebelumnya.

Bagaimana mungkin segalanya bisa terjadi? Misalnya, seorang yang pernah mendapatkan predikat orang ‘terkaya’ di Indonesia, tiba-tiba dirinya dihadapkan pada kenyataan yang pahit, asset kekayaannya yang bernilai ratusan trilyun, tiba-tiba punah, habis di bursa saham, dan sisanya tak berharga lagi.

Di dalam kondisi yang sangat pahit, dan asset kekayaannya yang habis itu, masih tersisa utang-utang yang tak ternilai jumlahnya. Belum lagi tuntutan masyarakat yang pernah dirugikan, akibat ekses dari usahanya, yang salah urus, mengakibatkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Inilah perubahan yang tidak pernah diprediksi. Termasuk, kondisi ekonomi global yang mengalami krisis, yang hebat, yang mempengaruhi terhadap bisnis yang dijalaninya. Inilah sebuah episode kehidupan. Dan, semuanya tak ada yang langgeng di dalam kehidupan ini.

Ada orang yang sangat dihormati, karena menjadi tokoh ‘bisnis’ yang sangat terkemuka, memperoleh penghargaan berbagai kalangan. Pemikirannya, gagasannya, langkah-langkah ‘bisnisnya’ diikuti oleh banyak kalayak, memiliki magnitude (daya tarik) yang amat luar biasa.

Ketika, krisis datang, dan kemudian usahanya yang menjadi tulang punggung ikut ‘ambruk’, bahkan dia bukan hanya kehilangan penghormatan, penghargaan, daya tarik, atau asset kekayaan, yang telah dia bangun, tapi dia menghadapi kehidupan yang lebih menyedihkan, ketika tidak mendapatkan kepercayaan lagi, diantaranya orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Mungkin, anak-anaknya, istrinya,saudaranya, dan orang terdekat lainnya. Bahkan, memupus harapan-harapan yang mungkin pernah dia gagas, di mana ia ingin menjadi tokoh yang lebih penting lagi.

Kondisi seperti itu, bisa terjadi dan dialami oleh siapa saja. Baik secara kolektif ataupun secara individual. Eksesnya, secara individual biasanya tidak hanya berdampak terhadap individu yang bersangkutan. Tentu, tergantung persepsi dan kemampuan seseorang menerima dan memahami peristiwa-peristiwa yang ada.

Ada orang yang secara individu memiliki kemampuan cukup baik, khususnya dalam menghadapi sebuah peristwa, dan mempersepsinya dengan proporsional, atau seimbang, sehingga tidak menimbulkan dampak negative dari setiap peristiwa yang mereka alami. Namun, tidak sedikit orang yang gagal mempersepsi dan memahami setiap peristiwa dengan baik.

Kemudian, mempunyai dampak yang serius bagi kehidupannya secara individual, ataupun lingkungannya. Setiap peristwa itu akan menguji individu-individu, yang ada, apakah ia akan tetap eksis sebagai manusia, khususnya dalam menghadapi peristiwa yang ada, atau sebaliknya ia kehilangan eksistensi, dan menjadi tenggelam bersama waktu.

Dimensi krisis yang silih berganti terus berlangsung dalam kehidupan manusia. Tak pernah henti. Perisitwa-peristiwa yang besar, selalu melahirkan jenis manusia, yang memiliki karakter tertentu, yang lebih kuat, dan berani memandang dan menghadapi kehidupannya lebih optimis. Tahun, 1930, terjadi depressi ekonomi yang lebih hebat, yang dialami negara-negara Barat, jutaan orang mengantri makanan, dan mereka tidak memiliki penghasilan. Mereka hanya mengharapkan ‘catu’ dari pemerintah.

Dalam waktu singkat kehidupan berubah secara ekstrim, yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sama halnya, seperti yang dialami oleh bangsa Amerika, saat ini. Mereka kehilangan supremasi sebagai kekuatan global, sebagai adidaya (superpower), yang tersisa hanyalah harapan, yang dikumandangkan Obama. Mungkin satu-satunya yang masih akan memberikan orang tetap bisa eksis, hanyalah adanya sikap optimism dan adanya harapan.

Harapan, yang dimaknai harapan masa depan, yang tak mungkin, dapat dimengerti dan dipahami, bagi orang yang menganut paham orientasi pada nilai kebendaan atau materialisme. Harapan, kehidupan di dunia ini, menjadi relative, yang bermakna tidak selamanya. Tidak ada yang abadi di dunia. Dimensi krisis ini, harus disikapi dengan penuh optimisme, karena sesungguhnya kehidupan ini, selalu dipergilirkan tidak ada yang abadi.

Tak ada yang kekal, selamanya yang akan dialami seseorang. Tidak akan selamanya orang akan menderita atau mengalami penderitaan secara permanent. Kalau, seorang menghadapi penderitaan, dan sabar, dan kemudian perilakunya tidak menjadi anomali, dan pasti dia akan tetap eksis dengan segala persoalan dan problem yang dihadapinya, maka ia akan menjadi berhasil. Setidaknya, dalam menghadapi situasi krisis.

Allah Azza Wa Jalla berfirman : “Katakanlah (Muhammad).Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engakaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuautu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan, Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan”. (al-Imran :26-27).

Sebagai orang mukmin mensikapi kehidupan ini,selayaknya kita hanya berharap pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla, karena hanya kepada Dialah, kita berhak berharap,dan tidak kepada siapapun. Inilah yang menjadi jalan menuju optimisme dalam menghadapi kehidupan, di tengah-tengah badai krisis, yang melanda kehidupan kita. Wallahu ‘alam.

Editorial Terbaru

blog comments powered by Disqus