Erdogan, Islamisasi, dan Sekularisme
Eramuslim.com - Tahun 1924, setelah Badan Legislatif Turki mengangkat Mustafa Kamal Attaturk menjadi Presiden Turki, secara resmi Kekhalifahan Turki Ustmani (Ottoman Empire) dihapus. Tidak hanya menghapus kekhalifahan, Attaturk juga menghapus syariah Islam.
Dilanjutkan dengan mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss, menutup sejumlah masjid dan madrasah, mengubah azan ke dalam bahasa Turki, melarang pendidikan agama di sekolah umum dengan dalih “membersihkan Islam dari campur tangan politik” , melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah, mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma, pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.
Attaturk merubah Turki menjadi sekuler, tapi sekulerisme yang sangat ekstrim dan represif, belum pernah dipraktekkan di negara lain di muka bumi. Sebab, belum pernah ada negara yang melarang azan dengan bahasa Arab. Mungkin bisa diartikan bukan sekulerisme tapi memang Anti-Islam.
Lebih dari itu, Dewan Syariah dihapuskan, sumbangan keagamaan disita dan diletakkan di bawah kontrol pemerintah. Pondok-pondok sufi secara paksa ditutup, dan para hakim hukum Islam dipecat karena semua pengadilan syariah ditutup.
Ratusan masjid dihancurkan dan beralih fungsi menjadi pub dan kandang kuda
oleh penguasa Turki pada era 1923 hingga 1950.
Dalam sebuah diskusi lulusan Turki pernah bercerita, di masa rezim Sekuler Kemalis untuk berdakwah di kota-kota dilakukan bersembunyi-sembunyi seperti di dalam Taksi dengan cara berbincang-bincang, sementara di desa-desa bisa sedikit lebih longgar dilakukan di kebun-kebun atau ladang.
Kondisi Keislaman di Turki dapat sedikit demi sedikit berubah, ketika beberapa kali kekuasaan berhasil di rebut kaum Islamis hingga masuk ke zaman Erdogan.
Kekuasan menjadi sangat efektif melepas belenggu sekulerisme ekstrim dan represif di Turki, sehingga azan bisa kembali berkumandang dengan bahasa Arab, sekolah agama bisa hidup kembali, kajian ilmu agama bisa bebas dilakukan, jilbab diperbolehkan di ruang publik, birokrasi, dan politik.
Bahkan, Turki hari ini bisa berperan dan berkontribusi untuk dunia Islan dalam kancah Internasional di segala bidang, seperti sosial, dakwah, budaya, politik, dan militer.
Maka, sangat disayangkan bila sebagian umat Islam mengusung jargon “Tinggalkan Politik, sibukkan dengan majelis Ilmu” sembari menuding gerakan-gerakan politik umat Islam hanya bertujuan mencari kekuasaan duniawi, bukan menegakkan Tauhid.
Kalau seandainya mereka hidup di era kekuasaan Kemalis di Turki, tentu mereka sadar bahwa duduk-duduk di majelis Ilmu saja tidak cukup untuk merubah keadaan, bahkan Majelis ilmunya saja dilarang. Perlu dilakukan terobosan perjuangan, diantaranya melalui jalur kekuasaan.
Padahal, bila mereka huznuzhon dulu, mereka pasti tahu bahwa politik Islam justru dalam rangka menegakkan tauhid dan menjaga agama itu sendiri.
# Senjata Sekulerisme
Perjuangan melepas belenggu sekulerisme ekstrim dan Islamisasi di Turki bukanlah perkara mudah dan berlangsung mulus, karena setiap upaya merubah sedikit saja kebijakan represif di sana harus berhadapan dengan penjara seperti yang dialami Ulama Fenomenal Turki, Badiuzzaman Said Nursi dan Erdogan Muda. Menghadapi tiang gantungan, seperti dialami Presiden Turki Adnan Menderes, dan mengalami kudeta seperti dialami Partai-partai Islamis macam Refah.
Merenungi hal tersebut, Erdogan muda sekeluarnya dari penjara memutar otak untuk melakukan Islamisasi melalui Kekuasaan, dia mengambil jalan menjadikan sekulerisme sebagai senjata untuk melakukan Islamisasi di Turki, senjata makan tuan bagi sekulerisme itu sendiri. Erdogan menghindari penggunaan jargon-jargon Islam, tapi menggunakan jargon-jargon sekuler, tapi substansi kebijakan ia arahkan pada Islamisasi.
Jadi, setiap sumpah jabatan tidak heran Erdogan menyatakan setia pada sekulerisme, karena jalan “Kuda Troya Sekulerisme” yang memang ia ambil.
Akhir kata, merubah kondisi sekulerisme Turki dulu dianggap mustahil, karena memang sampai sekarang juga secara formal masih cap sekuler. Tapi, kalangan ulama dan Islamis di sana tidak putus asa, perlahan tapi pasti sekulerisme di runtuhkan salah satunya melalui jalur Kekuasaan.
Kekuasaan untuk kepentingan Islam itu sendiri, bukan untuk duniawi seperti yang dituduhkan oleh orang-orang yang membatasi diri sibuk di majelis Ilmu, tapi kadang gatal ngomentari politik kaum Islamis, ya kaum Islamis, karena politik kaum sekuler aman dari nyinyiran mereka.[kk]
*Penulis: Bilal Ramonez, pemerhati Turki